Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jatim Belum Bisa Move On dari Hujan, Kamis Siap Disertai Petir
Ilustrasi cuaca ekstrem. (IDN Times/Mardya Shakti)
  • BMKG Juanda memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berpotensi hujan ringan sepanjang 11–17 Mei 2026, dengan kemungkinan hujan disertai petir pada Kamis akibat gangguan atmosfer.
  • Fenomena MJO, Kelvin, dan Rossby diprediksi melintasi Jatim pada 14–17 Mei 2026, mendukung pembentukan awan hujan meski monsun timuran mulai dominan membawa udara lebih kering dari Australia.
  • BMKG mencatat ENSO dan IOD dalam kondisi netral, namun anomali suhu laut di sekitar Jatim masih mendukung uap air; masyarakat diimbau waspada terhadap perubahan cuaca selama masa peralihan musim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Timur (Jatim) masih berpotensi diguyur hujan ringan selama sepekan ke depan. Bahkan, hujan disertai petir diprediksi terjadi pada Kamis (14/5/2026).

Berdasarkan prospek cuaca mingguan BMKG Juanda periode 11-17 Mei 2026, hujan ringan diprakirakan terjadi mulai Senin hingga Minggu. Sementara potensi hujan disertai petir diprediksi muncul pada Kamis seiring adanya gangguan atmosfer yang melintasi wilayah Jatim.

Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendy Irawadi mengatakan, meski monsun timuran mulai dominan dan menandai masuknya musim kemarau, peluang hujan masih cukup tinggi akibat aktivitas gelombang atmosfer.

"Terdapat gangguan gelombang atmosfer MJO, Kelvin, dan Rossby yang diprakirakan melintasi Jawa Timur pada 14 hingga 17 Mei 2026,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Menurut Rendy, Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif pada fase tiga dalam sepekan ke depan. Kondisi itu mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Jatim.

Di sisi lain, analisis angin lapisan 3.000 feet menunjukkan arah angin di Jawa Timur didominasi dari timur dengan kecepatan maksimum sekitar 20 knot. Kondisi tersebut menandakan monsun timuran mulai menguat dengan karakter udara lebih kering dari Benua Australia.

"Monsoon timuran mulai dominan dan udara relatif lebih kering dari Australia,” katanya.

BMKG juga mencatat fenomena ENSO atau El Niño-Southern Oscillation berada dalam kondisi netral dengan indeks NINO 3.4 sebesar +0,39. Sementara Indian Ocean Dipole (IOD) juga terpantau netral dengan indeks DMI +0,01. Kedua fenomena itu disebut belum memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan hujan di Jatim.

Meski demikian, anomali suhu muka laut di sekitar perairan Jawa Timur berkisar minus 2 hingga 1,5 derajat celsius yang dinilai masih mendukung penambahan massa uap air, terutama di wilayah Selat Madura.

BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca selama masa peralihan musim. Warga diminta menjaga kesehatan, menggunakan pelindung kulit saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengantisipasi potensi kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.

"Masyarakat diimbau terus memperbarui informasi cuaca dari BMKG sebelum beraktivitas di luar ruangan demi kenyamanan dan keselamatan,” pungkas Rendy.

Editorial Team