Comscore Tracker

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro 

Selain guru, Tojkro adalah bapak kos

Surabaya, IDN Times- Semarak kemerdekaan 74 tahun Indonesia terpancar dari rumah putih yang berlokasi di Gang Peneleh VII nomor 29-31. Bendera dengan aksesoris merah putih berkibar di depannya. Aura kharismatik dari rumah seluas 9x13 meter itu sangat terasa. Inilah rumah yang sarat sejarah. Tempat tinggal sang guru bangsa, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

Dari tangan dinginnya, Tjokro berhasil mendidik Soekarno yang sejak usia 15 tahun telah berkelana ke Surabaya. Soekarno ngekos di rumah Tjokro. Di sana, calon tokoh revolusi bangsa itu dibina untuk memiliki jiwa nasionalisme. Di sana pula Sang Proklamator muda belajar “menghipnotis” ribuan massa hanya dengan kata-kata. Tjokro adalah sebaik-baiknya orator di mata Soekarno.

1. Surabaya dan pelarian Tjokroaminoto bersama Soeharsikin

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro Berbagai Sumber

Tjokro lahir di Ponorogo pada 16 Agustus 1882. Dia terlahir sebagai keluarga dengan sendok emas. Ayah dan kakeknya merupakan pejabat di lingkungan Ponorogo. Tjokro berhasil menamatkan studinya di OSVIA Magelang. Bila nuraninya tidak tergugah akibat diskriminasi kolonial, kelak karir Tjokro akan mulus tanpa halang rintang.

Namun, dia tidak bisa membohongi hati kecilnya. Tjokro memilih untuk berhenti dari pekerjaannya dan berjuang bersama rakyat. Inilah awal mula perjalanan panjang Tjokro. Semua itu berawal tatkala dirinya hijrah ke Surabaya. Hidup di tengah himpitan ekonomi, membela buruh dan tani yang tertindas, mendidik banyak anak muda yang kelak menjadi tokoh bangsa.

Bersama istrinya, Soeharsikin, Tjokro kemudian hijrah dari Ngawi akibat ketegangan dengan sang mertua. Ia yang kala itu bakal diangkat menjadi pangeh praja, semacam pegawai negeri sipil (PNS), malah mengundurkan diri. Ia menolak menjadi pegawai Belanda karena birokrasi yang bobrok dan perlakuan sewenang-wenang kepada pribumi.

R.M. Mangoensomo, ayah dari Soeharsikin, tidak terima dengan keputusan menantunya. Apa yang terbesit dalam benaknya adalah Soeharsikin akan diajak susah. Tjokro yang tidak memiliki pendapatan tetap akan kesulitan mencari makan. Mangoensomo sempat meminta mereka untuk bercerai, tapi sang anak kekeh dengan cintanya.

“Ayahanda! Dahulu anakanda dikawinkan oleh ayah-bunda, sedangkan anakanda pada waktu itu tidak kenal dengan mas Tjokro. Anakanda taati! Kini anakanda pun tetap taat, kalaupun ayah-bunda ceraikan anakanda dari Mas Tjokro, baiklah tetapi seumur hidup anakanda tidak akan kawin lagi. Oleh karena dunia akhirat, suami anakanda hanyalah Mas Tjokro itu semata!”

Pada September 1907, mereka berdua akhirnya hijrah ke Surabaya. Adalah ide dari sang istri untuk membeli rumah yang berada di gang sempit itu.   

2. Di Surabaya, Tjokro berserikat dan menjadi bapak kos

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro IDN Times/Fitria Madia

Di Surabaya, Tjokro mengabdi sebagai Ketua Sarekat Islam sekaligus bekerja di firma Kooy & Co. Sang istri sadar bila pendapatan suaminya dan kemampuannya menenun batik kurang bakal mencukupi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi mereka memiliki lima orang anak yang harus diberi makan.

