Surabaya, IDN Times - Di bawah lampu lalu lintas yang berganti ritme di Simpang Empat Polisi Istimewa, Surabaya, Selasa (5/5/2026) malam itu tak hanya kendaraan yang berhenti sejenak. Emosi juga seperti ikut direm. Di tengah kota yang biasanya riuh oleh klakson dan laju kendaraan, puluhan orang berdiri di pinggir jalan dengan cara yang tak biasa. Mereka membawa bunga.
Mereka adalah Bonek dan Bonita. Sekitar 50 orang, tanpa atribut berlebihan, tanpa teriakan, tanpa spanduk. Hanya senyum, sapaan singkat, dan setangkai bunga yang disodorkan kepada pengendara yang melintas, terutama mereka yang datang dari arah Malang, ditandai dengan pelat nomor “N”.
Beberapa pengendara tampak ragu saat pertama kali dihentikan. Wajar. Dalam ingatan kolektif suporter, interaksi di jalan seringkali identik dengan ketegangan. Namun malam itu berbeda. Tak ada nada tinggi. Yang ada justru kalimat sederhana, “Hati-hati di jalan, rek,” disusul bunga yang berpindah tangan.
Di antara lampu merah dan arus kendaraan yang tak pernah benar-benar sepi, aksi itu menjadi semacam jeda. Sebuah oase kecil di tengah riuhnya rivalitas yang selama ini kerap membelah.
Aksi ini bukan muncul dari ruang hampa. Beberapa hari sebelumnya, beredar video yang memperlihatkan sweeping kendaraan berpelat “L” milik warga Surabaya di kawasan Pantai Wedi Awu, Malang. Kendaraan dirusak. Ketegangan pun menjalar cepat, terutama di media sosial. Emosi mudah tersulut, narasi balas dendam mulai bermunculan.
Namun di Surabaya, respons yang muncul justru sebaliknya. Alih-alih membalas, sekelompok suporter memilih turun ke jalan dengan cara yang nyaris sunyi. Membagikan bunga. Tanpa komando besar, tanpa panggung, tanpa sorotan berlebihan.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, yang turut hadir malam itu, menyebut langkah tersebut sebagai bentuk kedewasaan dalam menyikapi situasi. “Kegiatan ini menunjukkan bahwa kita tidak terpancing dan tidak terprovokasi. Sejak awal, niatnya jelas, menjaga hubungan baik dengan siapa pun,” ujarnya.
Baginya, sepak bola memang tentang kompetisi. Tapi hanya di dalam garis lapangan. “Sepak bola seharusnya menjadi ruang kompetisi di dalam lapangan, namun tetap menjunjung tinggi persaudaraan di luar lapangan,” tambahnya.
Di antara para suporter yang berdiri, ada wajah-wajah yang tampak tenang. Tidak ada gestur agresif. Bahkan, beberapa dari mereka terlihat berbincang santai dengan pengendara yang berhenti sejenak. Bunga yang dibagikan mungkin sederhana, tapi cara itu menyampaikan pesan yang jauh lebih besar, meredam panas tanpa perlu meninggikan suara.
Hasan Tiro, salah satu pentolan Bonek, menyebut aksi ini bukan yang pertama. Ada pola yang coba dijaga, bahwa suporter juga punya pilihan untuk merespons situasi. “Kami hanya ingin menunjukkan bahwa ada cara lain, dengan cara yang lebih damai,” katanya.
Ia sadar, rivalitas tidak akan hilang. Tapi cara menyikapinya bisa berubah. “Harapannya, semangat seperti ini bisa menular. Supaya ke depan hubungan antar-suporter bisa lebih baik,” lanjutnya.
Di tengah narasi besar tentang konflik, aksi kecil seperti ini seringkali luput dari perhatian. Padahal justru di situlah maknanya terasa paling kuat. Tidak ada panggung megah, tidak ada orasi panjang. Hanya pertemuan singkat antara dua orang asing di pinggir jalan, yang dipersatukan oleh satu hal. Keinginan untuk tidak saling menyakiti.
Tentang peristiwa di Malang, Hasan memilih menyerahkannya pada proses hukum. Baginya, keadilan tetap penting, tapi tidak harus dibalas dengan cara yang sama. “Kami percaya polisi akan memproses sesuai hukum. Harapannya, ini jadi efek jera,” tegasnya.
Malam semakin larut. Lalu lintas perlahan kembali normal. Satu per satu bunga habis terbagi. Para suporter pun mulai beranjak, meninggalkan simpang jalan yang kembali seperti biasa. Namun ada sesuatu yang tertinggal. Bahwa di tengah rivalitas yang kerap membara, selalu ada ruang untuk memilih jalan yang lebih tenang.
