Ilustrasi kawasan perairan Surabaya pada masa kolonial Hindia Belanda, sektiar abad 17 hingga 18 (picryl.com)
Meskipun pelacakan sejarah menyimpulkan bahwa Delta Peneleh lebih tua dari Delta Jagir, bukan berarti kawasan aliran air di daerah Wonokromo absen dari peristiwa historis sejak masa klasik kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Salah satu situs sejarah lain yang penting untuk dilihat adalah nama Kampung Pacekan yang kini sudah tidak ditemukan lagi.
Kampung Pacekan merupakan salah satu kampung yang berada di bantaran Kalimas. Berdasarkan perkiraan Groeneveldt, nama sungai “pa-tsieh-kan” yang berarti sungai kecil tersebut berkaitan dengan Kampung Patjekan yang masih eksis pada peta Surabaya tahun 1800-an. Merujuk pada peta Kaart van de Hoofdplaats Soerabaja en omstreken - Top. Bur. v.d. Gen. Staf, Batavia, lokasi Patjekan tersebut berada di daerah Ngagel, tepatnya di sisi timur Kalimas dan sisi utara Delta Jagir.
Nama sungai “pa-tsieh-kan” atau Kampung Patjekan kini sudah tidak digunakan lagi. Bila merujuk pada peta Kota Surabaya hari ini, lokasi Kampung Patjekan tersebut kini ditempati oleh PDAM Surya Sembada di Ngagel Tirto. Perusahaan air ini yang kini mengontrol instalasi pengelolaan air minum (IPAM) dan juga Pintu Air Jagir.
Hilangnya nama Patjekan yang dianggap sebagai situs penting di balik peringatan HJKS tersebut masih mendapatakan perhatian dari banyak kalangan, mulai dari individu pegiat sejarah hingga institusi pendidikan tinggi. Gusti Oka Mahendra atau Hendra (36 tahun), pegiat sejarah di Kota Surabaya, juga turut aktif menelusuri berbagai situs bersejarah yang menunjukkan awal mula Kota Surabaya saat ini, seperti eks-wilayah Patjekan.
Menurut pendapat Hendra, menganggap Patjekan sebagai salah satu lokasi penting yang berkaitan dengan peristiwa mundurnya tentara Mongol oleh Raden Wijaya sah-sah saja. Pasalnya, jika Delta Jagir dianggap sebagai delta buatan yang belum eksis pada masa Majapahit, Patjekan tetap merupakan kampung yang berlokasi di bantaran Kalimas.
“Pacekan itu, kan, melewati Wonokromo yang notabene dahulu itu hutan yang ada di jajaran Pegunungan Kendeng. Daerah Wonokromo itu juga menjadi lokasi benteng yang ikut menaklukkan tentara Mongol,” tutur Hendra kepada IDN Times pada Senin (11/5/2026).
Jika melihat kembali peta von Faber yang mengilustrasikan kawasan Surabaya awal abad ke-9, lokasi Patjekan kira-kira berada di ujung bagian selatan Pulau Domas atau sisi barat Pulau Dadungan yang menjadi salah satu pelabuhan penting di era Mataram Kuno tersebut. Dalam perkembangan zaman, Pelabuhan Dadungan sebagai kawasan maritim yang strategis tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan yang vital, tetapi juga menjadi basis angkatan laut kerajaan.
"Daerah Wonokromo, Dinoyo, dan sekitarnya itu dulu adalah tangsi (barak serdadu), jadi tidak jauh-jauh dari sebuah benteng atau tempat yang harus dilindungi,” ujar Hendra.
Hilangnya nama Patjekan hingga saat ini masih menjadi salah satu puzzle yang perlu dicari jawabannya oleh para pegiat sejarah di Surabaya. Menurut Hendra, perubahan nama Kampung Patjekan terjadi pada era kolonial Hindia Belanda. Namun, faktor yang menyebabkan perubahan nama tersebut masih menjadi tanda tanya besar.
"Saat itu pun nggak serta merta langsung berubah. Tetapi mungkin ada suatu wacana tertentu, sehingga Pacekan itu diubah namanya,” sambungnya.
Selain Patjekan, situs sejarah lainnya yang juga masih diperdebatkan adalah lokasi Hujunggaluh. Hujunggaluh ini merupakan lokasi pasukan Mongol membuat pertahanan sesampainya di Pulau Jawa. Menurut sejarawan seperti Slamet Muljana di dalam buku Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (LKiS Yogyakarta, 2005), Hujunggaluh merupakan muara sungai Brantas yang menjadi pintu masuk pasukan Mongol saat hendak menyerang Kerajaan Kediri.
Keterangan terkait Hujunggaluh sebagai muara Brantas ini kemudian melahirkan dugaan bahwa lokasinya merupakan muara Kalimas yang berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak hari ini. Namun, hipotesis ini dibantah oleh beberapa akademisi sejarah, salah satunya J. G. de Casparis.
De Casparis dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Airlangga tahun 1958 berpendapat bahwa Hujunggaluh bukan muara sungai di Surabaya, alih-alih merupakan hulu Sungai Kalimas yang berada di Mojokerto. Pendapat ini didasarkan pada analisisnya terhadap Prasasti Kamalagyan yang bertitimangsa 959 Saka atau 1037 Masehi, yaitu pada masa kekuasaan Raja Airlangga di Kahuripan.
"Karena dalam prasasti Kelagen (Kamalagyan) dikatakan bahwa pengaturan sungai itu sangat menggembirakan para pedagang dari pulau-pulau yang lain yang sekarang dapat belajar terus sampai ke Hujunggaluh, maka Hujunggaluh tersebut tentu letaknya lebih di sebelah hulu sungai dari Kelagen. Tempatnya mungkin tidak jauh dari Mojokerto yang sekarang," jelas de Casparis di dalam pidatonya tersebut.