Surabaya, IDN Times - Pakuwon Group turut merasakan fenomena sulitnya generasi Z dalam membeli properti. Di Surabaya, penjualan properti dengan harga Rp1–2 miliar cenderung mengalami penurunan.
“Tahun 2025, produk dengan harga Rp1–2 miliar memang, jika dibandingkan dengan produk premium, langsung kalah. Padahal pada 2024, produk dengan harga Rp1–2 miliar sempat melejit,” ujar General Manager Marketing Pakuwon Group, Liliani Harsono, saat ditemui dalam acara Pakuwon Group Property Exhibition 2026, Jumat (6/2/2026).
Pada 2024, produk properti dengan harga Rp1–2 miliar berkontribusi sekitar 55 persen dari total penjualan. Namun, pada 2025 kontribusinya turun menjadi sekitar 40 persen.
“Kalau tahun 2024, yang Rp1–2 miliar itu kontribusinya masih sekitar 55 persen. Di 2025 sudah mulai turun hingga menjadi sekitar 40 persen,” ungkapnya.
Pada 2025, penjualan properti Pakuwon Group justru bergeser ke produk premium. Properti dengan harga Rp10–25 miliar tercatat menjadi produk yang paling cepat terjual.
“Rumah dengan harga Rp10–25 miliar. Tahun lalu penjualannya sangat bagus. Kita jual tahap pertama, 19 unit langsung habis,” katanya.
Mayoritas pembeli properti dengan harga Rp10–25 miliar merupakan pembeli berulang (repeat buyer). Mereka adalah konsumen lama yang kembali membeli properti sebagai peningkatan hunian. Sebagian lainnya membeli properti untuk anak-anak mereka.
“Yang datang ke kita kebanyakan repeat buyer. Referensi dari komunitas juga masih banyak. Tahun kemarin, repeat buyer kita mencapai 50 persen,” jelas Liliani.
Ia menuturkan bahwa berdasarkan hasil analisis bersama perbankan, kondisi keuangan masyarakat saat ini memang kurang baik. Banyak pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang tidak disetujui karena pemohon belum memenuhi persyaratan kemampuan mencicil.
“Penghasilannya kalau digunakan untuk mengambil kredit itu tidak sesuai. Akhirnya mereka dinilai sudah tidak mampu mengambil properti dengan sistem KPR karena cicilannya tidak sebanding dengan penghasilan,” tuturnya.
Meski demikian, Liliani menegaskan bahwa bukan berarti generasi Z tidak dapat membeli properti. Di Surabaya, penjualan properti dengan harga Rp1–2 miliar masih didominasi kawasan Surabaya Timur, khususnya di wilayah Pakuwon City.
“Untuk properti high rise itu masih ada, apalagi di Surabaya Timur yang dekat dengan sekolah dan universitas seperti ITS, Unair, Cita Hati, Xin Zhong, dan Al Azhar. Pembeli dari luar kota masih meminati high rise. Mereka kadang memilih membeli dengan cicilan dibandingkan menyewa, karena setelah empat tahun properti tersebut bisa menjadi aset,” pungkasnya.
Sementara itu, Pakuwon Group Property Exhibition 2026 akan berlangsung pada 6–8 Februari 2026 di Fashion Atrium Pakuwon Mall Surabaya. Melalui pameran yang bekerja sama dengan BCA tersebut, Pakuwon Group menghadirkan beragam pilihan properti di Surabaya, mulai dari rumah siap huni, apartemen dan kondominium dengan fasilitas bintang lima, ruko siap dagang, hingga perkantoran siap bisnis.
