Ponorogo, IDN Times – Sore itu menjelang berbuka puasa di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, mendadak berubah mencekam pada Minggu (1/3/2026). Rumah yang kerap dijadikan tempat meracik petasan tiba-tiba meledak. Kerasmya ledakan menyebabkan satu remaja tewas di lokasi, sementara dua lainnya mengalami luka bakar serius.
Ini Kronologi Ledakan Rumah Peracik Petasan di Ponorogo

Intinya sih...
Kejadian terungkap oleh penjaga sekolah
Pelaku masuk lewat jendela, CCTV mati 3 bulan
Polisi duga pelaku lebih dari satu orang
1. Pengakuan korban selamat
Korban selamat, berinisial HA (23), menyebut rumah tersebut memang sering digunakan untuk meracik petasan, terutama selama bulan Ramadan. Bahkan, aktivitas itu sempat mendapat teguran dari warga sekitar.
“Ada warga juga yang negur. Saya pas kejadian di teras rumah, menunduk lihat mereka meracik, terus tiba-tiba meledak gitu aja,” ujar HA saat ditemui di ruang perawatan RSUD dr. Harjono, Senin (2/3/2026).
Sore itu, HA mengaku hendak mengembalikan kunci bengkel. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan lokasi, ledakan keras terjadi.
2. Dentuman keras korban terpental
Ledakan terdengar sangat keras dan langsung memecah ketenangan kampung. HA mengaku tubuhnya terpental beberapa meter akibat tekanan ledakan.
“Saya langsung terpental beberapa meter. Wajah sama tangan langsung terasa panas. Yang bisa jalan cuma saya, lalu langsung ke klinik sebelum dibawa ke rumah sakit,” tuturnya.
Kepulan asap tebal membumbung tinggi, disertai kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah.
3. Satu remaja tewas di lokasi
Akibat ledakan tersebut, RKP (16) meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara dua korban lainnya, AF (20) dan HA (23), dilarikan ke RSUD dr. Harjono untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Kepala Bidang Humas RSUD dr. Harjono Ponorogo, Sugianto, menjelaskan AF mengalami luka bakar cukup serius dengan persentase sekitar 36 persen dari total permukaan tubuh.
“AF masih dirawat di ICU dan menggunakan alat bantu napas. Luka bakarnya sekitar 36 persen,” ujarnya.
Ia merinci, luka bakar AF terdapat di wajah, leher, tangan, dan kaki. Area leher menjadi perhatian khusus karena berisiko tinggi menimbulkan komplikasi karena terdapat pembuluh darah besar, pusat saraf, serta saluran pernapasan vital.
Sementara itu, HA mengalami luka bakar sekitar 16 persen. Kondisinya relatif stabil dan dalam keadaan sadar penuh.
“HA sadar baik, fungsi motoriknya bagus, dan secara umum masih bisa beraktivitas ringan. Perawatan luka dilakukan setiap hari dengan pembersihan rutin oleh perawat untuk mencegah infeksi,” tambah Sugianto.
Pihak rumah sakit memastikan kedua korban mendapat penanganan maksimal, termasuk pemberian antibiotik serta pemantauan ketat terhadap kemungkinan gangguan pernapasan maupun infeksi lanjutan.