Atas saran Soeharsikin, akhirnya Jalan Peneleh VII nomor 29-31 menjadi kos-kosan bagi pelajar HBS, MTS, dan NIAS. Siapa yang tidak mengenal Tjokro masa itu? Karenanya banyak orangtua yang hendak menitipkan anaknya di sana.

Beban sewa setiap anak 11 gulden per bulan. Mereka mendapatkan makanan dua kali sehari. Bagi mereka yang ingin menggunakan listrik, akan dibebankan tarif tambahan. Sebagai ibu kos, Soeharsikin memasang aturan yang ketat. Inilah pendidikan karakter yang diberikan “rumah Tjokro” kepada mereka yang mondok di sana.

 

1.     Makan malam jam sembilan dan barang siapa yang datang terlambat tidak dapat makan

2.     Anak sekolah sudah harus ada di kamarnya jam 10 malam

3.     Anak sekolah harus bangun jam empat pagi untuk belajar

4.     Main-main dengan anak gadis dilarang

Harsono Tjokroaminoto dalam bukunya "Menelusuri Jejak Ayahku" menceritakan bahwa sang ayah memang sengaja memilih rumah yang sempit dan tidak mewah. Dia ingin mendidik anak-anaknya supaya menjadi pribadi yang sederhana, paham arti perjuangan, dan merasakan penderitaan rakyat kecil. Inilah pendidikan nasionalisme yang secara tidak langsung Tjokro wariskan kepada penghuni kos.

Oleh sebab itu, tidak heran bila para penghuni kos, seperti Semaoen, Alimin, Musso, Soekarno, dan Kartosuwiryo, semuanya menjadi tokoh nasional. Mereka sering mendengarkan diskusi Tjokro dengan tokoh politik lainnya. Bertukar pendapat ketika berada di meja makan. Soekarno bahkan bercerita bila ia kerap berbagi kamar dengan rekannya Tjokro.

Bahkan, tidak jarang perdebatan pemuda-pemuda itu berujung adu jotos. Sebagaimana penuturan cucu Tjokro, Muhammad Basyir, yang diabadikan dalam buku Tjokroaminoto: Guru para Pendiri Bangsa. Alimin dan Musso sempat bertengkar demi mempertahankan argumennya. Alimin yang kepalang kesal akhirnya mencabut belati dan menyerang Musso. Tangan kirinya terluka. Cacat inilah yang kemudian menjadi tanda pengenal Musso.

3. Soekarno bertolak ke Surabaya untuk belajar dari “sang raja”

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro IDN Times/Fitria Madia

Berbeda dengan perjalanan Tjokro ke Surabaya yang harus mendobrak garis nasib, Soekarno justru ke Surabaya karena titah  Raden Soekemi Sosrodihardjo, sang ayah. Soekemi merupakan seorang guru yang dipekerjakan oleh Kementerian Pendidikan Kolonial Belanda. Dia sangat sadar betapa pentingnya pendidikan formal masa itu. Sekalipun dia juga menyadari betapa naasnya pemuda-pemudi pribumi yang mengampu ilmu di sekolah, sebab mereka dianggap lebih hina daripada anjing. Meludahi pribumi adalah hal lumrah kala itu.

Sang ayah berencana menyekolahkan Soekarno ke Hogere Burger School (HBS) di Surabaya. Tetapi, setelah bertahun-tahun menimba ilmu dari kurikulum Belanda, Soekemi tidak ingin anaknya berpikir selayaknya orang Barat. Karena itu, ia menitipkan si bungsu kepada Tjokroaminoto. Seorang guru bangsa. Seorang yang dianugerahi gelar oleh Belanda sebagai “Raja tanpa Mahkota”.

“Tjokro adalah pemimpin politik dari orang Jawa,” kata Soekemi memperkenalkan Tjokroaminoto kepada anaknya, sebagaimana dikutip dari buku karya Cindy Adams berjudul "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat".

