Surabaya, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mewaspadai potensi kemarau panjang 2026 yang diprediksi lebih ekstrem dan berdampak luas terhadap ketersediaan air hingga sektor pertanian.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, menyebut berdasarkan proyeksi BMKG, musim kemarau akan mulai terjadi pada Mei di 56,9 persen wilayah Jawa Timur. Puncaknya diperkirakan berlangsung pada Agustus dengan cakupan 70,9 persen wilayah, bahkan periode kritis bisa meluas hingga 72,5 persen wilayah. “Durasi kemarau tahun ini diprediksi cukup panjang, mencapai 220 hingga 240 hari di sejumlah zona musim. Ini berarti tekanan kekeringan akan lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya dalam Rakor Penanganan Dampak Hidrometeorologi, Selasa (7/4/2026).
Data Pemprov Jatim menunjukkan, dampak kemarau akan signifikan terhadap sektor pertanian. Pada awal musim kemarau, sekitar 56,2 persen lahan sawah diperkirakan terdampak, dan meningkat menjadi 76,7 persen atau sekitar 921 ribu hektare saat puncak kemarau.
Kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat total luas lahan baku sawah di Jawa Timur mencapai lebih dari 1,2 juta hektare, dengan sekitar 40,4 persen merupakan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Selain berdampak pada pertanian, kemarau panjang juga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Khofifah menegaskan, penurunan sumber air dan mengeringnya vegetasi menjadi faktor utama pemicu kebakaran.
“Ketika kekeringan terjadi, risiko karhutla ikut meningkat. Ini harus diantisipasi sejak dini,” tegasnya.
Sebagai langkah mitigasi, Pemprov Jatim menyiapkan berbagai strategi, mulai dari penguatan sistem peringatan dini, distribusi air bersih, pembangunan sumur bor, hingga optimalisasi waduk dan embung.
Di sisi lain, pemerintah tetap menargetkan luas tambah tanam padi mencapai lebih dari 2,42 juta hektare pada 2026. Karena itu, pengelolaan air dinilai menjadi kunci utama menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman kemarau panjang. “Mitigasi kekeringan dan manajemen air harus diperkuat agar ketahanan pangan tetap terjaga,” pungkasnya.
