Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BMKG Pastikan El Nino 2026 Lebih Ringan dari 2023, Ini Penjelasannya
Lahan sawah mengering karena kemarau (Pinterest.com/Betty Palen)
  • BMKG Juanda memprediksi El Nino 2026 akan lebih lemah dibanding 2023, dengan anomali suhu muka laut belum mencapai 1 derajat Celsius.
  • Dampak kekeringan di Jawa Timur diperkirakan tidak seekstrem tahun 2023, meski potensi karhutla tetap perlu diwaspadai pada puncak musim kemarau.
  • BMKG bersama Pemprov Jatim dan BNPB memperkuat mitigasi melalui pengawasan hutan serta kesiapsiagaan penanganan kebakaran dengan dukungan helikopter water bombing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi fenomena El Nino pada 2026 tidak akan sekuat tahun 2023. Meski begitu, potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur (Jatim) tetap perlu diwaspadai.

Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, mengatakan intensitas El Nino tahun ini diperkirakan masih berada pada kategori lemah, dengan anomali suhu muka laut belum mencapai 1 derajat Celsius. “Harapannya tidak sampai moderat, cukup di level lemah saja,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Dalam klasifikasi El Nino Southern Oscillation (ENSO), El Nino lemah berada di kisaran +0,5 hingga +0,9 derajat Celsius, sementara moderat berada di +1,0 hingga +1,4 derajat Celsius. Dengan kondisi tersebut, dampak kekeringan di Jawa Timur diprediksi tidak seekstrem tahun 2023.

Sebagai pembanding, El Nino kuat pada 2023 lalu memicu kekeringan parah dan kebakaran besar di sejumlah wilayah. Salah satunya kebakaran di kawasan Gunung Arjuno yang meluas hingga ribuan hektare, serta kebakaran di Bukit Teletubbies, Gunung Bromo.

Memasuki periode 2024 hingga 2025, intensitas El Nino mulai melemah dan tren tersebut diperkirakan berlanjut pada 2026. Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hampir seluruh wilayah Jatim tetap memiliki titik rawan kekeringan, terutama saat puncak musim kemarau.

BMKG pun berkoordinasi dengan Pemprov Jatim memperkuat langkah mitigasi, mulai dari pengawasan kawasan hutan hingga kesiapsiagaan penanganan kebakaran. BNPB juga menyiapkan dukungan helikopter water bombing untuk mengantisipasi karhutla.

Editorial Team