Jombang, IDN Times - Langit di Desa Pojokkulon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, siang itu biru terang di penghujung April 2026. Matahari menimpa hamparan sawah yang menguning. Angin mengelus bulir-bulir padi siap panen, menghadirkan suara lirih seperti napas panjang bumi setelah berbulan-bulan menunggu musim panen tiba.
Di tengah hamparan itu, Sandya Evi Yulianto berdiri dengan kaus lusuh dan topi sederhana. Tangannya menggenggam batang padi yang baru saja dipotong. Di dekatnya, beberapa pria mengangkat karung-karung gabah ke atas truk kayu. Sebagian lain sibuk menimbang hasil panen. Debu sekam beterbangan, menempel di wajah-wajah yang kelelahan, tetapi tetap memancarkan senyum.
Hari itu bukan sekadar panen biasa. Bagi Sandya, setiap karung gabah yang diangkat ke truk adalah tanda bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia. “Gabah kering panen sekarang diserap Bulog Rp6.500 per kilogram,” katanya sambil mengusap keringat. “Alhamdulillah, kami terbantu,” ungkapnya menambahkan.
Luas sawah yang dipanen mencapai dua hektare. Produksinya sekitar enam sampai tujuh ton per hektare. Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya statistik, tetapi bagi petani seperti Sandya, itu adalah ukuran tentang apakah dapur tetap mengepul, apakah anak bisa terus sekolah, dan apakah musim berikutnya masih bisa ditanami.
Di Jawa Timur, cerita tentang beras memang tak pernah sekadar soal makanan. Ia adalah cerita tentang hidup. Tentang harga diri petani. Tentang politik pangan. Tentang negara yang sedang berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Dan perjalanan satu butir beras ternyata jauh lebih panjang dibanding yang dibayangkan banyak orang.