“Aku ingin supaya kau tidak melupakan bahwa warisanmu adalah menjadi Karna kedua,” inilah alasan kenapa Soekemi menitipkan anaknya kepada Tjokroaminoto.

Bermodalkan tas kecil dengan pakaian alakadarnya, pemuda berusia 15 tahun itu memberanikan diri berkelana ke Surabaya. Tidak ada perayaan. Tidak ada pesta perpisahan. Satu-satunya seremoni sebelum keberangkatan hanyalah ritual dari sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai.  

Soekarno bercerita bila ibunya meminta ia berbaring di depan rumah. Kemudian dia dilangkahi sebanyak tiga kali bolak-balik. Kemudian, Soekarno diminta untuk berdiri. “Sekali lagi ia memutar badanku ke arah Timur dan berkata, "engkau adalah putera sang fajar,” katanya menirukan ucapan sang ibu.

Isak tangis tak lagi terbendung. Kakinya gemetar. Berat rasanya meninggalkan ayah-ibunya yang selama ini selalu bersamanya. “Aku meninggalkan rumah. Aku meninggalkan ibu. Di hari keberangkatanku, ibu melepasku dengan peringatan bahwa aku tidak lagi akan kembali untuk tinggal bersama‐sama dengan mereka,” tambahnya.

Akhirnya, Sukarno hijrah dari ke Surabaya bersama seorang guru yang menemaninya di perjalanan selama enam jam.

4. Pelarian Soekarno karena krisis kasih sayang

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro IDN Times/Fitria Madia

Bukan perkara muda bagi Soekarno untuk hidup bersama keluarga Tjokro. Ia merasa hampa, fakir kasih sayang. Tidak ada lagi yang membelainya bak seorang ibu. Dia bercerita bila Soeharsikin adalah pribadi yang ramah dan manis, tapi dia terlalu sibuk untuk membantu suaminya.

Begitu pula dengan Tjokro. Soekarno merasa tidak bisa meminjam bahunya hanya untuk mengeluh bak pemuda labil pada umumnya. Sang Putra Fajar kali itu masih seorang pemuda yang ringkih hatinya. “Aku merasa sebatang kara. Bu Tjokro terlalu sibuk untuk memperhatikanku. Jiwaku menjerit-jerit mencari kepercayaan hati, bahkan hati seorang bapak ke mana aku dapat menoleh. Pak Tjokro bukanlah orangnya,” keluh Sukarno.

Soekarno muda tidak memiliki uang yang banyak, sehingga ia tidak bisa sering-sering bermain. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Tjokro, sekalipun ia hanya diberikan buku, bukan kasih sayang apa yang ia cari.

“Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku‐bukunya, diberikannya padaku miliknya yang berharga. Ia hanya tidak sanggup memberikan kehangatan langsung dari pribadinya kepada pribadiku yang sangat kuharapkan,” terangnya.

Di tengah krisis kasih sayang, Soekarno akhirnya menceburkan diri ke dalam dunia pemikiran. Ia tidak memiliki banyak uang untuk bermain. Di samping itu, ia merasa harus banyak belajar supaya bisa melanjutkan studi hingga perguruan tinggi. Sebab, Soekarno pernah mengecewakan bapaknya sekali ketika sekolah karena bahasa Belanda-nya kurang bagus.

“Buku‐buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus‐asaan yang terdapat di luar. Di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira. Selurah waktu kupergunakan untuk membaca. Sementara yang lain bermain‐main."

5. Dalam diam, Soekarno sangat mengagumi Tjokroaminoto

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro IDN Times/Fitria Madia

Perlahan, Soekarno mengerti kenapa Soekemi menitipkannya kepada Tjokro. Soekarno mengagumi kemampuan Tjokroaminoto dalam berpidato. Ia mampu menyulap ribuan hadirin yang ada untuk menaruh perhatian kepada satu orang, yaitu hanya dirinya.

