Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Belajar Tanpa Batas: Hangatnya Ngaji Bahasa Isyarat di Unesa
Kelas bahasa isyarat dengan ngaji saat Ramadan. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Unesa kembali menggelar program ngaji bahasa isyarat selama Ramadan, khusus bagi mahasiswa Tuli agar bisa belajar Al-Quran dengan cara yang lebih aksesibel dan nyaman.
  • Kegiatan rutin ini berlangsung dua kali seminggu, dipandu mentor dari Komunitas Tuli Unesa serta mahasiswa Pendidikan Khusus yang mahir berbahasa isyarat.
  • Program ini menjadi bukti komitmen Unesa dalam menciptakan lingkungan pendidikan inklusif bagi lebih dari 130 mahasiswa disabilitas di kampus tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Siang itu, salah satu sudut masjid kampus, suasana terasa hangat. Seorang mahasiswi berdiri di depan ruangan, tangannya bergerak luwes membentuk huruf demi huruf hijaiyah. Di hadapannya, puluhan mahasiswa Tuli menyimak penuh perhatian, lalu serempak membalas dengan gerakan yang sama.

Ramadan tahun ini, program ngaji dengan bahasa isyarat kembali digelar di Unesa. Kegiatan yang sudah rutin berjalan dua tahun terakhir ini memang dikhususkan bagi mahasiswa Tuli, sebagai ruang belajar Al-Quran yang lebih aksesibel dan nyaman.

Kelas digelar setiap Senin dan Kamis, mulai pukul 15.00 hingga menjelang Maghrib. Meski pembukaan sempat molor karena hujan, semangat peserta tak surut. Dari 27 mahasiswa Tuli yang terdaftar, sebagian besar tetap hadir memenuhi ruangan sore itu.

“Program ngaji bahasa isyarat ini sudah menjadi agenda tahunan setiap Ramadan. Yang berjalan efektif sudah dua tahun terakhir,” ujar Kasubdit Pusat Unggulan Iptek Disabilitas Unesa, Prof Budiyanto, Rabu (4/3/2026).

Materi pembelajaran dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah menggunakan bahasa isyarat. Perlahan, peserta diajak membaca surat-surat pendek Al-Quran. Setiap gerakan tangan bukan sekadar simbol, melainkan jembatan agar ayat-ayat suci dapat dipahami lebih dekat oleh mahasiswa Tuli.

Para mentor berasal dari Komunitas Tuli Unesa (KOTUNESA), termasuk mahasiswa semester akhir Pendidikan Khusus yang telah mahir berbahasa isyarat. Keakraban terlihat jelas—tidak ada jarak antara pengajar dan peserta. Semua saling memahami dalam bahasa yang sama.

“Kalau pengajarnya menguasai bahasa isyarat, penjelasan bisa langsung dipahami teman-teman Tuli. Jadi lebih efektif,” jelas Budi.

Ketua pelaksana, Syaifudin Fitroh, menambahkan bahwa setiap pertemuan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama fokus pada hijaiyah dan bacaan Al-Quran, sedangkan sesi kedua diisi materi dasar keislaman bersama tim Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI).

“Untuk Ramadan ini total ada tiga minggu pelaksanaan. Kelas dimulai pukul tiga sampai Maghrib, meski tadi sempat molor karena hujan,” ungkapnya.

Di sela pembelajaran, terlihat peserta saling mengoreksi gerakan tangan temannya dengan senyum dan tawa kecil. Tidak terdengar suara lantang, tetapi ruang itu dipenuhi komunikasi yang hidup.

Bahasa isyarat menjadi medium yang menyatukan, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang untuk belajar Al-Quran.

Sebagai informasi, jumlah mahasiswa disabilitas di Unesa mencapai lebih dari 130 orang, terdiri dari mahasiswa Tuli, tunanetra, disabilitas fisik hingga autis. Program ngaji bahasa isyarat ini menjadi salah satu wujud nyata komitmen kampus menghadirkan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua.

Editorial Team