Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bagi Sebagian Gen Z, Mudik Lebaran Mulai Tak Relevan
Ilustrasi Mudik (IDN Times/Fadhliansyah)
  • Sebagian Gen Z memilih tidak mudik karena tekanan sosial, pertanyaan sensitif, dan biaya perjalanan tinggi yang membuat momen Lebaran terasa melelahkan secara mental maupun finansial.
  • Fenomena ini mencerminkan pergeseran makna mudik dari kewajiban tradisi menjadi pilihan personal yang lebih mempertimbangkan kenyamanan, privasi, serta kondisi psikologis dan ekonomi individu.
  • Pakar menilai perubahan sikap Gen Z terhadap mudik bukan penolakan terhadap nilai religius Lebaran, melainkan bentuk adaptasi budaya modern dan transformasi cara menjaga hubungan keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Menjelang berakhirnya bulan Ramadan, sebagian besar umat muslim di Indonesia mulai mempersiapkan mudik ke kampung halaman. Lebaran menjadi momen penting untuk kembali berkumpul bersama keluarga setelah menjalani berbagai kesibukan di perantauan. Namun, belakangan mucul tren emoh mudik di kalangan Gen Z. Mereka enggan pulang kampung karena ada berbagai beban psikologis.

Salah satunya Afrigh (23). Ia memilih untuk merayakan Lebaran tahun ini di kampung orang. Untuk kali pertama, Afrigh memutuskan untuk tidak mudik ke Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Bukan tanpa alasan. Bagi Afrigh, perayaan Lebaran kini sudah bergeser dari fungsi utamanya sebagai ajang berkumpul dan silaturahim. Ia kerap merasa tidak nyaman karena berbagai pertanyaan dan ekspektasi. Momen itu dirasakan makin berat karena kerap menjadi ajang pamer pencapaian. Pernah di sebuah momen Lebaran ia mendapatkan pertanyaan tentang tempat kuliah. Kala itu, Afrigh belum berstatus mahasiswa Universitas Airlangga, masih berkuliah di salah satu kampus lain di Surabaya. Tak disangka, ia malah mendapat respons dengan nada meremehkan. 

“Ini pertama kalinya aku  sendirian di di kota perantauan (selama Lebaran). Menurutku berkesan karena aku jauh dari tuntutan publik (saudara). Biasanya saat momen Lebaran akan ditanya kapan ini, kapan itu, kapan segala macam.  Tapi kalau di perantauan, no one cares about us. Sehingga merasa lebih aman dan tentram,”  tuturnya kepada IDN Times pada Sabtu (15/3/26).

Beruntung tahun ini ia tak butuh menyiapkan banyak alasan. ''Kali ini aku tidak pulang karena kebetulan akan wisuda bulan April. Jadi, bulan April nanti orang tuaku yang akan sekalian datang ke Surabaya,” ujarnya. Sembari menunggu wisuda Afrigh memilih mengisi waktunya sebagai pengajar tetap di Kampung Inggris, Pare, Kediri.

“Aku tidak menemukan esensi mudik lagi. Semenjak aku mengetahui kehidupan dan dinamikanya, aku merasa mudik itu hanya menjadi ajang untuk pamer pencapaian. Bukan untuk saling memaafkan dan menyambung silaturahmi. Jadi, mudik itu seolah-olah cuma ritual semata, sekadar menggugurkan kewajiban untuk pulang. Padahal tidak ada esensinya,” tuturnya.

Bagi Afrigh, kalau sekadar pulang untuk bertemu keluarga, ia bisa melakukannya kapanpun, tak perlu menunggu Lebaran.

Ilustrasi mudik Lebaran 2025. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Senada dengan Afrigh, Kaila (23), mahasiswa semester akhir di Universitas Airlangga, juga menceritakan pengalaman yang serupa. Menurutnya, Lebaran tidak selalu menjadi momen yang berkesan. Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul ketika bertemu dengan keluarga besar juga menjadi hal yang ia hindari.

“Aku juga memutuskan gak pulang karena sedang struggle semester akhir. Dan yang namanya hari raya pasti juga ditanyain kan, kapan lulus, dan lain-lain. Aku tuh agak ke-trigger ditanya seperti itu, apalagi depan keluarga besar,” tuturnya.

Karena khawatir mendapatkan pertanyaan sensitif seperti itu, Kaila juga memutuskan untuk tidak mudik ke kampung halamannya di Cimahi, Jawa Barat, tahun ini. 

