Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
20260211_155600.jpg
Seorang pengguna laptop AMD mencoba fitur AI offline. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Intinya sih...

  • AMD menekankan pentingnya pemrosesan AI secara lokal (on device/offline) untuk keamanan data dan tata kelola etika.

  • Perangkat dengan dukungan Neural Processing Unit (NPU) memungkinkan beban kerja AI diproses langsung di perangkat tanpa mengirim data ke server eksternal.

  • Kolaborasi dengan perusahaan keamanan siber dan pembatasan dalam kerja sama pengembangan AI menjadi fokus AMD dalam mengatasi isu keamanan dan etika.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif turut memunculkan kekhawatiran soal keamanan data dan etika penggunaan teknologi tersebut. Menanggapi hal itu, AMD menekankan pentingnya pemrosesan AI secara lokal (on device/offline) serta penguatan tata kelola etika dalam pemanfaatannya.

Perwakilan AMD menyampaikan bahwa literasi AI tidak hanya menyangkut kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pemahaman soal risiko, keamanan informasi, dan batasan etis.

Product Marketing Manager AMD, Donnie Brahmandika, menjelaskan bahwa perangkat dengan dukungan Neural Processing Unit (NPU) memungkinkan beban kerja AI, termasuk fitur keamanan, diproses langsung di perangkat tanpa harus mengirim data ke server eksternal.

Menurutnya, pendekatan ini dapat membantu meminimalkan potensi risiko kebocoran data karena pemrosesan dilakukan secara lokal. “Untuk fitur seperti anti-phishing maupun deteksi konten tertentu, pemrosesannya bisa dilakukan di perangkat,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).

Ia juga menyebut bahwa kolaborasi dengan perusahaan keamanan siber menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perlindungan yang lebih terintegrasi. Dengan pemrosesan yang dialihkan ke NPU, fungsi keamanan tidak lagi membebani CPU atau GPU secara berlebihan.

Selain isu keamanan, AMD juga menyinggung aspek etika dalam pengembangan dan penggunaan AI. Donnie mencontohkan bahwa dalam kerja sama dengan pengembang perangkat lunak, terdapat batasan tertentu agar sistem tidak menghasilkan konten yang berpotensi melanggar hak cipta.

“Ada pembatasan supaya tidak melanggar peraturan, termasuk soal copyright,” katanya.

Consumer Business Development Manager AMD Indonesia, Armawati Cen, menambahkan bahwa sebagai penyedia perangkat keras, perusahaan tidak memiliki kendali penuh atas seluruh pengembang AI. Namun, AMD berupaya menetapkan pedoman dan batasan dalam kerja sama yang dijalankan.

“Dari sisi hardware, kami memberikan restriction tertentu pada mitra software. Tapi perkembangan AI memang luas dan tidak bisa sepenuhnya dikontrol oleh satu pihak,” kata Armawati.

Ia juga mengungkapkan bahwa di internal perusahaan, telah diterapkan aturan penggunaan AI bagi karyawan, termasuk pembatasan pemanfaatan tools generatif dan kewajiban mengikuti pelatihan etika penggunaan AI.

Menurutnya, tata kelola internal tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menyikapi transformasi digital yang cepat.

Dalam kesempatan itu, AMD juga menyoroti tren pemrosesan AI lokal sebagai alternatif dari sistem berbasis cloud. Pendekatan ini dinilai memberikan kontrol data yang lebih besar kepada pengguna, terutama untuk kebutuhan yang bersifat sensitif atau privat.

Editorial Team