Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Istimewa
Banjir putus jemabatan, ratusan warga di Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo terisolasi. IDN Times/Istimewa.

Intinya sih...

  • Banjir memutus jembatan perbatasan Ponorogo-Trenggalek

  • Aktivitas lumpuh, warga terpaksa gendong pasien menyeberangi sungai

  • Warga bangun jembatan gantung darurat, harap pemerintah segera membangun kembali jembatan permanen

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ponorogo, IDN Times – Banjir besar yang menerjang Sungai Jabak pada Januari 2026 memutus jembatan penghubung perbatasan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek. Akibatnya, ratusan warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, sempat terisolasi dan aktivitas lumpuh total.

Jembatan sepanjang 70 meter dengan lebar 2,7 meter itu ambrol di bagian tengah setelah tak mampu menahan derasnya arus sungai usai hujan lebat mengguyur kawasan perbukitan Ngrayun dan sekitarnya. Struktur jembatan hanyut terbawa arus, memutus akses dua kabupaten.

1. Aktivitas lumpuh sepekan

Banjir putus jemabatan, ratusan warga di Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo terisolasi. IDN Times/Istimewa.

Selama sepekan pascakejadian, warga kesulitan beraktivitas. Pendidikan, pekerjaan, hingga perekonomian terhenti. Selama ini, warga Dusun Purworejo lebih banyak mengakses fasilitas pendidikan dan kesehatan di wilayah Trenggalek karena jaraknya lebih dekat dibandingkan ke pusat kota Ponorogo.

Suyanto, pengelola jembatan darurat, mengatakan jembatan tersebut memang menjadi urat nadi warga perbatasan.

“Awalnya tahun 2010 dibangun dari anyaman bambu secara swadaya. Lalu tahun 2014 diperbarui jadi beton, juga swadaya warga. Tapi awal Januari 2026 kemarin kembali ambrol karena banjir,” ujarnya.

2. Terpaksa gendong pasien

Banjir putus jemabatan, ratusan warga di Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo terisolasi. IDN Times/Istimewa.

Dalam kondisi darurat, warga bahkan harus menggendong orang sakit menyeberangi sungai jika arus tidak terlalu deras.

“Kalau darurat, ya terpaksa digendong lewat sungai, asal arusnya tidak deras. Kalau sungai sedang kencang, harus memutar lebih dari 20 kilometer untuk berobat ke Trenggalek,” jelas Suyanto.

3. Bangun jembatan gantung darurat

Banjir putus jemabatan, ratusan warga di Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo terisolasi. IDN Times/Istimewa.

Tak ingin terlalu lama terisolasi, warga akhirnya bergotong royong membangun jembatan gantung sederhana sepanjang sekitar 40 meter menggunakan tali baja, kayu jati, dan besi bekas.

Kini jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses terdekat penghubung Dusun Purworejo dengan Dusun Pegat, Desa Depok, Kecamatan Panggul, Trenggalek. Setiap hari sekitar 30–50 warga melintas, bahkan bisa mencapai 100 orang pada hari tertentu.

Salah satunya Riski Kurniawan, siswa kelas XII di SMAN 1 Bodag, yang harus melewati jembatan gantung setiap hari untuk berangkat sekolah.

“Sejak jembatan ambrol, kalau berangkat dan pulang sekolah ya lewat jembatan gantung itu. Jujur, sangat takut,” kata Riski, Sabtu (14/2/2026).

Warga berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan permanen agar akses pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat perbatasan bisa kembali normal..

Editorial Team