Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260114-WA0115.jpg
Pedagang daging di Pasar Tambahrejo Surabaya, Umik Wahid (IDN Times/Khusnul Hasana)

Intinya sih...

  • Jagal dan pedagang daging RPH Surabaya mogok kerja sebagai protes relokasi RPH ke Tambak Osowilangun, Benowo.

  • Pedagang pasar Tambahrejo, Umik Wahid, terdampak aksi mogok karena tak bisa membeli daging dari RPH Surabaya.

  • Umik memilih membeli daging dari luar kota seperti Kedurus, Krian, dan Pulau Madura karena harganya lebih murah daripada di RPH Surabaya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Gelombang protes terhadap penolakan relokasi Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dari Jalan Pegirian, Kecamatan Semampir, Surabaya ke Tambak Osowilangun, Kecamatan Benowo terus terjadi. Aksi protes yang diwarnai dengan mogok kerja oleh para jagal dan pedagang daging RPH ini berdampak terhadap suplai daging di Surabaya.

Salah satu pedagang pasar di Pasar Tambahrejo Surabaya, Umik Wahid (71) ikut terdampak terhadap aksi mogok. Biasanya, setiap hari Umik kulakan 1 kuintal daging dari RPH Surabaya. Daging itu dijual di pasar dengan harga Rp120 perkilogram.

Ia mengaku semenjak ada aksi mogok, beberapa hari terakhir ini pihaknya tak membeli daging dari RPH Surabaya. Padahal, ia merupakan mitra dari RPH Surabaya. "Kalau menunggu dari RPH saya tidak jual-jual," ujarnya, Rabu (14/1/2026).

Sebagai alternatif, Umik memilih membeli daging dari luar kota lain, seperti di Kedurus dan Krian, Kabupaten Sidoarjo,dan terkadang membeli dari Pulau Madura. "Sekarang saya belinya di Krian, Kedurus (Kabupaten Sidoarjo) dari Madura, ya pokoknya yang ada dimana saya ambil," ungkap.

Karena jaraknya cukup jauh, Umik biasanya akan menintip pada saudanya yang juga sesama penjual daging. "Ya kalau saudara ambil daging, saya biasanya minta (nitip membeli)," tutur Umik.

Umik mengaku, harga daging dari luar kota relatif lebih murah jika dibandingkan dengan RPH Surabaya. Bahkan, ditambah biaya transportasi, harga daging di luar kota tetap lebih murah.

"Kalau dari Kedurus atau Krian itu Rp96 perkilogramnya, kalau di RPH Surabaya bisa Rp110 perkilogramnya," ujarnya.

Sehingga, Umik tak mengapa bila harus kulakan daging ke luar kota. Terlebih, keuntungannya tak jauh berbeda jika dibandingkan dengan membeli di RPH Surabaya yang jaraknya lebih dekat.

"Gak papa ambil jauh, yang penting di sana (luar kota) ada, kalau di sini (RPH) gak ada nanti gak jual-jual," jelasnya.

Bahkan menurutnya, harga daging di RPH Surabaya disebutnya paling mahal dari tempat lain. "Di situ (RPH Surabaya) harganya paling mahal," ungkapnya.

Ia khawatir harga daging akan semakin mahal bila RPH Surabaya dipindah ke tempat yang lebih jauh. Sebab, ada biaya tambahan transportasi. "Nanti pindah lagi paling mahalan lagi, kalau pindah malah tambah kecewa," sebutnya.

Ia pun tak terlalu peduli dengan pemindahan RPH Surabaya. Bila nantinya RPH Surabaya dipindah dan harga daging makin mahal, maka Umik akan memilih membeli daging dari luar RPH Surabaya.

"Ya udah, biar pindah-pindah enggak pindah terserah, saya ambil mana yang ada gitu," pungkas dia.

Editorial Team