Bagi Kaila, mudik bukan hanya soal jarak, tetapi juga soal energi yang terkuras. Ia memilih menahan diri untuk tidak pulang, menyimpan tenaganya demi menuntaskan skripsi yang tengah dikejar.

Pengalaman perjalanan pun ikut membentuk keputusannya. Setiap Lebaran, moda transportasi publik menjadi tantangan tersendiri. Kereta api—pilihan paling nyaman dan terjangkau baginya—hampir selalu kehabisan tiket dalam waktu singkat. Sementara perjalanan udara tak kalah merepotkan, karena ia harus menuju Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung, satu-satunya akses terdekat dari Cimahi.

Namun, persoalan Kaila tak berhenti pada soal teknis perjalanan. Ia juga menyimpan pengalaman yang membekas. Dalam perjalanan kereta yang memakan waktu hingga 11 jam, ia beberapa kali harus duduk berdampingan dengan penumpang acak. Situasi itu, alih-alih menghadirkan rasa aman, justru membuatnya tidak nyaman.

“Waktu tidur di perjalanan, aku pernah dapat perlakuan yang tidak mengenakan,” ujarnya.

Bagi Gen Z, selain faktor psikologis dan tenaga, pulang kampung juga soal kemampuan. Setidaknya ini diceritakan Meyllys (21), perantau asal Padang Pariaman, Sumatra Barat. Biaya perjalanan yang melonjak tajam setiap musim Lebaran membuat rencana pulang harus dipertimbangkan matang. “Kalau hari biasa harga tiket sekitar satu jutaan, tapi menjelang Lebaran bisa sampai tiga jutaan lebih,” ujarnya.

Padang Pariaman adalah kampung halaman orangtuanya yang merantau sejak pertengahan 1990-an. Meyllys sendiri lahir di Merauke dan tumbuh besar di Surabaya. “Kalau tidak memungkinkan, komunikasi lewat telepon atau video call juga sudah cukup,” katanya.

ilustrasi mudik (unsplash.com/kit)

Pengalaman Kaila, Afrigh, dan Meyllys menjadi beberapa contoh bagaimana Gen Z melihat tradisi mudik Lebaran secara berbeda. Jika generasi Millennial menganggap mudik menjadi tradisi yang sakral, tidak dengan Gen Z. Apalagi, tidak sedikit dari Gen Z merupakan generasi kedua perantau. Mereka lahir dan tumbuh di kota, besar tanpa pengalaman berpisah jauh dari orangtua. Ikatan dengan kampung halaman pun menjadi lebih longgar, membuat mudik tak lagi selalu terasa sebagai kebutuhan. 

Cerita tentang keenganan Gen Z untuk mudik juga tergambar dari hasil riset dari lembaga YouGove pada tahun 2024. Survei itu menyebut Gen Z lebih memilih untuk mengalokasikan Tunjangan Hari Raya (THR) mereka sebagai tabungan (65%) daripada generasi X dan Millenial. Sedangkan alokasi dana untuk kebutuhan mudik lebih rendah di kalangan Gen Z, yaitu (19%).

Survei tentang penggunaan THR oleh lembaga riset YouGov. IDN Times/Gabriella Leony Navtalie

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, Danu Winata memberi tanggapan terkait fenomena ini. Menurutnya, keresahan yang dialami Gen Z ketika Lebaran sebenarnya merupakan problem lintas generasi.

“Memang permasalahan terkait mudik ini terdapat kontradiksinya. Kita jangan menyempitkan dari aspek Generasi Z saja. Di Generasi Milenial pun juga sudah mulai mempertanyakan, kenapa kita harus mudik? Padahal ketika kita mudik pun kita kerap mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Nah, perlakuan tidak menyenangkan itu karena terdapat pengalaman yang berbeda,” jelas Danu pada Minggu (8/3/26).

Sebagai fenomena sosial yang cukup besar, tradisi mudik ini bisa dilihat dari berbagai sisi. Penggunaan berbagai moda transportasi dalam waktu yang bersamaan oleh para pemudik menunjukkan adanya mobilitas sosial yang cukup besar ketika Lebaran. Hal ini karena Hari Raya Idul Fitri memiliki makna yang sakral bagi umat muslim, yaitu sebagai momen untuk saling memaafkan. Selain itu, upaya untuk terus mempererat kekerabatan dan persaudaraan juga turut menghadirkan interaksi sosial yang signifikan.

