Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Damkar Surabaya (2) 2.jpg
Wilayah di Surabaya yang jadi langganan banjir. (Dok. Diskominfo Kota Surabaya)

Intinya sih...

  • Kawasan Simo Kalangan di Surabaya langganan banjir selama 12 tahun.

  • Pemerintah Kota Surabaya mengakui belum pernah menangani wilayah tersebut.

  • Penanganan banjir akan dilakukan secara bertahap, dengan fokus pada pengaturan ulang aliran air dan pembongkaran bangunan ilegal.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Salah satu kawasan di Surabaya, yakni Simo Kalangan selalu menjadi langganan banjir selama 12 tahun lamanya. Pemerintah Kota Surabaya mengakui bahwa kawasan tersebut memang tak pernah disentuh penanganannya, sehingga saat hujan tiba, banjir datang setelahnya.

Air menggenangi wilayah itu memang cuma tak lama, tapi tetap saja genangannya menganggu warga. Bahkan, membuat kegiatan warga sekitar jadi terhambat.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tak mengelak kawasan itu jadi langganan banjir. Dia bahkan mengaku bahwa wilayah tersebut, mulai dari Simo Kalanga dan Simo Hilir memang belum mendapat intervensi dari pemerintah. "Belum kita sentuh sama sekali. Jadi kita hanya menggunakan mobil PMK (untuk menyedot air)" kata Eri kepada media di Balai Kota, Senin (5/1/2026).

Di tahun ini, pihaknya berjanji mengintervensi wilayah tersebut. Namun, penanganannnya akan dilakukan secara bertahap. "Ke depan, Pemkot Surabaya memfokuskan penanganan banjir tahun 2026 di sejumlah kawasan, antara lain Simo Kalangan, Simo Hilir, Simo Rejo A, Simo Rejo 1A dan 1B, serta Tanjungsari,” imbuhnya.

Penanganan banjir di kawasan Simo Kalangan memerlukan waktu panjang karena sifatnya menahun, serupa dengan kondisi yang dulu terjadi di Dukuh Kupang dan kini sudah berhasil ditangani.

Untuk kawasan Simo, penanganan akan difokuskan pada pengaturan ulang aliran air dari wilayah hulu. Selama ini, Simo Kalangan menerima limpasan dari berbagai kawasan di atasnya. “Penanganan di Petemon telah diselesaikan lebih dulu dengan pembangunan pintu air, sehingga selanjutnya fokus diarahkan ke Simo Kalangan. Beberapa wilayah seperti Pacuan Kuda kini sudah tidak lagi mengalami banjir karena telah tertangani,” ungkapnya.

Selain itu, penanganan sementara di Simo Hilir dilakukan dengan menata kembali area yang seharusnya menjadi bozem. Bangunan yang berdiri tanpa izin pemanfaatan tanah akan dibongkar dan difungsikan kembali sebagai bozem, seperti yang telah berhasil dilakukan di sisi selatan kawasan masjid. Di sisi timur, boezem baru juga akan dibangun secara bertahap.

“Sedangkan di kawasan Tanjungsari, sungai akan dilebarkan karena saat ini lebarnya menyempit jauh dari kondisi ideal akibat pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. Karena tidak memiliki bukti kepemilikan lahan, fungsi sungai akan dikembalikan sebagaimana mestinya,” paparnya.

Editorial Team