Batu, IDN Times - Kota Batu menjadi salah satu kota yang jadi sentra penghasil bunga potong untuk kebutuhan di Indonesia. Meskipun demikian, ternyata tidak mudah untuk mempertahankan kualitas bunga potong akibat cuaca ekstrem dan harga pupuk serta pestisida yang mahal.
Cuaca Ekstrem dan Pupuk Mahal Menghantam Petani Bunga di Kota Batu

1. Petani bunga di Kota Batu bilang cuaca ekstrem bikin daun dan bunga membusuk
Salah seorang petani bunga sekaligus Owner Bunga Aphiq, Hery Susilo (42) warga Jalan Hasanuddin Gang Gombi Barat, Dusun Beru RT.1.RW.6, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menceritakan jika ia selalu kebanjiran orderan saat bulan November sampai Februari. Tapi di bulan-bulan ini pula mereka menghadapi masalah panen karena musim penghujan membuat tanaman rentan terkena jamur dan mati.
Apalagi pada 2025 ini cuaca ekstrem paling parah melanda Indonesia. Hujan lebat yang berlangsung berhari-hari membuat ladangnya kebanjiran, kemudian tiba-tiba panas terik yang muncul jadi momok pada petani bunga. Pasalnya cuaca tidak menentu seperti ini menyebabkan jamur mudah tumbuh di daun dan bunga.
"Kalau cuaca tentu menjadi kendala, tapi tentu bagaimanapun caranya kita harus beradaptasi untuk menyelesaikan permasalahan. Tapi keluhan utama kita saat ini adalah busuk daun. Sementara saat musim kemarau, pasti masalahnya di hama. Kalau saat musim hujan itu masalah di daun, karena pasti banyak jamur," terangnya ditemui IDN Times tiga pekan lalu.
2. Pupuk dan pestisida semakin mahal, penghasilan petani bunga kian terhimpit
Hery juga mengungkapkan jika petani bunga juga memiliki masalah lain pada harga pupuk dan pestisida, harga keduanya yang semakin membuat penghasilan petani semakin menipis. Pasalnya dengan berkembangnya teknologi digital membuat pasar bunga potong semakin berdarah-darah karena persaingan yang kiat ketat.
"Jadi pasar minta harganya stabil, tapi di bawah harga pupuk dan pestisida semakin naik. Sehingga hasil (pendapatan) kita semakin berkurang, tapi mau gimana, kita tetap semangat saja," bebernya.
3. Petani bunga di Batu kini fokus perawatan tanah
Melihat harga pupuk dan pestisida yang semakin tak terjangkau, Hery dan para petani bunga di Kota Batu mulai mengalihkan perhatian pada perawatan tanah. Mereka mempelajari cara perawatan tanah dengan mempelajari kandungan sampai mikroorganisme di tanah agar tanah lebih subur tanpa bahan kimia.
"Kita akhirnya juga bikin pupuk organik, kita tetap pakai pupuk kandang. Kita agak kurangi pupuk (kimia) dan pestisida. Jadi kita condong ke pengolahan lahan, kalau lahannya subur pasti daya tahan pada hama dan penyakit ini akan kuat," pungkasnya.