Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Minyak Dunia Meroket Dampak Perang, Ekonom Prediksi Harga BBM Ini
Ekonom Unesa, Hendry Cahyono (kanan) dalam diskusi bersama akademisi soal kemandirian energi nasional. Dok. Panitia Diskusi.
  • Harga minyak dunia melonjak akibat konflik Timur Tengah, memicu potensi kenaikan harga BBM di Indonesia demi menjaga stabilitas fiskal dan menghindari pelebaran defisit APBN.
  • Ekonom Unesa memperkirakan kenaikan Pertalite 5–10 persen jika harga minyak 85–92 dolar AS per barel, namun bisa naik hingga 20 persen bila menembus di atas 100 dolar AS.
  • Pemerintah Jatim menyiapkan langkah antisipatif seperti WFH ASN setiap Rabu dan penguatan TPID untuk menjaga pasokan serta mencegah panic buying di tengah gejolak energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai membuat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri semakin sulit dihindari. Dalam situasi ini, penyesuaian harga disebut sebagai langkah rasional untuk menjaga stabilitas fiskal dan menghindari tekanan lebih dalam terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai tekanan global saat ini telah melampaui asumsi dasar ekonomi yang digunakan pemerintah. Ia menyebutkan harga minyak dunia berpotensi menembus di atas 100 dolar AS per barel, jauh dari asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

“Kondisi geopolitik sekarang membawa pemerintah dalam dilema yang sulit. Akan mempertahankan daya beli dengan risiko disiplin fiskal terabaikan atau menaikkan BBM dengan risiko inflasi bahkan stagflasi,” ujar Hendry saat dihubungi, Kamis (26/3/2026).

Dalam konteks tersebut, Hendry menilai kenaikan harga BBM menjadi pilihan yang semakin rasional. Sebab, jika harga tidak disesuaikan, beban subsidi energi akan melonjak tajam dan berisiko memperlebar defisit APBN melewati batas aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Keputusan menahan harga BBM berarti pemerintah memilih menanggung beban melalui pelebaran defisit. Strategi ini efektif menahan inflasi, tetapi berisiko terhadap stabilitas fiskal jangka panjang,” katanya.

Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp 10,3 triliun. Selain itu, defisit APBN juga dapat melebar sekitar Rp 6,8 triliun untuk setiap kenaikan tersebut.

Dengan asumsi harga minyak berada di kisaran 85–92 dolar AS per barel, Hendry memperkirakan kenaikan harga Pertalite berada pada rentang 5–10 persen atau menjadi Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per liter dari harga sebelumnya Rp 10.000. Sementara itu, harga solar subsidi diperkirakan naik ke kisaran Rp 7.150 hingga Rp 7.500 per liter dari harga sebelumnya yakni Rp 6.800.

Dalam skenario ini, defisit APBN diperkirakan masih berada di ambang batas aman, yakni mendekati 3 persen terhadap PDB.

Namun, jika harga minyak dunia menembus di atas 100 dolar AS per barel dalam waktu yang berkepanjangan, maka kenaikan harga BBM berpotensi lebih tinggi. Harga Pertalite dapat naik 15–20 persen menjadi Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per liter, sedangkan solar naik ke kisaran Rp 7.800 hingga Rp 8.200 per liter.

“Pada kondisi ini, defisit APBN bisa melampaui 3 persen atau sekitar 3,6 persen PDB jika tidak ada penyesuaian harga,” ujar Hendry.

Ia menegaskan, tanpa kenaikan harga BBM, tekanan fiskal akan semakin berat dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Hal ini karena pemerintah harus terus menambah subsidi di tengah ruang fiskal yang terbatas.

Selain itu, risiko jangka panjang yang muncul adalah berkurangnya kapasitas negara dalam membiayai program prioritas lain, akibat anggaran terserap untuk menutup lonjakan subsidi energi.

Meski demikian, Hendry mengingatkan bahwa kebijakan kenaikan harga BBM tetap memiliki konsekuensi terhadap daya beli masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi agar dampaknya tidak terlalu dalam.

“Kenaikan harga tanpa kompensasi social safety net akan menyebabkan stagflasi karena pendapatan masyarakat tidak meningkat tetapi tergerus inflasi,” katanya.

Sebagai alternatif, Hendry menyebut bahwa pemerintah dapat melakukan refocusing anggaran dari sektor yang tidak produktif untuk menutup beban subsidi tanpa harus menaikkan harga BBM secara drastis.

"Bisa tidak naik (harga BBM subsidi) asal mau efisiensi dan refocusing anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan PNBP dari keuntungan Batu bara dan CPO, pengendalian konsumsi BBM rumah tangga, percepatan transisi energi," terangnya.

Sementara itu, kondisi di Jawa Timur (Jatim) relatif masih terkendali. Ketersediaan BBM dan LPG di wilayah ini dipastikan aman meski konsumsi meningkat selama periode Lebaran dan arus balik.

Data menunjukkan konsumsi harian BBM di Jatim cukup tinggi, dengan Pertalite mencapai sekitar 10.918 kiloliter per hari dan solar 6.826 kiloliter per hari, namun stok dinilai masih mencukupi dengan ketahanan hingga lebih dari sepekan, bahkan LPG mencapai sekitar dua pekan.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim juga mulai menyiapkan langkah antisipatif untuk menekan dampak gejolak energi global. Salah satunya dengan menerapkan kebijakan work from home (WFH) bagi ASN setiap hari Rabu guna mengurangi mobilitas dan konsumsi BBM.

Selain itu, penguatan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dilakukan untuk memantau potensi kenaikan harga serta mencegah praktik spekulasi dan panic buying di masyarakat.

Pemprov Jatim juga memastikan distribusi energi tetap terjaga serta mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

Editorial Team