Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cuaca Ekstrem dan Pupuk Mahal Menghantam Petani Bunga di Kota Batu
Ladang Bunga Mawar hasil rawatan Hery Susilo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
  • Petani bunga di Kota Batu menghadapi cuaca ekstrem yang menyebabkan daun dan bunga membusuk akibat jamur, terutama saat musim hujan dengan curah tinggi dan panas terik bergantian.
  • Kenaikan harga pupuk dan pestisida membuat penghasilan petani semakin menurun, sementara pasar menuntut harga bunga tetap stabil di tengah persaingan ketat industri bunga potong.
  • Untuk bertahan, para petani mulai fokus pada perawatan tanah secara organik dengan mengurangi bahan kimia dan membuat pupuk sendiri agar tanaman lebih tahan terhadap hama serta penyakit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Batu, IDN Times - Kota Batu menjadi salah satu kota yang jadi sentra penghasil bunga potong untuk kebutuhan di Indonesia. Meskipun demikian, ternyata tidak mudah untuk mempertahankan kualitas bunga potong akibat cuaca ekstrem dan harga pupuk serta pestisida yang mahal.

1. Petani bunga di Kota Batu bilang cuaca ekstrem bikin daun dan bunga membusuk

Hery Susilo saat menunjukan daun bunga yang kering akibat jamur. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Salah seorang petani bunga sekaligus Owner Bunga Aphiq, Hery Susilo (42) warga Jalan Hasanuddin Gang Gombi Barat, Dusun Beru RT.1.RW.6, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menceritakan jika ia selalu kebanjiran orderan saat bulan November sampai Februari. Tapi di bulan-bulan ini pula mereka menghadapi masalah panen karena musim penghujan membuat tanaman rentan terkena jamur dan mati.

Apalagi pada 2025 ini cuaca ekstrem paling parah melanda Indonesia. Hujan lebat yang berlangsung berhari-hari membuat ladangnya kebanjiran, kemudian tiba-tiba panas terik yang muncul jadi momok pada petani bunga. Pasalnya cuaca tidak menentu seperti ini menyebabkan jamur mudah tumbuh di daun dan bunga.

"Kalau cuaca tentu menjadi kendala, tapi tentu bagaimanapun caranya kita harus beradaptasi untuk menyelesaikan permasalahan. Tapi keluhan utama kita saat ini adalah busuk daun. Sementara saat musim kemarau, pasti masalahnya di hama. Kalau saat musim hujan itu masalah di daun, karena pasti banyak jamur," terangnya ditemui IDN Times tiga pekan lalu.

2. Pupuk dan pestisida semakin mahal, penghasilan petani bunga kian terhimpit

Owner Bunga Aphiq, Hery Susilo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Hery juga mengungkapkan jika petani bunga juga memiliki masalah lain pada harga pupuk dan pestisida, harga keduanya yang semakin membuat penghasilan petani semakin menipis. Pasalnya dengan berkembangnya teknologi digital membuat pasar bunga potong semakin berdarah-darah karena persaingan yang kiat ketat.

"Jadi pasar minta harganya stabil, tapi di bawah harga pupuk dan pestisida semakin naik. Sehingga hasil (pendapatan) kita semakin berkurang, tapi mau gimana, kita tetap semangat saja," bebernya.

3. Petani bunga di Batu kini fokus perawatan tanah

Bunga mawar hasil rawatan Hery Susilo. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Melihat harga pupuk dan pestisida yang semakin tak terjangkau, Hery dan para petani bunga di Kota Batu mulai mengalihkan perhatian pada perawatan tanah. Mereka mempelajari cara perawatan tanah dengan mempelajari kandungan sampai mikroorganisme di tanah agar tanah lebih subur tanpa bahan kimia.

"Kita akhirnya juga bikin pupuk organik, kita tetap pakai pupuk kandang. Kita agak kurangi pupuk (kimia) dan pestisida. Jadi kita condong ke pengolahan lahan, kalau lahannya subur pasti daya tahan pada hama dan penyakit ini akan kuat," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team