Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi popok bayi (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi popok bayi (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Intinya sih...

  • Bumbi, UMKM asal Surabaya, menciptakan popok kain reusable ramah lingkungan sebagai solusi atas masalah sampah plastik dan polutan utama.

  • Produk Bumbi didesain ergonomis, aman, dan telah mendapatkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), serta menawarkan paket pendukung untuk transisi dari popok sekali pakai.

  • Bumbi membangun ekosistem lapangan kerja berbasis pemberdayaan komunitas lokal, melalui produksi dalam negeri yang inklusif dan jaringan edukasi bagi ibu-ibu di berbagai wilayah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Permasalahan sampah plastik di Indonesia, khususnya di wilayah perairan, telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Salah satu titik yang menjadi perhatian serius adalah Sungai Brantas di Jawa Timur. Aliran sungai yang vital ini kian tercekik oleh tumpukan limbah plastik sekali pakai yang sulit terurai. Berangkat dari rasa prihatin terhadap degradasi lingkungan tersebut, sebuah unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Surabaya yang bernama Bumbi muncul dengan sebuah terobosan inovatif. Mereka memperkenalkan popok kain ramah lingkungan yang dapat digunakan berkali-kali (reusable) sebagai alternatif pengganti popok sekali pakai yang menjadi salah satu polutan utama.

Inisiatif Bumbi tidak hanya berhenti pada isu pelestarian alam. Usaha ini juga mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan dan inklusivitas ke dalam inti bisnisnya. Dalam setiap langkah operasionalnya, Bumbi melibatkan kelompok perempuan dan penyandang disabilitas, menciptakan sebuah ekosistem lapangan kerja yang berbasis pada pemberdayaan komunitas lokal.

Celia Siura, sosok inovator sekaligus pendiri Bumbi, menjelaskan bahwa motivasi utamanya adalah fakta bahwa popok sekali pakai merupakan salah satu penyumbang volume sampah plastik terbesar dari sektor rumah tangga. Selama ini, tata kelola limbah popok di tingkat akar rumput masih sangat memprihatinkan. Minimnya fasilitas pengolahan dan kurangnya edukasi membuat banyak masyarakat mengambil jalan pintas dalam membuang sampah ini.

Celia menyoroti fenomena dilematis yang terjadi di tengah para orang tua. Banyak dari mereka yang menyadari bahaya kesehatan jika membakar sampah popok di area pemukiman, namun di sisi lain, mereka tidak memiliki solusi pembuangan yang tepat.

“Sebagian orangtua enggan membakar popok karena khawatir berdampak pada kesehatan bayi, sehingga popok akhirnya dibuang sembarangan dan menumpuk di lingkungan,” ujar Celia, seperti dikutip dari website resmi BRI.

Fenomena pembuangan sembarangan ini akhirnya membuat popok-popok tersebut berakhir di aliran sungai atau menumpuk di lahan terbuka, yang pada gilirannya mencemari ekosistem air dan tanah. Menanggapi situasi ini, Celia mengembangkan popok kain yang didesain secara khusus agar residunya dapat dicuci dengan aman menggunakan deterjen ramah lingkungan. Inovasi ini memiliki target ganda: mengurangi beban sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan menghilangkan kebiasaan buruk masyarakat dalam membakar sampah plastik di lingkungan rumah mereka.

Bumbi tidak sekadar menjual produk, melainkan menawarkan perubahan gaya hidup. Popok kain Bumbi dirancang dengan mempertimbangkan aspek ergonomis dan kenyamanan bayi secara maksimal. Dengan material katun yang lembut dan sirkulasi udara yang baik, produk ini meminimalisir risiko iritasi kulit pada anak. Salah satu fitur unggulannya adalah sistem kancing yang dapat disesuaikan (adjustable), memungkinkan satu popok digunakan dalam jangka waktu yang lama mengikuti pertumbuhan usia anak. Hal ini tentu memberikan efisiensi biaya yang signifikan bagi para orang tua.