Tjokroaminoto memiliki badan yang tegap. Tubuhnya tinggi. Sorot matanya tajam. Dalam berorasi, ia tidak pernah bertele-tele, tegas, dan tanpa guyon.

Soekarno tidak memiliki teman kamar. Bukan saja kamarnya yang sempit, tapi juga tidak layak, ia bahkan menyebutnya sebagai kandang ayam. Tidak ada kasur, selain alas bambu. Tidak ada lampu selain lentera, ia bahkan tidak bisa membedakan mana siang dan malam. Tidak ada udara segar. Namun, ia bersyukur karena semua itu dinikmatinya sendiri.

Pada satu malam, ia pernah hanyut dalam imajinasinya. Dia sering meniru gelagat tokoh dunia dari berbagai buku yang ia baca. Di kamarnya, sembari berusaha meniru gaya Tjokro berpidato, Soekarno menyerukan “Persetan dengan Penindasan”, “Hidup Kemerdekaan”.

“Ketika semua orang sudah mengunci pintu, aku mulai berteriak selagi aku berpidato dengan keras kepada tak seorangpun,” ingatnya. Karena dirasa mengganggu, tidak jarang ia ditegur oleh teman-temannya.

“Hei, No, kau gila?”

“Ada apa...Hei, apa kau sakit?”

Tidak lama, akan selalu ada temannya yang menyaut, “ah, tidak ada apa-apa. Cuma si No mau menyelamatkan dunia lagi.”

Sembari mendalami kemampuan berpidato, secara tidak langsung Soekarno banyak mendapat pelajaran nasionalisme dari setiap diskusi politik di rumahnya. Sesekali dia pernah bertanya mengenai berapa banyak kekayaan alam yang direnggut oleh Belanda.

Jawaban yang ia dengar seolah mengubah hidupnya. Salah satu warisan terpenting dari Tjokro kepada Soekarno adalah visinya untuk membebaskan Indonesia dari kangkangan penjajah. Soekarno mulai turun gelanggang. Ia mendirikan Tri Koro Darmo dan Jong Java sebagai manifestasi politiknya.

6. Tjokro percaya bahwa Soekarno adalah sosok yang dinantikan Indonesia

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro IDN Times/Fitria Madia

Menurut Soekarno, Tjokro rasa-rasanya memberikan perhatian lebih kepada dirinya. Tjokro senang dengan kepribadian Soekarno yang kritis dan mandiri. Soekarno bahkan termasuk pemuda kos yang dipercaya untuk mendidik anak-anaknya Tjokro.

Pada satu hari, Harsono diam-diam meminjam sepeda Sekarno. Mereknya adalah Fongers, tergolong sebagai sepeda yang digemari banyak orang. Ia membelinya setelah menabung bertahun-tahun. Tanpa sadar, tiba-tiba Harsono menghantam pohon. Sepedanya rusak hingga tak lagi berbentuk.

Soekarno yang mendengar kabar tersebut langsung menyepak bokongnya. Ia juga dipukuli dengan sandal. Kondisi tersebut Soekarno lakukan dengan keadaan sadar tanpa keraguan. Seolah-olah dia memang diberi keleluasan oleh Tjokro untuk menghukum anak-anaknya bila berperilaku nakal.

Pada 1918, ketika Gunung Kelud memuntahkan laharnya dengan semburan yang dahsyat, Soekarno hampir saja tewas bersama 5.515 penduduk dari 108 dusun. Dia sangat syok dan ketakutan. Sempat terbesit dalam benaknya ia tidak bisa kembali ke pelukan kedua orangtuanya.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 20 kilometer karena tidak ada kendaraan yang beroperasi akibat lahar panas, Soekarno bersyukur seluruh keluarganya selamat. Ia semakin setelah mendapati Tjokroaminoto di rumahnya. Sang guru jauh-jauh dari Surabaya ke Blitar, mengendarai mobil seorang diri seharian penuh, hanya untuk mengetahui kabar anak kosnya. Soekarno senang. Momen itu menyadarkannya betapa Tjokro amat sayang kepadanya.

