Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Belum Ada Nipah di Jatim, Warga Diminta Waspada
ilustrasi virus Nipah yang dibawa oleh kelelawar buah (unsplash.com/Peter Neumann)
  • Pemerintah Jawa Timur menegaskan belum ada kasus terkonfirmasi Virus Nipah di Indonesia, dan peringatan yang beredar merupakan langkah kewaspadaan dini dari Kementerian Kesehatan.
  • Kewaspadaan ditingkatkan karena adanya laporan kasus di India serta potensi penyebaran melalui mobilitas penduduk dan kelelawar buah sebagai reservoir alami virus.
  • Dinkes Jatim mengimbau masyarakat menjaga kebersihan, menghindari kontak dengan hewan berisiko, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala setelah bepergian ke wilayah terdampak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Isu virus Nipah kembali mencuat setelah muncul laporan kasus di India. Namun Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan hingga kini belum ada kasus terkonfirmasi di Indonesia, termasuk di Jawa Timur (Jatim).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, dr. Erwin Astha Triyono, menegaskan bahwa informasi yang beredar saat ini merupakan bentuk kewaspadaan dini dari pemerintah pusat, bukan karena sudah ada kasus di dalam negeri.

“Sampai saat ini belum ada kasus terkonfirmasi Virus Nipah di Indonesia, termasuk di Jawa Timur. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan hanya mengeluarkan peringatan kewaspadaan dini,” tegas Erwin, Rabu (25/2/2026).

Ia menjelaskan, kewaspadaan tersebut dilakukan karena adanya laporan kasus di negara lain, terutama India, ditambah faktor mobilitas penduduk internasional serta keberadaan kelelawar buah sebagai reservoir alami virus Nipah.

Meski belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, Dinkes Jatim meminta masyarakat tidak lengah. Virus Nipah dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi jika berkembang menjadi kondisi berat.

Menurut Erwin, gejala awal Virus Nipah bisa menyerupai infeksi virus pada umumnya. “Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, muntah, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan bisa disertai gangguan pernapasan seperti pneumonia,” jelasnya.

Pada kondisi berat, lanjutnya, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau peradangan otak yang berpotensi mengancam jiwa. Semua kelompok usia berpotensi terinfeksi. Namun, risiko gejala berat lebih tinggi pada lansia, anak kecil, orang dengan penyakit penyerta, tenaga kesehatan, serta mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien. “Jadi bukan hanya anak-anak. Siapa pun dengan daya tahan tubuh rendah lebih berisiko mengalami kondisi berat,” tegasnya.

Dinkes Jatim juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala, terutama bila memiliki faktor risiko. Seperti, riwayat perjalanan ke wilayah terdampak seperti India atau Bangladesh, kontak dengan kelelawar, mengonsumsi nira/aren mentah langsung dari pohon dan engonsumsi buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar.

“Apabila gejalanya ringan tapi ada faktor risiko, silakan datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Jika gejalanya berat, segera ke IGD rumah sakit,” kata Erwin.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Jatim mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Beberapa langkah sederhana dinilai sangat efektif untuk meminimalkan risiko penularan, yakni hindari kontak langsung dengan hewan berisiko, buang buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar, cuci dan kupas buah hingga bersih sebelum dikonsumsi, konsumsi daging dalam kondisi matang sempurna, tidak mengonsumsi nira/aren mentah langsung dari pohon, rajin mencuci tangan dengan sabun.

“Kewaspadaan itu penting, tapi jangan panik. Informasi harus kita sikapi dengan bijak,” pungkasnya.

Editorial Team