Ilustrasi perempuan. (IDN Times/Arief Rahmat)
Jaringan Indonesia Positif menyarankan agar edukasi HIV/AIDS dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Pasalnya edukasi yang hanya dalam seminar tidak efektif mencegah penyebaran HIV/AIDS. Oleh karena itu, perlu dorongan serius dari Pemerintah Kota Malang dal upaya pencegahan.
"Menurut saya sosialisasi hanya memberikan materi dasar yang selalu diulang-ulang terus. Sehingga upaya yang bisa lakukan seperti memasukan materi bahaya HIV/AIDS ke kurikulum sekolah," terang aktivis Jaringan Indonesia Positif, Rika Wanda.
Sementara untuk perawatan pengidap HIV/AIDS di Kota Malang menurutnya sidah baik, namun hwris bisa lebih disempurnakan. Ia juga menemui masih banyak masyarakat yang kaget dan khawatir saat mendengar dirinya terkena HIV/AIDS, padahal perawatannya tidak jauh beda dengan pengidap penyakit jantung maupun diabetes.
Selain itu, ia juga mengingatkan para pengidap HIV/AIDS haris tajin mengkonsumsi obat. Pasalnya jika putus mengkonsumsi obat, akan berpengaruh pada jumlah penyebaran HIV/AIDS di Kota Malang. Menurutnya, ini adalah persoalan bersama, tidak hanya pengidap saja. Haris ada kesetaraan terhadap masyarakat yang mengidap HIV/AIDS.
"Permasalahannya mereka putus obat yang juga jadi pemicu (penyebaran HIV). Kemudian pemahaman masyarakat juga masih kurang sehingga riskan memunculkan stigma pada pengidap HIV/AIDS," tegasnya.