Surabaya, IDN Times - Warga Malang Raya segera punya pilihan transportasi publik baru. Bus Trans Jatim Koridor II Malang Raya yang mengusung nama Kanjuruhan dipastikan meluncur pada 30 Oktober 2026. Gubernur Khofifah Indar Parawansa dijadwalkan meresmikan layanan tersebut di Pendopo Kabupaten Malang, Kepanjen.
Kepastian peluncuran itu disampaikan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Nyono. Ia memastikan persiapan layanan bus yang menghubungkan wilayah Malang Raya hingga Kepanjen tersebut sudah berjalan dan tidak menghadapi kendala berarti.
“Sudah oke, enggak ada masalah. Insyaallah, mohon doanya, mohon support-nya. Insyaallah 30 Oktober jam 02.00, Ibu launching di Pendopo Kabupaten Malang, Kepanjen,” ujarnya, Senin (19/10/2026).
Peluncuran ini menjadi langkah lanjutan pengembangan layanan Trans Jatim. Kehadiran Koridor II Malang Raya diharapkan menambah pilihan mobilitas masyarakat, terutama bagi warga yang beraktivitas di wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang, dan sekitarnya.
Salah satu hal yang dipastikan dalam pengoperasian koridor baru ini adalah bus Trans Jatim Kanjuruhan tidak akan masuk Terminal Arjosari. Keputusan tersebut diambil setelah Dishub Jatim menggelar rapat bersama 20 paguyuban angkutan di Kota Malang.
Nyono menjelaskan, skema layanan akan melibatkan angkutan yang dikelola paguyuban sebagai feeder atau pengumpan. Nantinya, angkutan tersebut dapat membantu mengantar penumpang dari halte Trans Jatim Koridor II menuju Terminal Arjosari maupun titik tujuan lainnya sesuai pengaturan layanan.
“Kemarin sudah rapat dengan 20 paguyuban di Kota Malang. Kami pastikan tidak melalui Terminal Arjosari. Kami ingin ada feeder dari teman-teman paguyuban yang mengantar penumpang dari halte Trans Jatim Koridor II menuju Arjosari,” jelasnya.
Menurut Nyono, Terminal Arjosari merupakan terminal tipe A yang selama ini menjadi salah satu titik asal dan tujuan angkutan mikrolet. Pemprov Jatim ingin pengoperasian Trans Jatim tidak mengabaikan keberadaan angkutan yang telah lebih dulu melayani masyarakat.
Dishub Jatim menegaskan, kehadiran Trans Jatim Kanjuruhan bukan untuk mematikan usaha angkutan lokal. Sebaliknya, pemerintah ingin membangun kerja sama agar layanan transportasi publik saling terhubung dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami hadir untuk bekerja sama, bukan untuk menindas. Kita hadir untuk merangkul, bagaimana semua teman-teman paguyuban di Malang bisa harmonis, saling bekerja sama, dan saling memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Nyono.
Ia menyebut, penyediaan armada feeder akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan paguyuban angkutan setempat. Kesiapan armada dan pemenuhan kebutuhan layanan akan terus diperhatikan dalam proses pengembangan.
