Sampah impor. Dokumentasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Lebih lanjut, Nina juga mengikuti aksi menolak sachet bersama Breakfreefromplastic. Kegiatan aksi dilakukan di pintu masuk Blue Zone pada Rabu (10/11/2021), bersama beberapa aktivis dari Inggris, Koordinator Breakfreefromplastic Eropa, Amerika Serikat, India, Koordinator Green Africa Youth, Global Allliance for Incinerator Alternatives Africa.
Masalah sampah plastik yang diimpor Indonesia menimbulkan masalah serius pada kerusakan sungai akibat mikroplastik, kepunahan jenis ikan akibat bahan kimia dala proses daur ulang dan kontaminasi senyawa beracun dioksin akibat pembakaran plastik.
Indonesia setiap tahun mengimpor tak kurang dari 3 juta ton sampah kertas yang di dalamnya terkontaminasi sampah plastik rumah tangga dari 50 negara maju.
Dalam proses daur ulang di Indonesia sampah-sampah plastik ini mengakibatkan pencemaran air Sungai Brantas, Citarum, Kali Surabaya dan Kali Porong. Industri kertas pengimpor sampah kertas memproses sampah dan membuang limbah melebihi baku mutu dan akhirnya mencemari sungai-sungai penting di Jawa seperti Brantas dan Citarum. 80 persen ikan-ikan di Brantas mengandung mikroplastik.
Berangkat dari fakta kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh impor sampah plastik, Nina yang duduk di bangku kelas 3 SMPN 12 Gresik di Wringinanom akhirnya menuliskan surat protes kepada pemimpin negara-negara pengekspor.
“Saya menulis surat kepada pemimpin negara pengeskpor sampah agar mereka menghentikan pengiriman sampah ke Indonesia,” beber Nina.