Dengan adanya pertemuan kembali dengan sanak saudara dari berbagai latar belakang pekerjaan, lingkungan sosial, dan usia, konsekuensi terjadinya kesalahpahaman karena berbagai perbedaan persepsi setiap individu tidak dapat dipungkiri. Meskipun demikian, Danu menekankan bahwa permasalahannya bukan terletak pada tradisi Lebaran yang sakral, melainkan pada masyarakat yang melakukan aktivitas tersebut.

“Kita perlu melihat bahwasannya ini bukan sekadar Gen Z tidak suka mudik narasinya, tetapi bagian dari transformasi budaya keluarga di masyarakat yang modern. Bagi teman-teman yang merasa privacy adalah matters, sangat-sangat harus dilindungi dan harus tebal temboknya, akhirnya mengalami yang namanya capek sosial. Akhirnya perjalanan mudik itu yang sudah capek berjam-jam, transportasi penuh, harga tiket naik dua kali lipat, terus mereka secara mental capek sosial. Dan akhirnya banyak Generasi Z ngerasa bahwasanya ini (mudik) gak efektif dan efisien,” ujar Danu.

Ilustrasi mudik (pexels.com/Photo by Ketut Subiyanto)

Pendapat lain juga turut diutarakan oleh Listiyono Santoso, dosen Ilmu Filsafat dan Budaya di Universitas Airlangga. Menurutnya, perbedaan persepsi terkait mudik bagi Gen Z dan generasi di atasnya disebabkan karena adanya suasana berbeda yang dialami masing-masing generasi. Bagi generasi X (kelahiran 1965-1980) misalnya, mudik tidak hanya berarti pulang ke rumah orangtua, tetapi juga mengenang berbagai pengalaman masa lalu di kampung halaman. Sementara suasana yang dirasakan oleh Gen Z berbeda karena teman sepermainannya tidak berada di kampung halaman orangtuanya, namun di daerah perantauan.

“Kalau generasi X dan Y itu romantisme (mengenang) masa lalu, sementara yang Gen Z adalah mencoba lebih pada hal yang seperti kebaruan,” tuturnya. Hal itu yang kemudian membuat Gen Z lebih menyukai perjalanan mudik yang sifatnya rekreatif atau liburan, seperti staycation dan semacamnya.

Kendati ada gap generasi di dalam tradisi mudik, perayaan Lebaran tetap memiliki makna yang penting bagi setiap generasi. Selain memiliki makna religius, Lebaran juga merupakan momen yang tepat untuk mempererat ikatan sosial dengan saudara maupun kerabat. Karena adanya pertemuan sosial yang cukup besar, ada kecenderungan bagi setiap generasi untuk melakukan selebrasi atau merayakan keberhasilannya melalui flexing atau pamer pencapaian.

Untuk menjelaskan kecenderungan itu, Listiyono mengutip pandangan filsuf Prancis, Pierre Bourdieu, tentang teori modal sosial (social capital). Ketika berada pada suatu komunitas sosial, seseorang butuh pengakuan dari orang lain. Upaya untuk memperoleh pengakuan itu bergantung pada modal sosial yang dimilikinya, seperti jenjang karir yang telah dicapai, kekayaan dan properti pribadi, dan berbagai bentuk keberhasilan lainnya. Bagi Gen Z yang baru memulai karir, kebiasaan tersebut menjadi semacam tekanan sosial yang akhirnya membuat momen Lebaran terasa berat.

Ilustrasi Mudik (ANTARA FOTO/ Raisan Al Farisi/wsj)

Meskipun tren mudik di kalangan Gen Z mulai dianggap tidak lagi sepenuhnya relevan, bukan berarti momen untuk bertemu dengan keluarga saat Lebaran kehilangan maknanya. Pergeseran ini justru menunjukkan bagaimana generasi muda memaknai ulang tradisi tersebut dengan lebih mempertimbangkan kebutuhan yang mendesak, kondisi finansial, hingga upaya menjaga kesehatan diri.

Gen Z juga tetap sadar bahwa mudik tetap menjadi cara terbaik untuk membalas rindu yang tak bisa digantikan oleh panggilan video atau pesan singkat. Karena itu, meskipun tren mudik perlahan dipertanyakan relevansinya oleh sebagian Gen Z, makna pulang tidak serta-merta hilang. Ia hanya berubah bentuk: dari kewajiban tradisi menjadi pilihan yang dipenuhi kesadaran, rindu, dan pemaknaan yang lebih personal.

Penulis: Putri Nailah Amelia, Thoriq Achmad, Savina Rizky Hamida, Gabriella Leony Navtalie

Editorial Team