Haris Azhar Sebut 2 Pengacara Aktivis Papua Ditabrak Secara Misterius

Ia mendata intimidasi yang dialami pengacara isu Papua

IDN Times/Fitria Madia

Surabaya, IDN Times - Pegiat Hak Asasi Manusia dan Direktur Kantor Hukum dan HAM Lokataru, Haris Azhar, mengatakan terdapat intimidasi yang dialami oleh rekan sejawatnya, para pelaku advokasi kasus Papua. Ia melihat adanya ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi polemik Papua.

1. Lokataru data kasus intimidasi yang dialami pelaku advokasi

ANTARA FOTO/Rangga Jingga

Haris melalui Lokataru saat ini tengah mengumpulkan data kasus intimidasi yang dialami oleh para kuasa hukum kasus Papua. Pasalnya, intimidasi tak hanya dialami oleh aktivis Papua namun juga kuasa hukum yang mendampinginya.

"Kantor saya lagi ngumpulin sejumlah kasus kriminalisasi, intimidasi, represi ke orang-orang yang kerja dalam advokasi pasca penyerangan asrama Jalan Kalasan. Ada berbagai rangkaian intimidasi dan ada beberapa peristiwa yang mencurigakan," terangnya saat ditemui di Kantor DPW Muhammadiyah Jawa Timur, Sabtu (14/9).

2. Kuasa hukum mahasiswa Papua ditabrak secara misterius

warriortalknews.typepad.com

Haris menyebutkan salah satu bentuk intimidasi dan peristiwa mencurigakan. Yaitu menimpa dua orang kuasa hukum mahasiswa Papua yang mengibarkan bendera bintang kejora di Jakarta. Keduanya sama-sama ditabrak oleh orang misterius.

"Yang mengibarkan bendera itu ditangkap. Tim lawyer-nya itu, dua orang, ada yang ditabrak di tempat yang berbeda, hari yang berbeda," terangnya.

Ayo berkenalan :)

Yuk, gabung di IDN Times untuk pengalaman membaca yang lebih menyenangkan.

Gabung Sekarang!

3. Demo di Kantor LBH dan KontraS juga intimidasi

Foto hanya ilustrasi. (IDN Times/Marisa Safitri)

Intimidasi lainnya, lanjut Haris, adalah aksi demonstrasi yang terjadi di Kantor LBH Surabaya dan Kantor KontraS Surabaya. Pengerahan massa tersebut dianggap sebagai salah satu tindakan intimidasi terhadap pelaku advokasi.

"Bukan mencurigakan kalau itu sih. Polanya kan kalau isu Papua gitu, selalu muncul gaya-gaya nasionalisme. Tempat aktor-aktor munculnya aktor mainstream," lanjutnya.

4. Bentuk salahnya penanganan terhadap isu Papua

twitter.com/VeronicaKoman

Dengan adanya tindakan intimidasi tersebut, Haris berpendapat bahwa hingga saat ini baik masyarakat maupun pemerintah Indonesia masih salah dalam menyikapi isu Papua. Seharusnya polemik tersebut dijawab dengan rasa aman, nyaman, dan merangkul. Bukan tindakan intimidasi dan represi seperti yang terjadi selama ini.

"Tapi ternyata lagi-lagi gaya otoriternya muncul lagi, nuduh hoaks, nangkapain yang di Papua bukan orang yang rasismenya. Ini kan bentuk ketiadaan dialog selama ini," tegasnya.

Baca Juga: Kembalikan Mandat, Haris Azhar Nilai Pimpinan KPK Melarikan Diri

Just For You