Surabaya, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) mencatat inflasi year on year (y-on-y) Februari 2026 sebesar 4,88 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,07. Tekanan harga dipicu terutama oleh lonjakan tajam pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang menembus 20,71 persen.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati, mengatakan inflasi terjadi akibat kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran, namun sektor perumahan dan utilitas menjadi faktor dominan yang mendorong angka inflasi melampaui rata-rata umum.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Yang paling tinggi adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga melonjak signifikan hingga 18,59 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian masyarakat, naik 3,84 persen.
Herum merinci kenaikan juga terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 2,20 persen, pendidikan 1,88 persen, transportasi 0,87 persen, restoran 1,35 persen, serta rekreasi dan budaya 0,89 persen. Hanya kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami penurunan indeks sebesar 0,28 persen.
Secara spasial, inflasi tertinggi tercatat di Sumenep sebesar 6,37 persen dengan IHK 115,44. Sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Gresik sebesar 3,96 persen dengan IHK 108,65. “Kondisi ini menjadi sinyal peringatan. Jika lonjakan pada sektor perumahan dan jasa tidak segera dikendalikan, daya beli masyarakat berpotensi tergerus lebih dalam,” tegasnya.