Selain fungsionalitas, faktor keamanan menjadi prioritas utama. Produk Bumbi telah mengantongi sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sertifikasi ini menjadi jaminan kualitas bagi konsumen bahwa produk yang mereka gunakan telah melalui uji keamanan yang ketat.

Menyadari bahwa beralih dari popok sekali pakai ke popok kain membutuhkan penyesuaian teknis bagi para orang tua, Bumbi menyediakan berbagai paket pendukung untuk memudahkan transisi tersebut. Mereka menawarkan starter kit bagi pemula, skema pembiayaan yang meringankan beban awal, hingga penyediaan perangkat pencucian portabel. Langkah-langkah ini diambil agar gaya hidup ramah lingkungan dapat diakses oleh semua lapisan ekonomi masyarakat.

Prinsip ekonomi sirkular dan optimalisasi potensi lokal adalah fondasi yang memperkuat struktur bisnis Bumbi. Semua proses produksi dilakukan sepenuhnya di dalam negeri, dengan rantai pasok yang dirancang secara inklusif. Bumbi secara aktif merangkul perempuan dan rekan-rekan penyandang disabilitas untuk terlibat langsung dalam proses penjahitan dan produksi. Hal ini membuktikan bahwa bisnis ramah lingkungan bisa berjalan beriringan dengan misi sosial.

Lebih jauh lagi, Bumbi membangun jaringan edukasi melalui kolaborasi dengan kader kesehatan dan komunitas ibu-ibu di berbagai wilayah. Para perempuan ini dibekali dengan pelatihan intensif agar mereka mampu menjadi agen perubahan sekaligus edukator di lingkungan mereka masing-masing. Mereka bertugas memberikan pemahaman kepada sesama ibu mengenai pentingnya kesehatan anak dan kebersihan lingkungan.

Menurut Celia, model pendekatan berbasis komunitas ini memberikan dampak yang bersifat multidimensi. “Model ini tidak hanya menambah penghasilan keluarga, tetapi juga meningkatkan literasi kesehatan dan kesadaran lingkungan, termasuk pemahaman tentang dampak limbah, manfaat kesehatan, serta potensi penghematan biaya rumah tangga,” jelas Celia.

Keberhasilan Bumbi dalam menciptakan solusi berkelanjutan yang berdampak sosial akhirnya mendapatkan apresiasi di panggung nasional. Pada tahun 2024, Bumbi sukses meraih penghargaan bergengsi Pengusaha Muda BRILiaN dengan predikat Best of The Best untuk kategori Fashion & Wastra. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas kontribusi nyata Bumbi dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya laku di pasar, tetapi juga memberikan solusi bagi permasalahan bangsa.

Celia mengungkapkan bahwa prestasi ini menjadi bahan bakar semangat bagi tim Bumbi untuk terus memperluas jangkauan manfaatnya. Hingga saat ini, Bumbi telah berhasil memperluas operasional, program edukasi, hingga pemasaran ke berbagai titik di Indonesia, mulai dari Jawa Timur seperti Mojokerto, Kediri, dan Jember, hingga menjangkau ibu kota Jakarta dan Pulau Bali. Keberhasilan ini juga diperkuat dengan kemitraan eksklusif bersama Pemerintah Kota Surabaya dalam mendukung program-program lingkungan kota.

Dukungan terhadap UMKM berwawasan lingkungan seperti Bumbi juga datang dari sektor perbankan. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa pihaknya memiliki komitmen kuat untuk mendampingi pelaku usaha yang membawa misi keberlanjutan. Kisah perjalanan Bumbi dipandang sebagai inspirasi bagi UMKM lain di seluruh Indonesia.

“Melalui berbagai program pemberdayaan, kami berharap dapat melahirkan lebih banyak pelaku UMKM yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” tutup Dhanny.

BRI melihat bahwa dengan dukungan akses permodalan dan pembinaan yang tepat, UMKM mampu berkembang melampaui sekadar unit ekonomi, menjadi sebuah gerakan sosial yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga serta memperkuat literasi kesehatan masyarakat secara luas. Bumbi adalah bukti nyata bahwa inovasi lokal yang berakar pada kepedulian lingkungan dapat menjadi pilar penting bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Topics

Editorial Team