Lamongan, IDN Times - Empat bulan sudah warga Kabupaten Lamongan, Jawa Timur bergelut dengan bencana banjir sejak Desember 2025 lalu hingga Maret 2026. Aktivitas warga pun tergganggu, bahkan produksi tambak mengalami penurunan.
Salah satu warga Lamongan yang rumahnya terendam banjir selama empat bulan adalah Tomi (32). Tomi tinggal di Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Sudah empat bulan rumah hingga jalanan kampung Tomi terendam air.
"Banjir sampai masuk rumah, sempat surut kemudian kembali masuk rumah, padahal rumahku tinggi, rumah-rumah yang gak pernah kemasukan air, sekarang banyak yang masuk," ujar Tomi kepada IDN Times, Selasa (10/3/2026).
Tomi bilang, banjir bikin aktivitas masyarakat terganggu. Bahkan, beberapa masyarakat memilih menggunakan perahu sebagai alternatif transportasi mereka. "Ini sangat menganggu sih, apalagi kan sekarang bulan Ramadan, akhirnya kampung itu sekarang sepi," sebut Tomi.
Tak hanya itu, jalanan di sekitar jadi licin. Kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan karena seringkali membuat masyarakat terpleset. "Selama empat bulan jalannya jadi lumut, banyak orang jatuh, menghindari jatuh, warga pakai perahu," jelasnya.
Selain itu, banjir juga membuat ekonomi warga jadi mandek. Produksi tambak warga mengalami penurunan karena terendam banjir. Padahal, ekonomi masyarakat setempat sangat bergantung pada hasil tambak.
"Kawasanku itu kawasan tambak, biasanya satu bulan itu panen, misal dapat Rp10 juta, sekarang sudah gak dapat hasil. Seluruh wilayah yang terdampak banjir terdapat tambak di sekitarnya. Mayoritas 90 persen begatung pada tambak, tambak udang, tambak ikan," jelasnya.
Bukan kali ini saja kampungnya terendam banjir. Tempat tinggalnya itu sudah menjadi langganan banjir selama 10 tahun terakhir. Namun, banjir kali ini yang paling parah. "Selama 10 tahun itu tambak selalu kebanjiran , hanya saja ini yang paling parah karena sampai masuk rumah," ungkap Tomi.
Tomi berharap, pemerintah punya solusi konkret untuk mengatasi masalah ini. Sebab menurutnya, selama ini pemerintah tak pernah punya program yang jelas sehingga banjir di tempatnya makin parah.
"Pemerintah tak punya program yang jelas soal banjir, banjir Lamongan itu setiap tahun terjadi, ketika itu tidak ditangani setiap tahun akan semakin besar masalahnya, dan itu tidak ada progres perbaikan setiap tahunnya," pungkas dia.