Tjokro sempat menitipkan Sukarno kepada Douwes Dekker Setiabudi. Kepada para anggota National Indische Partij, Setiabudi berharap supaya Sukarno menjadi penerusnya. Amanah itu ia sampaikan setelah mendapat saran dari Tjokro.

"Pak Tjokro seorang penganut Islam yang saleh. Dia banyak mempergunakan waktunya untuk sembahyang. Setelah beberapa lama melakukan semedi, ia kembali kepada seluruh keluarganya pada suatu malam yang berhujan dan ia berbicara dengan kesungguhan hati? ‘Ikutilah anak ini (Soekarno). Dia diutus oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin besar kita. Aku bangga karena telah memberinya tempat berteduh di rumahku," kata Setiabudi seraya menirukan Tjokro.  

7. Soeharsikin, sosok penyambung Soekarno dan Tjokro

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro IDN Times/Vanny El Rahman

Kedekatan Soekarno dengan Tjokro tidak lepas dari peran Soeharsikin. “Dia adalah penjembatan antara Soekarno dengan suaminya. Kan gak ujug-ujug mereka dekat. Dia melihat track record Soekarno yang memang anak baik, makanya dialah yang menyatukan antara keduanya,” ujar Sekretaris Wilayah Jawa Timur untuk Koalisi Perempuan Indonesia, Wiwik Arafah, kepada IDN Times.

Sebagai seorang ibu, Wiwik percaya bahwa Soeharsikin memiliki firasat bila pemuda yang ngekos di rumahnya adalah calon tokoh bangsa. Tentu perasaan itu yang mendasari kenapa dia dan Tjokro mempersilakan anak-anak ideologisnya menghukum anak-anak biologisnya.

“Dia ingin anak-anaknya melampaui ibu dan bapaknya. Makanya dia berharap supaya Soekarno bisa mentransfer ilmu kepada anak-anaknya,” sambung Wiwik.

Ditambahkan oleh dosen ilmu sejarah Universitas Airlangga, Adrian Perkasa, apa yang dilakukan Soeharsikin membuktikan bahwa peran domestik memiliki pengaruh besar dalam mengubah haluan Indonesia. Soeharsikin berhasil menyulap rumah sederhananya menjadi ruang makan hingga wadah dialektika.

“Coba gak ada Soeharsikin, hubungan Tjokro belum tentu dekat dengan Soekarno. Kalau itu gak terjadi, belum tentu Indonesia seperti ini,” tambah Adrian.

Baca Juga: Cerita Hwie, Kenang Detik Proklamasi hingga Wawancara Khusus Soekarno

8. Perjuangan Soekarno bersama Tjokro

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro Berbagai Sumber

Gaya Soekarno berpidato kian lama melampaui gurunya. Gerak tangan dan tubuhnya saat Soekarno berpidato adalah cerminan Tjokro. Tapi, ia memberikan permainan intonasi nada. Tidak seperti Tjokro yang cenderung datar kendati tegas dan garang.

Satu malam, Tjokto meminta Sukarno untuk hadir di suatu pertemuan. Soekarno memanfaatkan momen tersebut untuk mengasah bakat pidatonya. Ia memulainya dengan suara pelan, "Negeri kita, saudara, adalah tanah yang subur, sehingga kalau orang menanamkan sebuah tongkat ke dalam tanah, maka tongkat itu akan tumbuh dan menjadi sebatang pohon. Sekalipun demikian rakyat menderita kekurangan dan kemelaratan adalah beban yang harus dipikul sehari‐hari.”

