Comscore Tracker

Cerita Petugas Pemakaman COVID-19, Harus Lawan Takut dan Kelelahan

Sering hingga istirahat dan tidur di makam

Malang, IDN Times - Lonjakan kasus COVID-19 yang terjadi belakangan juga memicu kenaikan jumlah kematian. Kondisi tersebut membuat petugas pemulasaraan harus bekerja ekstra keras untuk menyelesaikan tugas memakamkan jenazah. Tak jarang, mereka harus bekerja hingga larut malam. Meskipun berat, petugas pemulasaraan tetap bekerja keras demi misi kemanusiaan.

1. Tak mungkin tinggalkan tugas

Cerita Petugas Pemakaman COVID-19, Harus Lawan Takut dan KelelahanPetugas pemulasaraan COVID-19 sedang menjalankan tugas. Dok/UPT pengelola pemakaman Kota Malang.

Seperti diceritakan Takroni Akbar, Kepala UPT Pengelola Pemakaman Umum Kota Malang. Sebagai salah satu tim relawan pemulasaraan, ia tak punya pilihan lain selain terus mengerjakan tugas tersebut. Lelah sudah pasti, tetapi karena mereka satu-satunya harapan dari keluarga pasien, maka Takroni mengakui tetap menyelesaikan tugas sebaik mungkin. 

"Kehadiran kami sangat ditunggu oleh keluarga pasien. Jadi tidak mungkin kami tinggalkan tugas ini meskipun sebenarnya ada juga rasa lelah. Terlebih kalau jumlah yang dimakamkan banyak seperti kemarin mencapai 26," urainya Selasa (6/7/2021). 

2. Personel pemulasaraan terbatas

Cerita Petugas Pemakaman COVID-19, Harus Lawan Takut dan KelelahanIlustrasi proses pemakaman salah satu jenazah COVID-19 di TPU. IDN Times/Aldila Muharma-Fiqih Damarjati

Takroni menambahkan, saat ini personel yang tersedia untuk tim pemulasaraan COVID-19 di Kota Malang berjumlah 14 orang. Jumlah tersebut terbagi ke dalam dua tim untuk mempercepat proses pemulasaraan. Tetapi dari total 14 orang, setiap hari selalu ada dua orang yang izin istirahat, sehingga total petugas pemulasaraan yang siap hanya 12 orang saja. 

"Sebenarnya sudah berupaya mencari tambahan relawan. Hanya saja kebanyakan tidak kuat. Biasanya hari ini ikut, besok sudah tidak mau lagi," tambahnya.

3. Kerap pulang sampai pagi

Cerita Petugas Pemakaman COVID-19, Harus Lawan Takut dan KelelahanIlustrasi pemakaman jenazah pasien Covid-19 di pemakaman terpadu Nenang, PPU (IDN Times/Ervan)

Demi menyelesaikan tugas, Takroni menyebut bahwa tim pemulasaraan kini tak memiliki jam kerja tetap. Tak hanya sampai larut malam, kerap kali mereka harus pulang pagi lantaran menyelesaikan tugas pemulasaraan jenazah. Terlebih jika jam mulai melakukan pemulasaraan lebih siang, maka hampir bisa dipastikan baru selesai pada larut malam. Belum lagi jika kesiapan dari rumah sakit juga terlambat, maka mau tidak mau petugas pemulasaraan juga harus menyesuaikan. 

"Biasanya untuk jenazah yang meninggal sebelum jam 6 sore maka kami tuntaskan hari itu juga berapapun jumlahnya. Tetapi kalau meninggalnya lebih dari jam 6, maka pemulasaraan terpaksa ditunda besoknya," katanya. 

4. Kerap sampai istirahat di makam

Cerita Petugas Pemakaman COVID-19, Harus Lawan Takut dan KelelahanIlustrasi pemakaman pasien positif COVID-19. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Lantaran padatnya jadwal pemakaman, tim pemulasaraan kerap memilih beristirahat di pemakaman sembari menunggu jenazah berikutnya. Ia menyebut semangat kerja kembali naik ketika melihat keluarga pasien.

"Kami seperti bisa ikut merasakan sedihnya keluarga pasien menunggu lama di makam. Hal itu yang membuat kami kembali bersemangat untuk kembali berdiri dan meneruskan pemulasaraaan," sambungnya. 

Baca Juga: Antrean Pemakaman Jenazah COVID-19 di RSUD Jombang Hingga Belasan Jam

5. Tetap berusaha menjaga prokes

Cerita Petugas Pemakaman COVID-19, Harus Lawan Takut dan KelelahanPedagang menata masker karakter wajah berbahan kain di Solo, Jawa Tengah, Senin (8/6/2020) (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Tak bisa dimungkiri, sebagai manusia biasa, Takroni kerap dilanda ketakutan dan kekhawatiran. Terlebih jenazah yang mereka makamkan kebanyakan adalah mereka yang terkonfirmasi positif COVID-19. Sebagai penguat, dirinya juga menambah imun tubuh dengan mengonsumsi jamu. 

"Kalau saya sendiri biasanya selain prokes, juga minum jamu tradisional seperti beras kencur. Kadang juga madu untuk jaga kesehatan agar tetap fit," tandasnya. 

Wajar jika Takroni kepayahan. Angka kematian di Malang memang cukup tinggi. Persentase kematian atau Case Fatality Rate (CFR) di sana lebih dari 9 persen.

Baca Juga: Potret Pemakaman Jenazah COVID TPU Rorotan, di Antara Deru Ekskavator

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya