Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang ibu rumah tangga pulang dengan tangan hampa, gas elpiji 3 kg kosong di pasaran. IDN Times/Riyanto.
Seorang ibu rumah tangga pulang dengan tangan hampa, gas elpiji 3 kg kosong di pasaran. IDN Times/Riyanto.

Intinya sih...

  • Krisis gas elpiji 3 kg kembali timbul di Magetan

  • UMKM terhambat operasional karena sulitnya mendapatkan gas

  • Pemerintah masih mencari penyebab kelangkaan dan diharapkan memberikan solusi cepat

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Magetan, IDN Times – Paling tidak sudah tiga hari terakhir, krisis gas elpiji bersubsidi 3 kilogram kembali menghantam warga Kabupaten Magetan. Si 'tabung melon' mendadak sulit ditemukan di pasaran. Kalau pun tersedia, harganya melonjak drastis hingga menyentuh Rp26 ribu per tabung—jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Kondisi ini membuat warga, khususnya pelaku UMKM dan ibu rumah tangga, kewalahan. Kelangkaan yang datang tiba-tiba tanpa informasi resmi dari otoritas terkait membuat aktivitas ekonomi rakyat kecil lumpuh seketika.

1. Warung kopi tak bisa buka

UMKM di pasar Parang keluhkan sulit mendapat gas elpiji 3 kilogram sepekan ini. IDN Times/Riyanto.

Dampak langsung dirasakan oleh Damiati (45), pedagang kopi di Pasar Parang. Ia mengaku terpaksa menghentikan operasional warung karena kesulitan memperoleh gas.

"Sulit seminggu ini, harga berapa pun saya beli, yang penting ada barangnya. Kalau nggak dapat, warung tutup. Saya nggak bisa pakai kayu bakar, tempatnya nggak memungkinkan," keluhnya, Selasa (24/6/2025).

Damiati menyayangkan tak adanya pemberitahuan atau penjelasan resmi terkait kelangkaan gas. Ia berharap pemerintah segera turun tangan agar ekonomi rakyat kecil tak semakin terpuruk.

"Modal utama saya ya gas. Kalau gas nggak ada, ekonomi saya juga berhenti. Mbok ya jangan begini terus," tambahnya dengan nada lelah.

2. Ibu rumah tangga pulang dengan tangan hampa

Tumpakan tabung gas kosong di toko-toko kecamatan Parang. IDN Times/Riyanto.

Keluhan serupa juga datang dari Sulis, ibu rumah tangga yang dalam tiga hari ini harus mondar mandir mencari gas LPG. Ia mengaku kondisi ini kerap terjadi, seolah menjadi siklus tahunan tanpa ada perbaikan berarti.

"Kadang ada, kadang gak ada. Sudah jauh-jauh pergi ke beberapa toko, pulang dengan tangan kosong. Dibilangnya karena hajatan, libur panjang, alasan macam-macam. Tapi ujung-ujungnya kami rakyat kecil yang susah," ujarnya kecewa.

Ia mendesak agar pemerintah serius memperbaiki tata kelola distribusi gas elpiji bersubsidi yang selama ini dinilai tidak tepat sasaran.

"Tolong sistem distribusinya dibenahi. Jangan biarkan rakyat kecil selalu jadi korban," tegasnya.

3. Disperindag masih telusuri penyebab

Tumpukan tabung kosong di sejumlah pangkalan pada kecamatan Parang. IDN Times/Riyanto.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Magetan, Sucipto, menyebut pihaknya masih mengumpulkan data dan melakukan koordinasi untuk mencari tahu penyebab kelangkaan.

"Kita akan telusuri dulu ya, kita juga akan koordinasi dengan pihak Pertamina apakah ada permasalahan atau kendala lainnya," ujar Sucipto singkat.

Masyarakat kini berharap ada solusi cepat dan nyata dari pemerintah agar kebutuhan dasar seperti memasak tidak terus menjadi masalah yang membebani rakyat kecil, apalagi di tengah tekanan ekonomi yang makin sulit.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team