Magetan, IDN Times – Kenaikan harga plastik menjelang Iduladha 2026 justru membawa berkah tersendiri bagi para perajin besek bambu di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Permintaan wadah tradisional berbahan anyaman bambu itu melonjak tajam karena banyak warga mulai beralih dari kantong plastik untuk pembagian daging kurban.
Sentra kerajinan besek di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, kini terlihat semakin sibuk. Para perajin harus bekerja ekstra demi memenuhi pesanan yang terus berdatangan dari berbagai daerah.
Harga Plastik Naik, Besek Bambu Jadi Solusi Jelang Idul Adha

1. Permintaan besek naik lebih dari 50 persen
Menjelang Hari Raya Iduladha, produksi besek bambu di Desa Durenan meningkat drastis. Para perajin mengaku permintaan naik lebih dari 50 persen dibanding hari biasa.
Kenaikan harga plastik disebut menjadi salah satu faktor utama masyarakat kembali memilih besek bambu sebagai wadah daging kurban. Selain dinilai lebih ekonomis, besek juga dianggap lebih ramah lingkungan.
Suasana rumah-rumah produksi pun tampak ramai sejak pagi hingga malam hari. Para pengrajin harus menambah jam kerja agar seluruh pesanan selesai tepat waktu sebelum Iduladha tiba.
2. Besek bambu dinilai lebih aman untuk daging kurban
Tak hanya karena faktor harga, besek bambu juga dipercaya mampu menjaga kualitas daging kurban lebih baik dibanding plastik. Rongga udara pada anyaman bambu membuat sirkulasi udara tetap terjaga sehingga daging tidak cepat lembap.
Salah satu perajin besek, Endah Desi, mengatakan penggunaan besek membuat daging lebih tahan lama saat dibagikan kepada masyarakat.
"Kalau pakai besek, daging lebih awet karena ada rongga udara dari anyaman bambu. Jadi tidak mudah lembap seperti plastik,” ujar Endah, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, ukuran besek yang paling banyak dicari saat ini adalah 14 x 15 sentimeter karena dinilai pas untuk kebutuhan pembagian daging kurban.
3. Harga ikut naik, pesanan datang dari luar daerah
Tingginya permintaan membuat harga besek bambu ikut merangkak naik. Jika tahun lalu satu ikat berisi 30 pasang besek dijual sekitar Rp30 ribu, kini harganya mencapai Rp40 ribu per ikat.
Meski harga naik, pesanan justru semakin membludak. Tak hanya dari wilayah Magetan, order juga datang dari kawasan Madiun Raya hingga Blora, Jawa Tengah.
"Ini orderan yang masuk dari Jawa Tengah juga banyak, Madiun Raya juga tak kalah banyak. Alhamdulillah semoga berkah,” kata Endah.
Lonjakan permintaan ini menjadi angin segar bagi para perajin besek bambu yang selama ini harus bersaing dengan penggunaan plastik modern. Momentum Iduladha tahun ini pun membawa harapan baru bagi keberlangsungan kerajinan tradisional di Magetan.