Surabaya, IDN Times - Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Nyono buka suara soal insiden kecelakaan yang dialami oleh Bus Transjatim. Menurutnya, kecelakaannya terjadi karena Transjatim tak memiliki jalur sendiri, terlebih sopir bus diburu oleh waktu.
Kecelakaan terjadi di Jalan Purwodadi, Sidayu, Gresik pada Kamis (19/2/2026). Dalam peristiwa tersebut, bus menabrak bagian belakang truk.
Nyono mengatakan, Transjatim tidak memiliki jalur sendiri seperti Trans Jakarta. Sementara, sopir bus terus diburu oleh waktu.
"Itu kan tidak punya jalan sendiri. Ya kan, dia dikejar oleh time table. Ada petugas timer namanya, ketepatan waktu," ungkapnya di Gedung Negara Grahadi.
Bus diharuskan tiba tepat waktu. Bila tidak, maka akan ada banyak komplain dari para penumpang.
"Karena kalau enggak tepat waktu, penumpang yang berok-berok (teriak-teriak, Kasihan loh ke sopir Transjatim itu. Sementara kalau di Trans Jakarta kan punya jalan sendiri. Ya eh enggak dikejar ini. Pokoknya jam sekian harus ada di halte ini. Kan bingung dia itu kan. Sementara masyarakat harus tepat waktu kan gitu kan. Nunggu lama ngamuk," jelasnya.
Nyono menyebut, kecelakaan yang di Gresik terjadi karena truk di depan bus Transjatim ngerem mendadak. Bus itu kemudian menabrak bagian belakang truk.
"Dia enggak sempat, enggak sempat ngerem sehingga mendadak nubruk dong," kata dia.
Beruntungnya, tak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Sopir juga dalam kondisi baik-baik saja. "Ya, enggak ada korban. Sopir luka-luka enggak ada," kata dia.
Pasca kecelakaan, bus cadangan langsung datang. Bus tersebut untuk menggantikan armada yang rusak akibat kecelakaan. "Kemudian kita cepat, kita sudah punya sistem SOP. Kalau terjadi itu bus cadangan akan masuk. Ya, jadi tidak tidak mempengaruhi sedikitpun operasional," tutur dia.
Ditanya mengenai kerugian, Nyono menyebut, kerugian materil akibat kecelakaan ini ditaksir mencapai Rp10-15 juta. "Ya itu urusan operator kan, Rp10-15 juta lah," pungkas dia.
