Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Melemah, Harga Kedelai Mulai, Pengusaha Tempe Malang Mulai Ketar-ketir
Ilustrasi tempe yang menggunakan kemasan daun pisang. (vecteezy.com/Priyo Sanyoto)
  • Nilai tukar rupiah yang melemah membuat harga kedelai impor dari AS naik dari Rp10.200 menjadi Rp10.500 per kilogram, berdampak pada pengusaha tempe di Malang.
  • Agung Mahmudi, pengusaha tempe asal Lawang, khawatir harga kedelai terus naik karena ketergantungan pada impor dan berharap pemerintah memberi solusi bagi pelaku UMKM.
  • Untuk menekan biaya produksi, Agung memilih tidak menaikkan harga jual tempe dan mempertimbangkan mengecilkan ukuran produk jika harga kedelai kembali meningkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Malang, IDN Times - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar ternyata berdampak pada sejumlah pengusaha tempe di Kabupaten Malang. Bagaimana tidak, komoditas kedelai yang masih bergantung impor dari Amerika Serikat (AS) membuat harganya mulai merangkak naik seiring naiknya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

1. Pengusaha tempe di Malang benarkan harga kedelai mulai merangkak naik

Ilustrasi pembuatan tempe. (IDN Times/Vanny El Rahman)

Pengusaha tempe asal Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang bernama Agung Mahmudi mengungkapkan jika harga kedelai memang mulai merangkak naik seiring menguatnya nilai dolar terhadap rupiah. Ia menjelaskan jika sebelumnya harga kedelai sekitar Rp10.200,- per kilogram, kini harga kedelai menjadi Rp10.500 per kilogram.

"Naiknya sudah sejak sebulan terakhir, dan sepertinya belum ada tanda-tanda akan turun. Kenaikannya memang tidak signifikan, masih tergolong wajarlah," terangnya pada Senin (18/5/2026).

Agung menjelaskan jika ia setiap harinya membutuhkan sekian 5 kuintal kedelai untuk memproduksi tempe. Artinya ia dalam sehari mengeluarkan modal Rp5.250.000 untuk membeli kedelai saja.

2. Agung mulai ketar-ketir jika harga kedelai terus merangkak naikp

ilustrasi merebus kedelai (freepik.com/jcomp)

Agung menyampaikan jika ia sendiri masih khawatir jika harga kedelai terus merangkak naik jika nilai rupiah terus melemah. Apalagi ketersediaan kedelai di Indonesia bergantung dari hasil impor. "Memang yang bagus cuma kedelai impor, pernah pakai yang (kedelai) lokal hasilnya kurang maksimal. Jadi kita takut juga kalau harganya terus naik, ini nanti gimana kalau harga jual gak nutup modal," ujarnya.

Oleh karena itu, ia tidak bisa membayangkan jika nilai rupiah terus melemah kedepannya. Ia berharap pemerintah segera bisa menemui solusi untuk UMKM yang memanfaatkan kedelai sebagai bahan pokok produksi seperti dirinya.

3. Tidak berani menaikkan harga, solusi satu-satunya mengecilkan tempe

ilustrasi tempe yang sudah dipotong (commons.wikimedia.org/Sakurai Midori)

Lebih lanjut, Agung menjelaskan jika ia tidak berani menaikkan harga tempe karena takut akan ditinggalkan oleh para pelanggannya. Sehingga satu-satunya solusi ada mengurangi ukuran tempe jika harga kedelai naik signifikan.

"Tapi sejauh ini kita belum mengurangi (ukuran tempe), karena memang belum signifikan kenaikannya (kedelai). Tapi harapannya kalau bisa jangan naik lagi, kasihan pelanggan saya kalau harus dikurangi lagi (ukuran tempenya)," pungkasnya.

Editorial Team