Surabaya, IDN Times - Kesadaran masyarakat Jawa Timur (Jatim) terhadap investasi dinilai masih rendah. Dari total sekitar 44 juta penduduk Jatim, kurang dari 20 persen yang menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup keuangan mereka.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jatim, Saiful Islam, usai membuka kegiatan Edukasi Pembiayaan APBN dan Sosialisasi Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 di Aula Majapahit Kanwil DJPb Jatim, Kamis (5/2/2026).
“Kalau melihat potensi penduduk Jawa Timur yang besar, porsinya masih kecil. Saya kira yang sudah menjadikan investasi sebagai gaya hidup itu kurang dari 20 persen,” ujar Saiful.
Menurut Saiful, rendahnya budaya investasi tersebut menjadi tantangan sekaligus alasan kuat bagi pemerintah untuk terus melakukan edukasi dan literasi keuangan secara berkelanjutan. Ia menegaskan, investasi tidak harus dimulai dengan nominal besar, melainkan bisa dilakukan secara bertahap, rutin, dan terencana. “Yang penting mulai. Jumlahnya bisa kecil, tapi konsisten. Dan jangan lupa pilih instrumen yang aman, risikonya bisa dikendalikan. Surat utang negara itu risikonya sangat rendah karena dijamin negara,” katanya.
Saiful menjelaskan, melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Kementerian Keuangan terus mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan nasional melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Salah satunya dengan penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 yang dapat dibeli oleh investor perorangan melalui perbankan dan mitra distribusi resmi.
“Tujuan edukasi ini dua. Pertama, membangun kesadaran pentingnya investasi untuk pembangunan Indonesia. Kedua, memperkenalkan pilihan instrumen investasi yang aman, yakni surat utang negara,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, perwakilan DJPPR Kementerian Keuangan, Chandra Wibowo, menyampaikan bahwa penerbitan SBN Ritel merupakan bagian dari strategi pembiayaan APBN yang prudent sekaligus upaya memperkuat basis investor domestik.
“Pembiayaan APBN tidak hanya untuk menutup defisit, tetapi juga sebagai instrumen manajemen risiko fiskal. Partisipasi masyarakat melalui SBN Ritel seperti ORI029 memperkuat pembiayaan domestik dan menjaga kesinambungan APBN,” kata Chandra.
Sementara itu, Analis Keuangan Negara Ahli Muda Direktorat Surat Utang Negara, Bahal Anugrah Pranata, menjelaskan ORI029 memiliki kupon tetap, dijamin negara, dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder. ORI029 tersedia dengan tenor tiga dan enam tahun, sehingga memberikan fleksibilitas bagi investor ritel.
“ORI029 aman, terjangkau, dan cocok untuk membangun kebiasaan investasi yang sehat. Ini bukan hanya soal imbal hasil, tapi juga bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional,” kata Bahal.
Edukasi ini juga diselenggarakan di tengah kondisi fiskal Jatim yang hingga 31 Desember 2025, realisasi pendapatan negara di Jatim mencapai Rp253,32 triliun atau 88,97 persen dari target. Sementara realisasi belanja negara sebesar Rp126,44 triliun, sehingga menghasilkan surplus anggaran regional sebesar Rp126,88 triliun.
