Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hujan Padamkan Kebakaran Gunung Lawu, 30,8 Hektare Hutan Hangus

Kab. Magetan
3 min read
Hujan Padamkan Kebakaran Gunung Lawu, 30,8 Hektare Hutan Hangus
Petugas gabungan berjibaku padamkan api yang mambakar hutan produksi di Gunung Lawu Magetan. (IDN Times/Riyanto)
  • Hujan memadamkan kebakaran hutan Gunung Lawu di Magetan dan Ngawi pada 20 September 2026, setelah api menghanguskan total 30,8 hektare kawasan hutan.

  • Area terdampak mencakup 17 hektare di Magetan dan 13,8 hektare di Ngawi, meliputi hutan produksi pinus serta hutan lindung bervegetasi rimba campuran.

  • Perhutani memetakan kerusakan dan menyiapkan penanaman kembali sesuai kondisi lokasi, namun pemulihan dipastikan memerlukan waktu panjang karena medan serta tingkat kerusakan berbeda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Magetan, IDN Times – Hujan membantu memadamkan kebakaran hutan di kawasan Gunung Lawu yang melanda wilayah Magetan dan Ngawi, Jawa Timur. Perum Perhutani mencatat total 30,8 hektare kawasan hutan terdampak kebakaran sejak Senin (14/9/2026).

Rinciannya, 17 hektare berada di Kabupaten Magetan dan 13,8 hektare di Kabupaten Ngawi. Kini, Perum Perhutani mulai memetakan kawasan terdampak untuk menentukan langkah pemulihan.

Wakil Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds, Hermawan, mengatakan data tersebut merupakan hasil pendataan terakhir hingga Sabtu (19/9/2026).

"Jadi berdasar data terakhir untuk wilayah Ngawi luas area terbakar 13,8 hektare, untuk Magetan 17 hektare," kata Hermawan, Senin (21/9/2026).

  1. 1. Kebakaran melanda hutan produksi dan lindung

    Idntime.com
    Petugas gabungan berjibaku padamkan api yang mambakar hutan produksi di Gunung Lawu Magetan. (IDN Times/Riyanto)

    Di Kabupaten Magetan, kebakaran melanda Petak 66 dan Petak 50 RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, KPH Lawu Ds, yang masuk wilayah Kecamatan Sidorejo dan Panekan.

    Sedangkan di Kabupaten Ngawi, kebakaran terjadi di Petak 39 RPH Manyol dan Petak 41 RPH Campurejo, BKPH Lawu Utara, yang berada di Kecamatan Kendal dan Jogorogo.

    "Wilayah yang terbakar masuk hutan produksi dengan tegakan pohon pinus dan hutan lindung dengan vegetasi rimba campuran (RBC)," ujarnya.

    Proses pemadaman sebelumnya terkendala medan yang ekstrem. Petugas mengandalkan pembuatan dan perpanjangan sekat bakar atau ilaran untuk membatasi pergerakan api.

    Pemerintah Kabupaten Ngawi bahkan sempat mengusulkan pemadaman melalui udara menggunakan helikopter water bombing. Kebakaran akhirnya dinyatakan padam pada Minggu (20/9/2026) setelah hujan turun di kawasan Gunung Lawu.

  2. 2. Perhutani siapkan pemulihan kawasan

    Idntimes.com
    Petugas gabungan berjibaku padamkan api yang mambakar hutan produksi di Gunung Lawu Magetan. (IDN Times/Riyanto)

    Setelah api padam, Perhutani mulai menyiapkan langkah pemulihan. Penanaman kembali akan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi dan tingkat kerusakan masing-masing kawasan.

    "Untuk tegakan yang terbakar jika memungkinkan ditempuh petugas kita akan lakukan penanaman kembali," jelas Hermawan.

    Ia mencontohkan Petak 66 RPH Bedagung yang sebagian besar hanya mengalami kebakaran pada vegetasi bawah. Tegakan pinus di kawasan tersebut masih bertahan.

    Sementara di kawasan hutan lindung Petak 41 RPH Campurejo yang berada di atas 1.700 meter di atas permukaan laut (MDPL), Perhutani mempertimbangkan penggunaan biji tanaman seperti eucalyptus dan kaliandra karena medan sulit dijangkau.

    "Kalau yang pinus kemarin terbakar roboh, roboh-roboh gitu, nanti sebagian kita sulami dengan tanaman pinus baru. Tapi kalau di hutan lindung yang aksesibilitas sulit, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dan memungkinkan nanti kita menggunakan biji seperti pohon eucalyptus dan kaliandra untuk penanamannya," kata dia.

  3. 3. Pemulihan membutuhkan waktu panjang

    Idntimes.com
    Petugas gabungan berjibaku padamkan api yang mambakar hutan produksi di Gunung Lawu Magetan. (IDN Times/Riyanto)

    Hermawan mengatakan pemulihan kawasan seluas 30,8 hektare tersebut belum bisa dipastikan waktunya. Selain tingkat kerusakan yang berbeda, pertumbuhan tanaman juga membutuhkan waktu.

    Perhutani juga akan mempertimbangkan tanaman yang sesuai dengan karakteristik masing-masing kawasan, termasuk tanaman bawah tegakan seperti kopi yang dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan kebakaran.

    "Pemulihan kawasan ini membutuhkan waktu panjang," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More