Surabaya, IDN Times - Jawa Timur (Jatim) belum sepenuhnya lepas dari pengaruh musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mencatat indeks NINO 3.4 mencapai +2,53, yang mengindikasikan kondisi El Nino kuat dan berpotensi menekan pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.
Meski demikian, cuaca Jatim dalam sepekan ke depan tidak sepenuhnya kering. BMKG masih memprakirakan hujan ringan pada sejumlah hari, bahkan terdapat potensi hujan disertai petir pada Rabu (30/9/2026).
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda-Sidoarjo, Rendy Irawadi mengatakan, dinamika atmosfer saat ini menunjukkan pengaruh El Niño masih cukup kuat terhadap pembentukan awan hujan di Jatim.
“Nilai indeks NINO 3.4 sebesar +2,53 yang mengindikasikan kejadian El Niño kuat. Hal ini mengurangi pembentukan awan-awan hujan di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Jawa Timur,” ujarnya berdasarkan analisis BMKG periode 28 September-4 Oktober 2026.
Dalam prospek cuaca mingguan yang diterbitkan Senin (28/9/2026) pukul 09.10 WIB, BMKG memprakirakan hujan ringan pada Senin dan Selasa. Pada Rabu (30/9/2026) kondisi atmosfer berpotensi memicu hujan petir.
Setelah itu, hujan ringan kembali berpeluang terjadi pada Kamis (1/10/2026) dan Jumat (2/10/2026). Sementara pada akhir pekan, Sabtu (3/10/2026) dan Minggu (4/10/2026), BMKG memprakirakan kondisi kabut atau asap.
Kondisi tersebut terjadi di tengah dinamika atmosfer yang relatif kompleks. Analisis suhu muka laut menunjukkan anomali berada pada kisaran -2,0 hingga 1,5 derajat Celsius. Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah adanya kolam hangat di Selat Madura yang dapat berkontribusi terhadap penambahan massa uap air di kawasan tersebut.
Di sisi lain, pola angin juga masih didominasi dari arah Timur-Tenggara. Berdasarkan analisis streamline lapisan 3.000 kaki pada 27 September pukul 19.00 WIB, kecepatan angin maksimum mencapai sekitar 25 knot dengan pola yang relatif steady.
Faktor lain yang turut dianalisis BMKG adalah Indian Ocean Dipole (IOD). Indeks IOD mingguan per 20 September tercatat +0,7 dan berada dalam fase normal. Kondisi tersebut dinilai tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia bagian barat.
Sementara itu, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) secara spasial cenderung netral hingga positif. Kondisi tersebut menunjukkan tidak terdapat gangguan gelombang atmosfer yang melintasi Jatim.
Madden-Julian Oscillation (MJO) juga berada pada Fase 1 atau wilayah belahan bumi barat dan Afrika dalam kondisi netral. Kondisi tersebut belum memberikan dukungan signifikan terhadap peningkatan aktivitas konvektif di Jatim.
Dengan kombinasi faktor tersebut, masyarakat perlu mencermati perubahan cuaca harian. Hujan yang masih berpeluang turun tidak serta-merta menandakan berakhirnya periode kering, terutama ketika indikator atmosfer masih menunjukkan pengaruh El Niño kuat.
BMKG juga mengingatkan masyarakat terhadap dampak lanjutan musim kemarau, terutama kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan maupun membuang puntung rokok yang berpotensi memicu kebakaran di tengah kondisi lahan yang masih kering.
Selain ancaman kebakaran, BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan air putih. Warga yang beraktivitas di luar ruangan juga disarankan menggunakan pelindung kulit dan tabir surya serta mengurangi paparan langsung sinar matahari.
Penggunaan air bersih juga diminta dilakukan secara bijak. Masyarakat dapat memanfaatkan momentum hujan yang terjadi untuk melakukan pemanenan air hujan sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan air. BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca resmi sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