Semuanya terhipnotis. Ketika Soekarno bertanya, mereka pasti menjawab. Kala Soekarno meninggikan suaranya, para hadirin kian terbakar api nasionalisme. “Mereka memandang kepadaku seperti memuja, mata terbuka lebar, muka terangkat ke atas, meneguk semua kata‐kataku dengan penuh kepercayan dan harapan. Nampak jelas, bahwa aku menjadi pembicara yang ulung. Ia berada dalam urat nadiku,” papar Soekarno.

Soekarno juga menulis artikel untuk majalah "Oetoesan Hindia", surat kabar yang dipimpin oleh Tjokro. Dia menggunakan nama samaran Bima yang berarti prajurit besar. Ia menghitung lebih dari 500 karangan yang ia torehkan.  

Pada 22 Februari 1921, Tjokro dirundung duka akibat kehilangan istrinya. Tjokro terpukul. Dia kehilangan sosok yang selama ini selalu mendukungnya dalam suka maupun duka. Atas saran dari adik Tjokro, Poerwadi Tjokrosoedirdjo, Soekarno akhirnya mau menikahi Netty Oetari. Alangkah senangnya Tjokro mendengar kabar tersebut.

"Tjokro tentu sangat senang. Bukan karena Soekarno yang pintar dan menjadi anak didiknya. Tapi karena dia percaya kelak Sukarno akan menjadi orang yang selama ini diramalkan," sambung Adrian.

Setelah lulus dari HBS, Soekarno bersama Oetari bertolak ke Bandung. Baru tiga bulan di sana, Soekarno mendengar kabar bila mertuanya ditangkap Belanda karena dianggap melanggar Undang-Undang Larangan Pemogokan.

Dia segera kembali ke Surabaya seorang diri. Oetari dititipkan kepada Inggit Garnasih, ibu kos yang kelak menjadi istri Sukarno. Di Surabaya, ia bekerja sebagai klerk di stasiun kereta api dengan penghasilan Rp165 per bulan. Uang hasil keringatnya ia gunakan untuk mengurus anak-anak Tjokro yang terlantar. Soekarno bahkan mengurus sunat adik iparnya.

Hubungan Soekarno dengan Oetari tidak berlangsung lama. Sukarno menceraikan Oetari karena dia lebih melihatnya sebagai seorang adik, alih-alih istri. Sowkarno bahkan mengaku belum pernah menyentuhnya. Dia kemudian mengembalikan sang putri kepada ayahnya. 

9. Tjokro adalah sosok demokrat sejati

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro Potret Tjokroaminoto bersama istrinya, Soeharsikin (IDN Times/Vanny El Rahman)

Kendati berada satu atap, dididik oleh satu guru, menyantap hidangan yang sama, para pemuda penghuni kos Peneleh tidak semuanya satu haluan di masa datang. Soekarno bahkan kelak menyetujui hukuman mati kepada rekan sekamarnya, Kartosuwiryo karena dianggap melakukan pemberontakan terhadap pemerintah resmi. Dia juga bersitegang dengan Musso.

Menurut Adrian, kejadian tersebut merupakan bukti bahwa Tjokro merupakan seorang demokrastis sejati. Dia memang guru. Tentunya memiliki corak berpikir yang khas. Namun, ia tidak memaksa seluruh muridnya memiliki paham yang sama.

“Dia lebih mengarahkan murid-muridnya karena melihat kelebihannya masing-masing. Kayak Semaun dipercaya memegang SI (Sarekat Islam) cabang Semarang. Sukarno diajak bertemu dengan para aktivis pergerakan,” tutur dia.

Sukarno menambahkan, sekaligus menutup artikel ini, “Oemar Said Tjokroaminoto berumur 33 tahun ketika aku datang ke Surabaya. Pak Tjokro mengajariku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak.”

Seatap di Rumah Peneleh, Kisah Soekarno dan Sang Guru Tjokro IDN Times/Arief Rahmat

Baca Juga: Rumah Tjokroaminoto, Saksi Soekarno Temukan Gagasan Perjuangan

Topic:

  • Vanny El Rahman
  • Faiz Nashrillah

Just For You