Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dosen UB Analisis Dampak Perang Online Knetz vs SEAbling
ilustrasi netizen mengetik (unsplash.com/ROBIN WORRALL)
  • Fenomena perang online Knetz vs SEAbling dipicu cuitan soal pelanggaran aturan konser Day6 di Malaysia, lalu berkembang jadi konflik identitas digital lintas negara.
  • Dosen UB menjelaskan algoritma platform X memperkuat emosi kolektif dan memicu solidaritas reaktif antar netizen Asia Tenggara yang biasanya terfragmentasi.
  • Pakar UB menilai konflik ini bersifat sementara, namun bisa memengaruhi diplomasi publik jika sentimen negatif terus meluas di ruang digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Malang, IDN Times - Belakangan kita dihebohkan perang online antara Knetz vs SEAbling, perang urat saraf ini bermula dari cuitan netizen Malaysia di X yang mengatakan ada warga Korea yang nonton konser Day6 di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia dengan nekat membawa kamera profesional. Padahal hal tersebut melanggar peraturan yang dibuat oleh penyelenggara. Cuitan ini justru menyulit perang antara netizen Korea yang disebut Knetz dengan netizen Asia Tenggara atau SEAbling.

1. Dosen UB menyebut perang ini jadi panas karena algoritma di X

Ilustrasi Knetz Vs SEAbling. (Instagram/@taqdirulaziz)

Analis Komunikasi dari Universitas Brawijaya (UB), Dr Verdy Firmantoro menyebut kalau fenomena Knetz vs SEAbling bukan sekedar tawuran antar penggemar K-Pop. Menurutnya ini adalah kontestasi identitas digital lintas negara atau disebut transnational digital identity conflict.

"Platform seperti X mempercepat polarisasi, karena algoritmanya dirancang mendorong keterlibatan yang memicu kemarahan. Jadi konflik ini bukan hanya soal budaya, tapi soal platform yang memperkuat emosi kolektif," terangnya pada Senin (2/3/2026).

Ia juga mengatakan jika ejekan dari Knetz berhasil mempersatukan netizen Asia Tenggara yang sebenarnya sering ribut satu sama lain. Kebiasaan netizen ASEAN yang terfragmentasi seperti rivalitas ini sirna ketika hadir ancaman eksternal. Hal Ini membuktikan bahwa dalam konteks digital, apa yang mendorong solidaritas bukan karena negara, tapi karena pengalaman sama-sama dihujat. "Perspektif komunikasi menyebut hal ini sebagai reactive solidarity yakni pembingkaian ulang mengenai identitas regional SEAbling," ujarnya.

2. Fenomena Knetz vs SEAbling sama seperti fenomena lain di media sosial, akan turun dengan sendirinya

ilustrasi gedung UB (dok. Universitas Brawijaya)

Sementara itu, Pakar Antropologi UB, Franciscus Apriwan menilai kalau fenomena perang online antara Knetz dengan SEAbling sebagai suatu hal yang polanya akan sama seperti isu lainnya. Menurutnya isu ini akan naik, kemudian turun, dan terlupakan.

"Apa yang dilakukan pengguna ruang digital ini hanya atas dorongan dopamin. Saat muncul isu yang lebih seru, maka mereka akan berpindah tempat untuk menaruhkan komentar," jelasnya.

Ia menyatakan sepakat tentang munculnya solidaritas baru antar warga ASEAN. Tapi ia juga berpendapat jik solidaritas ini terbentuk bukan karena kesamaan semata, melainkan karena adanya kelas menengah.

"Mereka adalah kelas menengah yang mencintai budaya K-Pop. Orang-orang yang punya kesempatan keliling ASEAN sehingga punya relasi kuat. Ketika Knetz menarasikan Asia Tenggara sebagai wilayah tertinggal, orang-orang ini ingin menunjukan kebanggan menjadi SEAbling," ujarnya.

3. Meski kecil, fenomena ini sedikit banyak akan mempengaruhi diplomasi Korea dengan negara-negara di Asia Tenggara

ilustrasi wisata Korea Selatan (pexels.com/Tranmautritam)

Lebih lanjut, Frans merasa ada banyak orang saat ada konflik seperti ini berharap akan menjadi besar dan perlu melakukan sesuatu. Tapi nyatanya hal ini akan redup tertutup isu lain.

"Meskipun tidak langsung berdampak pada relasi diplomatik formal, tapi jika sentimen ini terus membesar dan opini publik meluas, maka dampaknya bisa mengganggu diplomasi publik orang ke orang," pungkasnya.

Editorial Team