Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260128-WA0098.jpg
Para penerima GRS 2025 dari ITS bersama Ketua Asosiasi Inventor Indonesia. (Dok. ITS)

Intinya sih...

  • ITS mendapatkan dana riset inovasi sawit senililai Rp10 miliar dari BPDP Sawit.

  • Dana tersebut mengembangkan lima teknologi strategis, termasuk Gerobak Crawler Bertenaga Listrik DC dan Digital Twin multifungsi.

  • Inovasi-inovasi tersebut siap mendorong transformasi industri kelapa sawit Indonesia menuju arah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times -Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mendapatkan dana riset inovasi sawit senililai Rp10 miliar. Dana tersebut didapatkan dalam ajang Grant Riset Sawit (GRS) 2025 yang diselenggarakan oleh BPDP Sawit.

Total pendanaan lebih dari Rp10 miliar itu mengembangkan lima teknologi strategis yang siap mendorong transformasi industri kelapa sawit Indonesia menuju arah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Salah satu inovasi tersebut adalah Gerobak Crawler Bertenaga Listrik DC yang dikembangkan oleh tim Dr Lila Yuwana dari Departemen Fisika. Teknologi ini dirancang untuk membantu proses pengangkutan tandan buah segar (TBS) di medan ekstrem perkebunan rakyat dengan sistem roda rantai serta tenaga listrik ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan produktivitas dan mengurangi emisi karbon.

Menurut Lila, alat hasil pengembangan timnya tersebut dirancang untuk membangtu mengurangi beban kerja fisik petani sekaligus menekan emisi karbon di sektor perkebunan. “Harapannya, produktivitas Perkebunan sawit bisa lebih meningkat tanpa mengorbankan aspek lingkungan nantinya,” papar Lila.

Inovasi berikutnya datang dari Moch Solichin PhD dari Departemen Teknik Mesin, melalui penerapan Digital Twin multifungsi untuk pemantauan kematangan buah sawit dan kinerja mesin secara real-time. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini kondisi operasional sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan keandalan proses produksi.

“Dengan Digital Twin, pelaku industri dapat mengambil keputusan berbasis data aktual, baik untuk menentukan waktu panen maupun perawatan mesin, sehingga efisiensi dan keandalan produksi dapat ditingkatkan,” jelasnya.

Sementara itu, Hepi Hapsari PhD dari Departemen Teknik Geomatika bersama Dr Kelly Rossa dari Departemen Teknik Informatika, mengembangkan sistem estimasi produksi kelapa sawit berbasis drone multispektral, sensor Volatile Organic Compound (VOC), dan citra satelit. Teknologi ini mampu memetakan kesehatan tanaman serta memperkirakan potensi panen secara akurat dari udara, mendukung penguatan ketahanan pangan nasional.

“Teknologi ini memungkinkan prediksi produksi yang lebih presisi dari udara, sehingga dapat membantu perencanaan panen dan mendukung ketahanan pangan nasional,” ungkap Hepi.

Pada aspek keselamatan kerja, ITS menghadirkan ARECAVERSE, sebuah inovasi safety metaverse yang dipimpin Dr Adithya Sudiarno dari Departemen Teknik Sistem dan Industri. Platform ini dirancang sebagai sarana pelatihan keselamatan kerja berbasis virtual untuk menekan angka kecelakaan kerja di perkebunan sawit, sekaligus mendukung pemenuhan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Melalui simulasi virtual yang realistis, pekerja dapat dilatih menghadapi risiko kerja tanpa harus terpapar bahaya secara langsung.

“Ini adalah langkah strategis untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan,” tuturnya.

Adapun pada ranah tata kelola dan lingkungan, Endah Rokhmati PhD dari Departemen Matematika mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Sawit berbasis data untuk perhitungan kredit karbon dan premi asuransi. Sistem ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta daya saing industri sawit Indonesia di tingkat global.

“Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sawit, sekaligus membuka peluang insentif ekonomi melalui kredit karbon,” jelas Endah.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Eddy Abdurrachman mengapresiasi capaian ITS yang dinilai berhasil membawa riset hingga tahap penerapan industri. Ia mengungkapkan bahwa tiga peneliti ITS berhasil masuk dalam daftar 20 riset tahap pilot/komersial, menandakan kesiapan inovasi ITS untuk diimplementasikan di sektor industri sawit nasional. Ketiga inovasi yang siap komersial tersebut meliputi Gerobak Elektrik dari Dr Lila Yuwana, Egrek Digital dari Dr Erwin Widodo, dan Drone Penyerbukan dari Prof Nur Cahyadi.

Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany PhD mengatakan, pendanaan tidak terlepas dari strategi pendampingan intensif dan fokus pada hilirisasi riset. “Kami memastikan sejak awal bahwa riset tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap dikomersialisasikan dan memberikan dampak nyata bagi industri dan masyarakat,” tegasnya.

ITS menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi berdampak yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Editorial Team