Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kemenag Jatim Pantau Hilal di 28 Titik
Pemantauan hilal di Bukit Condrodipo, Gresik, Sabtu (29/3/2025). (Dok. Istimewa)
  • Kemenag Jatim menggelar rukyatul hilal di 28 titik se-Jawa Timur untuk menentukan awal Syawal 1447 H pada Kamis, 19 Maret 2026.
  • Pengamatan dilakukan sejak matahari terbenam dengan melibatkan Kemenag, hakim agama, ormas Islam, BMKG, ahli falak, perguruan tinggi, dan pesantren.
  • Hasil rukyat dari seluruh titik akan dilaporkan ke Sidang Isbat pusat sebagai dasar penetapan awal Syawal, meski cuaca menjadi tantangan utama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times – Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Timur (Jatim) menggelar rukyatul hilal penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah di 28 titik yang tersebar di berbagai kabupaten/kota, Kamis (19/3/2026).

Pengamatan hilal dilakukan sejak matahari terbenam hingga beberapa saat setelahnya di lokasi-lokasi strategis dengan ufuk barat terbuka. Hasil dari masing-masing titik rukyat akan dilaporkan secara berjenjang sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat Kemenag.

Berdasarkan data Tim Kemasjidan dan Hisab Rukyat Kanwil Kemenag Jatim, 28 titik pengamatan tersebut tersebar di sejumlah daerah, antara lain Kota Blitar, Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Jember, Sampang, Ngawi, Malang, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, Ponorogo, Bangkalan, Kediri, Pasuruan, Situbondo, Pamekasan, Sidoarjo, hingga Bojonegoro.

Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar, mengatakan puluhan titik tersebut dipilih secara selektif untuk meningkatkan peluang visibilitas hilal.

“Rukyatul hilal dilaksanakan di 28 titik untuk memastikan pengamatan lebih optimal dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan syar’i,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan rukyat melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kementerian Agama, hakim Pengadilan Agama, organisasi masyarakat Islam, BMKG, ahli falak, hingga perguruan tinggi dan pondok pesantren.

Bahtiar menambahkan, hasil rukyat dari seluruh titik akan menjadi salah satu dasar penting dalam penetapan awal Syawal bersama metode hisab, sesuai kriteria imkanur rukyat MABIMS.

“Kami akan melaporkan hasil dari 28 titik ini sebagai bahan Sidang Isbat di tingkat pusat,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan rukyat masih menghadapi tantangan, terutama faktor cuaca seperti mendung dan awan tebal yang dapat menghambat visibilitas hilal.

Editorial Team