Surabaya, IDN Times - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mulai memicu reaksi dari masyarakat. Salah satunya datang dari warga Surabaya, Rahardi J. Sukarno, yang mengaku keberatan dengan penyesuaian harga terbaru, terutama pada jenis Pertamax Turbo.
Pertamax Turbo ditetapkan menjadi Rp19.400 per liter atau naik dari yang sebelumnya Rp13.100 per liter. Sementara itu Dexlite mengalami kenaikan menjadi Rp23.600 per liter atau naik dari sebelumnya Rp14.200 per liter. Pertamina Dex mengalami kenaikan menjadi Rp23.900 per liter atau naik dari sebelumnya Rp14.500 per liter.
Rahardi menilai kenaikan tersebut bertentangan dengan janji pemerintah yang sebelumnya menyebut tidak akan ada kenaikan harga BBM hingga akhir tahun. Ia mengaku perubahan harga memaksanya mengubah pola konsumsi bahan bakar sehari-hari. “Sebagai pengguna, saya sangat menyesalkan. Dulu ada janji tidak naik sampai akhir tahun, tapi sekarang justru naik. Akhirnya saya beralih ke Pertamax Green 95 atau BBM lain dengan harga lebih terjangkau,” ujarnya kepada IDN Times, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan, keputusan beralih tersebut diambil untuk menekan pengeluaran, mengingat kendaraan yang digunakan sehari-hari, mulai dari sepeda motor hingga mobil, membutuhkan BBM dengan kualitas tertentu.
Di tengah keluhan masyarakat, kalangan ekonom menilai kenaikan harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi yang sulit dihindari. Ekonom Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo, menyebut lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global menjadi faktor utama penyesuaian harga di dalam negeri.
“Kenaikan harga BBM non-subsidi adalah konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” kata Wisnu.
Ia menjelaskan, konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, turut mendorong kenaikan harga minyak global. Dampaknya, harga BBM non-subsidi di Indonesia ikut terkerek naik.
