Surabaya, IDN Times – Sejumlah wilayah di Jawa Timur masih dilanda banjir hingga Selasa (17/3/2026). BPBD Jawa Timur (Jatim) mencatat banjir masih terjadi di beberapa daerah seperti Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Lamongan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan banjir di sejumlah daerah dipicu oleh faktor yang berbeda, mulai dari saluran air yang tidak mampu menampung debit hujan hingga jebolnya tanggul sungai.
"Saat ini yang masih ada banjir di Gresik karena salurannya tidak dapat menampung air, Kabupaten Mojokerto karena tanggulnya jebol, dan Kabupaten Lamongan yang sudah sekitar tiga bulan ini banjir karena belum surutnya debit air Bengawan Jero dan Bengawan Solo,” ujarnya kepada IDN Times.
Lebih lanjut, Gatot membeberkan, banjir sempat terjadi di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut pada Senin (16/3/2026) sore. Curah hujan dengan durasi cukup lama menyebabkan saluran drainase di sejumlah titik tidak mampu menampung air hingga meluap ke jalan dan permukiman warga.
Beberapa wilayah yang terdampak antara lain Desa Randegan Sari dan Desa Sumput. Namun berdasarkan pemantauan BPBD, genangan air kini telah surut total. Tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengungsi akibat kejadian tersebut.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Mojokerto dipicu jebolnya tanggul Sungai Sumber Kembar yang melintasi Desa Jotangan dan Desa Kedunggempol, Kecamatan Mojosari. Tanggul yang jebol sepanjang sekitar 15 meter menyebabkan air meluap dan menggenangi permukiman warga serta area persawahan.
Di Dusun Gembongan, Desa Jotangan, banjir sempat merendam sekitar 30 rumah dengan ketinggian air hingga 25 sentimeter serta menggenangi jalan desa hingga 40 sentimeter. Selain itu, sekitar 11 hektare sawah terdampak banjir.
Kondisi serupa terjadi di Dusun Balongcangak, Desa Kedunggempol, yang merendam 10 rumah warga dan sekitar 21 hektare sawah. Saat ini genangan air dilaporkan mulai mengalami penurunan.
Untuk mengurangi debit air, rumah pompa milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di Dusun Gembongan telah dioperasikan. Tim BPBD bersama unsur TNI, Polri, relawan, dan pemerintah kecamatan juga terus melakukan pemantauan di lokasi.
Banjir luapan juga terjadi di Desa Kapas, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk akibat hujan lebat di wilayah hulu yang menyebabkan tanggul sungai jebol. Air mulai menggenangi permukiman warga sejak Senin malam.
Sebanyak 90 kepala keluarga terdampak banjir dengan ketinggian genangan antara 10 hingga 30 sentimeter di halaman rumah. Hingga kini kondisi genangan dilaporkan mulai menurun dan tidak ada warga yang mengungsi.
Banjir yang paling lama terjadi berada di Kabupaten Lamongan. Banjir di wilayah ini telah berlangsung sejak pertengahan Desember 2025 akibat meningkatnya debit air Sungai Bengawan Jero yang dipicu hujan lebat dan kiriman air dari Waduk Gondang.
Genangan banjir masih terjadi di sejumlah kecamatan seperti Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, Glagah, dan Karanggeneng. Total tercatat 2.761 rumah terdampak banjir, serta 19 tempat ibadah, 77 fasilitas pendidikan, lima kantor desa, dan empat fasilitas kesehatan.
Pemerintah Kabupaten Lamongan bahkan telah memperpanjang status tanggap darurat bencana hidrometeorologi hingga 23 Maret 2026. Untuk mempercepat penurunan genangan, BPBD Lamongan mengoperasikan 16 unit pompa air di kawasan Kuro dan Melik serta menyiagakan perahu fiber untuk membantu mobilitas warga dan pelajar di daerah terdampak.
BPBD Jatim memastikan pemantauan kondisi banjir terus dilakukan secara berkala di wilayah terdampak untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya debit air akibat cuaca yang masih berpotensi hujan.
