Perempuan mengenakan APD lengkap. IDN Times/Istimewa
Dalam menjalankan tugasnya, Ririek juga punya rasa khawatir menangani penyakit baru ini.
“Awalnya memang takut, apalagi beberapa waktu lalu ada PDP meninggal. Tapi kembali lagi ke tanggung jawab, kalau kami takut, lalu siapa yang akan merawat dan mengobati pasien,” ujarnya.
Tantangan lainnya lainnya adalah kekhawatiran dari rekan kerjanya. Tidak sedikit rekan dokter dan perawat ruangan noninfeksius jadi agak menjauh pada tim medis COVID-19.
“Ya itu sih risiko sosial. Kami hanya bisa memberi pengertian. Dan Alhamdulillah, sampai sekarang kami semua sehat, bahkan sudah di-rapid test juga, hasilnya nonreaktif (negatif),” ujarnya.
Menjadi dokter penanggungjawab pasien bukan berarti tidak ada risiko. Namun, selama menerapkan protokol pemeriksaan secara benar, resiko penularan bisa dikendalikan.
“Selama ini APD maupun peralatan safety-nya tersedia di RSUD dengan baik. Dan prosedur penanganan COVID-19 selalu kami pedomani. Apalagi di RSUD kami terus menjaga imunitas, minum suplemen dan vitamin sampai mengonsumsi minuman rempah tradisional. Itu adalah upaya kami mengurangi risiko,” ujarnya.