Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ayah yang Dibunuh Anak di Sidoarjo Alami 15 Tusukan
Kasatreskrim Polresta Sidoarjo AKP Fahmi Amarullah. (Dok. Istimewa)

Sidoarjo, IDN Times - Polisi akhirnya mengungkap peristiwa pembunuhan yang diduga dilakukan oleh anak kandung SU (33) terhadap ayahnya SE (60) hingga tewas di Dusun Bokongisor, Desa Klantingsari, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Minggu (15/12/2024). Korban tewas setelah mengalami 15 luka tusuk. 

Kasatreskrim Polresta Sidoarjo AKP Fahmi Amarullah mengatakan, Tim Forensik Pusdik Bhayangkara Porong telah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap jasad SE . Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, setidaknya petugas menemukan 15 luka tusuk di beberapa tubuh korban.

"Berdasarkan hasil visum terdapat 15 luka di sepanjang leher, dada kepala dan lain-lain. Oleh karerena korban meninggal di tempat," ujar Fahmi di Mapolresta Sidoarjo, Selasa (17/12/2024). 

Fahmi menyebut, pelaku mengalami depresi. Hal ini berdasarkan surat rawat jalan dari dokter syaraf. "Ternyata pelaku ini menderita depresi dari surat rawat jalan dari saraf, bahwa dia rawat jalan terakhir itu bulan Maret 2024," 

Saat ini, polisi tidak menahan pelaku. Pelaku kini telah dibawa ke RSJ Malang untuk perawatan. "Setelah kita dalami, kita bawa ke rumah sakit jiwa di Malang. Ternyata dokter mengatakan, yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa, sementara pelaku ada di RSJ Malang," ungkapnya.

Lebih lanjut, Fahmi menjelaskan bahwa pelaku merupakan tiga bersaudara. Sebelum membunuh ayahnya, kondisi mental pelaku sempat tidak stabil. Saat itu, kakak SU menjenguk di rumah ayahnya yang juga ditinggali SU. 

"Bahwa awal ceritanya pelaku ini tiga bersaudara, anak pertamanya mau menjenguk orang tuanya lagi sakit. Orangtua ini korban, jadi di rumah itu hanya ada korban sama pelaku," ungkapnya. 

Pada saat dijenguk, pelaku masih dalam kondisi mental yang tidak stabil, yakni sedang depresi dan ngamuk-ngamuk. Kemudian, kakak pelaku memberi obat penenang yang biasa dikonsumsi.  "Setelah diberi obat penenang, pelaku istirahat, korban istirahat," jelas Fahmi. 

Karena dirasa sudah stabil, kakak pelaku kemudian meninggalkan rumah tersebut. Satu jam setelah ditingglkan kakaknya, pelaku terbangun dan kumat. Peniayaan pun terjadi, hingga menyebabkan korban tewas.

"Kemudian (pelaku) mengambil clurit, tapi ini tertinggal (gagang clurit), jadi yang dipegang cuma ini (besi clurit), secara membabi buta melakukan penganiayaan kepada ayahnya sendiri" pungkas dia. 

Editorial Team