Magetan, IDN Times — Harga sejumlah kebutuhan pokok di Magetan masih bertahan tinggi usai Lebaran 2026. Kondisi ini membuat masyarakat mengurangi belanja. Sementara, pedagang mengaku omzet mereka turun drastis. Salah satu yang paling dikeluhkan warga adalah langkanya MinyaKita di pasaran.
Harga Sembako di Magetan Masih Mahal, MinyaKita Mulai Langka

1. MinyaKita sulit dicari, harga minyak goreng terus naik
Minyak goreng subsidi MinyaKita kini dijual di atas Rp18 ribu per liter dari sebelumnya Rp16 ribu. Selain mahal, stok barang juga mulai sulit ditemukan di sejumlah pasar tradisional.
Kenaikan harga turut terjadi pada minyak goreng kemasan lain. Fortune dijual Rp22 ribu per liter, sedangkan Sunco mencapai Rp23 ribu per liter. Sementara minyak goreng curah kini tembus Rp21 ribu per kilogram.
Salah seorang pedagang mengaku kenaikan harga minyak goreng membuat pembeli mulai mengurangi jumlah belanja mereka.
“Biasanya beli dua liter sekarang cuma satu liter. Pembeli sekarang lebih hemat karena harga terus naik,” ujar Sukartini pedagang Pasar Sayur Magetan.
2. Harga beras hingga daging ayam ikut melonjak
Tak hanya minyak goreng, sejumlah bahan pokok lain juga masih dijual mahal. Beras premium kini berada di kisaran Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, sedangkan beras SPHP Rp12 ribu per kilogram.
Harga kedelai naik menjadi Rp11 ribu, gula pasir Rp18 ribu, kacang tanah Rp35 ribu, telur ayam Rp28 ribu, dan daging ayam mencapai Rp35 ribu per kilogram.
Meski stok beras disebut melimpah, harga di pasaran belum menunjukkan penurunan signifikan.
Pedagang daging ayam, Warsini, mengatakan kondisi pasar saat ini jauh lebih sepi dibanding biasanya karena hampir semua harga kebutuhan pokok naik.
“Pasar jadi sepi. Jam segini biasanya masih ramai, sekarang sudah tidak ada pembeli karena semua harga naik,” katanya.
3. Pedagang mengaku omzet turun sampai 50 persen
Mahalnya harga kebutuhan pokok membuat aktivitas pasar pun ikut lesu. Banyak warga kini memilih membeli barang dalam jumlah sedikit agar pengeluaran tetap hemat.
Tri Purwanti, pedagang di Pasar Sayur Magetan, mengaku daya beli masyarakat turun drastis sejak harga sembako naik pasca-Lebaran.
“Daya beli masyarakat turun sampai 50 persen karena barang-barang mahal sejak setelah Lebaran sampai sekarang,” ujarnya.
Menurut para pedagang, kondisi ini sudah berlangsung beberapa pekan terakhir dan belum menunjukkan tanda-tanda membaik.
Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok agar pasar tradisional kembali ramai dan ekonomi masyarakat bisa pulih.