Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kota Batu Kian Panas, Ternyata ini Sebabnya
Pemandangan kota Batu dari Golden Tulip Hollan Resort Hotel (IDN Times/Adyaning Raras)
  • DLH Kota Batu melaporkan penurunan Indeks Kualitas Udara dari 83,95 menjadi 73,10 pada 2026, menandakan kondisi udara di kota wisata ini makin memburuk.
  • Penyebab utama turunnya kualitas udara adalah pembakaran sampah mandiri, peningkatan emisi kendaraan saat musim liburan, serta alih fungsi lahan hijau menjadi bangunan.
  • DLH menegaskan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mengendalikan polusi, menata lalu lintas, menghentikan pembakaran sampah, dan memperbanyak ruang hijau di Kota Batu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Batu, IDN Times - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu baru saja merilis turunnya Indeks Kualitas Udara (IKU). Jadi inilah penyebab Kota Batu tidak lagi sesejuk dulu lagi.

1. Indeks Kualitas Udara di Kota Batu mengalami penurunan

Alun-alun Kota Batu. (IDN Times/Reza iqbal)

Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni menyampaikan jika IKU di Kota Batu mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2025. Ia mengungkapkan jika pada 2025 IKU di Kota Batu mencapai 83,95. Kemudian pada 2025 mengalami penurunan menjadi 73,10.

"Saat ini tantangan menjaga kualitas udara di Kota Batu memang semakin kompleks. Sayangnya inilah yang membuat kita tidak bisa mencapai target IKU," terangnya pada Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan jika penghitungan IKU ini menggunakan metode active sampler untuk mengukur polutan secara akurat, caranya dengan pengambilan sampel selama 24 jam di 8 titik yang berbeda. Kedelapan titik ini adalah lokasi sumber pencemaran udara di Kota Batu.

2. Pembakaran sampah secara mandiri jadi masalah utama IKU di Kota Batui

Ilustrasi bakar sampah. (Pixabay/ualmafruhah)

Dian mengungkapkan jika penyebab turunnya IKU di Kota Batu cukup kompleks karena todak hanya karena 1 faktor saja. Ia menyebutkan ada beberapa faktor seperti perubahan iklim, gas rumah kaca, sampai gas methan.

"Tapi yang masih jadi faktor paling berpengaruh adalah bakar-bakar sampah. Kemudian asap kendaraan bermotor, apalagi saat musim liburan atau saat akhir pekan jumlah kendaraan yang masuk Kota Batu kan meningkat," bebernya.

Ia juga mengungkapkan jika pembukaan lahan untuk bangunan juga jadi pengaruh yang tidak kalah penting. Pasalnya tanah yang awalnya merupakan lahan terbuka hijau disulap jadi bangunan beton.

3. DLH Kota Batu mengaku tidak bisa sendirian mengatasi masalah IKU di Kota Batuk

Menteri LHK, Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau Arboretum Sumber Brantas, Kota Batu. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Lebih lanjut, Dian mengakui jika DLH Kota Batu tidak bisa bekerja sendirian untuk mengatasi masalah kualitas udara di kota wisata ini. Perlu ada kerjasama dengan lintas sektor agar masalah ini bisa teratasi.

"Sinergi lintas sektor perlu dilakukan agar persoalan ini bisa diselesaikan. Pertama soal penataan lalu lintas, pengendalian pembakaran sampah, sampai mengembalikan lahan terbuka hijau dengan penanaman kembali pohon-pohon," pungkasnya.

Editorial Team