Surabaya, IDN Times - Di Vihara Buddayana, Putat Gede, Surabaya, pagi itu sunyi terasa berbeda. Bukan hening yang kosong, melainkan tenang yang bekerja. Di depan altar utama, beberapa umat berdiri di atas bangku dan pijakan kayu. Tangan-tangan mereka bergerak perlahan, menyentuh permukaan rupang berwarna emas.
Menjelang Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026, ratusan rupang di vihara ini dibersihkan. Air, sabun, kain, dan kuas basah menjadi alat utama. Tak ada gerakan tergesa. Setiap sentuhan dilakukan dengan kehati-hatian, seolah membersihkan bukan hanya patung, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam.
Rupang Sang Buddha duduk anggun di altar utama, dikelilingi ornamen emas dan relief yang rumit. Di sekelilingnya, para murid utama, Mogallana dan Sariputra, serta ratusan rupang berukuran kecil turut mendapat perhatian yang sama. Sebagian rupang kecil itu merupakan hasil dana umat, disumbangkan dengan doa dan harapan masing-masing.
Pembina Buddhayana Jawa Timur, sekaligus perwakilan Sangha Agung Indonesia Jawa Timur, Banthe Dharma Maytri Mahathera, menjelaskan bahwa kegiatan pembersihan rupang ini merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap menjelang Imlek.
“Kegiatan ini rutin dilakukan umat Buddha bersama para simpatisan. Rupang yang dibersihkan meliputi Sang Buddha, para murid utama, serta ratusan rupang kecil yang didanakan oleh umat,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Menurut Banthe Dharma, di Vihara Buddayana Putat Gede terdapat sekitar 100 rupang yang dibersihkan secara bertahap. Prosesnya pun tidak sembarangan. Ada tata cara yang dijaga. “Pencucian dilakukan melalui tiga tahap pembilasan. Pertama dengan air biasa, kemudian digosok menggunakan sabun, lalu dibilas kembali hingga bersih,” jelasnya.
Rupang-rupang kecil dicuci satu per satu, diletakkan di wadah khusus. Sementara rupang besar di atas altar dibersihkan menggunakan kain basah dan kuas, menjangkau sela-sela ukiran yang rumit. Beberapa petugas harus naik ke atas pijakan, menjaga keseimbangan, memastikan setiap sudut tersentuh tanpa merusak detail.
Di balik kegiatan yang tampak sederhana itu, tersimpan makna spiritual yang kuat. Bagi umat Buddha, pembersihan rupang bukan sekadar membersihkan benda fisik. “Kegiatan ini bukan hanya tradisi lahiriah. Ia menjadi simbol pembersihan dan pensucian jiwa serta batin dalam menyongsong tahun yang baru,” tutur Banthe Dharma.
Imlek, dalam konteks ini, bukan semata pergantian kalender. Ia menjadi momentum refleksi. Membersihkan rupang berarti mengingatkan diri untuk membersihkan niat, emosi, dan perbuatan. Juga melepaskan yang keruh, menyambut yang baru dengan kesadaran.
Tak hanya berhenti pada ritual spiritual, rangkaian persiapan Imlek di Vihara Buddayana juga dirangkai dengan kegiatan sosial. Banthe Dharma menyebut, vihara turut menggelar aksi kemanusiaan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat sekitar.
“Kami juga mengadakan pembagian sembako, donor darah, dan pasar murah,” ungkapnya.
Kegiatan sosial tersebut rutin dilakukan dan terbuka bagi masyarakat luas, tanpa sekat keyakinan. Di lingkungan sekitar vihara, Imlek bukan hanya dirayakan dengan lampion dan doa, tetapi juga dengan berbagi.
Saat air terakhir dibilaskan dari permukaan rupang, emas kembali berkilau di bawah cahaya lampu vihara. Namun yang dibersihkan hari itu bukan hanya patung-patung suci. Ada kesadaran kolektif yang ikut dipoles tentang kesederhanaan, ketekunan, dan kesiapan menyambut tahun baru dengan hati yang lebih lapang.
