Surabaya, IDN Times - Sejumlah massa aksi yang menamai diri sebagai Komite Umat Islam Anti Amerika-Israel (Kumail) menggelar aksi peringatan Hari Al Quds Internasional 2026 di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat (13/3/2026). Dalam aksi tersebut, massa aksi mendesak pemerintah untuk keluar dari forum Board of Peace (BOP).
Humas Aksi, Mu'adz mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang dibawa ingin disampaikan dalam aksi tersebut. Pertama, mengingatkan masyarakat terkait penjajahan di Palestina yang hingga kini masih terus terjadi.
"Kita memberikan edukasi kepada warga bahwa di era modern ini masih terjadi penjajahan. Sejak tahun 8 Palestina belum merdeka dan itu harus kita berikan kesadaran itu kepada publik Indonesia," ujarnya.
Kedua, mendesak Pemerintah Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Bergabungnya Indonesia di BOP justru membuat Palestina semakin jauh dari kata merdeka.
"Bergabung dengan BOP bukan jalan yang tepat untuk mendukung kemerdekaan, bukan itu. Karena BOP kembali lagi adalah semacam wadah untuk menjebak negara melakukan normalisasi dengan Israel," tuturnya.
Ketiga, memberi kesadaran kepada publik bahwa apa yang terjadi di Timur Tengah yakni konflik Iran vs Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah kelanjutan dari agresi militer di Gaza. Menurutnya, Iran diserang lantaran mendukung Palestina.
"Satu-satunya alasan yang membuat Amerika dan Israel mengagresi Iran adalah karena Iran satu-satunya negara yang mendukung kemerdekaan Palestina. Negara state secara resmi SDM dan seluruh dayanya," ungkap dia
Menurutnya, Pemerintah Indonesia tidak tegas menyikapi apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini. Terlebih, semenjak Pemerintah Indonesia bergabung dengan BOP.
"Ada ambiguitas, dalam pandangan kita pemerintah Indonesia cukup gamang untuk menentukan sikap. Apakah bersikap secara tegas mendukung kemerdekaan, yang secara otomatis menolak bergabung dengan BOP. Tapi di sisi lain Indonesia cukup takut untuk menghindar dari tarif 19% itu," tegasnya.
Untuk itu, massa aksi meminta agar Pemerintah Indonesia keluar dari BOP. Hal ini demi mempertegas posisi dukungan Indonesia terhadap Palestina. "Segera keluar (dari BOP)," pungkas dia.
Setidaknya ada delapan sikap yang dibawa massa aksi dalam aksi tersebut. Berikut delapan sikap massa aksi Kumail:
1. Menuntut penghentian segera pembersihan etnis (ethnic cleansing) di Gaza dan pencabutan segala bentuk blokade bantuan serta pembatasan ibadah di Masjid Al-Aqsa. Dunia tidak boleh diam melihat kelaparan dan pembantaian yang dijadikan senjata perang oleh entitas pendudukan untuk membatai sipil.
2. Menolak keras rencana perluasan operasi militer di Jalur Gaza serta percepatan pembangunan permukiman ilegal di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) Timur yang bertujuan untuk menghapus identitas Palestina secara permanen
3. Menegaskan kembali bahwa segala bentuk upaya normalisasi dengan otoritas pendudukan, termasuk melalui forum-forum internasional yang mengabaikan hak kemerdekaan Palestina, termasuk Board of Peace, hal ini adalah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan keadilan.
4. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat solidaritas, baik melalui bantuan kemanusiaan, dukungan media digital, maupun gerakan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan entitas pendudukan sebagai bentuk tekanan ekonomi yang nyata
5. Kami menyatakan solidaritas dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Republik Islam Iran yang secara konsisten menjaga api perjuangan Hari Al-Quds sejak dicetuskan oleh Imam Khomeini. Kami menganggap kekuatan solidaritas yang digalang oleh Iran adalah pilar penting bagi persatuan umat Islam dan kaum tertindas (Mustad'afin) di seluruh dunia.
6. Mengutuk dengan sekeras-kerasnya agresi pengecut dan biadab yang dilakukan oleh Amerika Serikat yang telah menyebabkan gugurnya Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Tindakan ini bukan sekadar serangan terhadap satu tokoh atau satu negara, melainkan deklarasi perang terhadap seluruh umat Islam dan para pejuang kemerdekaan di seluruh dunia.
7. Mengutuk keras eskalasi militer rezim Zionis dan sekutunya yang kini meluas secara brutal ke kedaulatan Lebanon dan Yaman. Kami menegaskan solidaritas penuh bagi rakyat Lebanon dan Yaman yang berdiri teguh sebagai benteng pembela Palestina, serangan terhadap mereka adalah serangan terhadap seluruh martabat umat Islam
8. Menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah otak dan penyokong utama di balik setiap tetes darah yang tertumpah di Palestina, Iran, Lebanon, dan Yaman. Tanpa dukungan militer dan perlindungan politik dari Washington, israel tidak akan mampu melanjutkan kejahatan kemanusiaan ini.
.
