Comscore Tracker

"Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke Surga"

#SetahunBomSurabaya Wenny kehilangan dua anaknya sekaligus

Bulan ini, tepat setahun lalu, lima bom mengguncang Surabaya dan Sidoarjo. Ada 28 orang meregang nyawa, puluhan terluka. Yang lebih miris, semua pelaku mengajak serta keluarga dalam aksinya. Melalui pengakuan saksi dan korban, kami mencoba menceritakannya kembali. Kesaksian mereka menunjukkan bahwa, apapun dalihnya, terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tak selayaknya mendapat tempat di manapun.

 

Surabaya, IDN Times - Seperti Minggu sebelumnya, pagi itu (13/5) Wenny Angelina (38) bersama dua putranya hendak mengikuti misa di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Mereka rutin mengikuti misa sesi kedua yang selalu digelar pada pukul 07.30 WIB. Kala jarum jam menunjukkan angka 07.00 WIB, mereka bertolak ke gereja yang berada di Jalan Ngagel Madya No. 1, Gubeng, Surabaya. Walaupun jarak tempuh antara rumah dengan gereja hanya 10 menit, Vincentius Evan (11) akan merengek ketika mereka berangkat terburu-buru. “Kalau sama si kakak gak boleh terlambat, harus tepat waktu,” kata Wenny saat dikunjungi IDN Times di kediamannya.

Wenny juga ditemani seorang keponakan kecilnya, Evelin. Mereka bertolak ke gereja diantar oleh dua sanak familinya. “Kami hanya di-drop, kemudian mereka berdua ibadah ke Klenteng,” tutur Wenny. Biasanya, sang suami, Erry Hudojo menemani keluarganya beribadah. Akan tetapi, sejak Sabtu (12/5) Erry merasa tidak enak badan. Sehingga ia memilih beristirahat di rumah. Suasana pagi itu terasa begitu syahdu. Lingkungan gereja dipadati jamaah yang berlalu Lalang usai mengikuti misa sesi pertama. Penjaga parkir tampak sibuk mengarahkan mobil yang hilir-mudik. Tak ketinggalan dua polisi yang berjaga setiap akhir pekan. “Sama sekali gak ada firasat atau tanda-tanda terjadi sesuatu,” ujar Wenny.

Wenny bersama para jagoannya tiba di gereja sekitar pukul 07.14 WIB. Setelah berjalan beberapa langkah melewati pos penjaga, ia mendengar keributan yang disebabkan oleh dua pengendara motor. Saat itu, Wenny menduga mereka hanyalah pemuda yang gagal mengendalikan kecepatan.

“Aku kira motor itu remnya rusak. Ada sekuriti juga yang meneriakkan ‘hei hei’ gitu,” imbuhnya singkat. Dengan sigap Wenny menarik ketiga putra kecilnya agar terhindar dari tabrakan motor. Saat ia hendak menoleh ke belakang, tak ada lagi yang ia lihat selain cipratan darah yang menutupi kaca matanya. Tak ada yang ia dengar melainkan tangisan Nathanael Ethan (8), putra keduanya, menyebut namanya sembari merintih kesakitan.

 

1. Peristiwa terjadi begitu cepat

Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke SurgaIDN Times/Faiz Nashrillah

Tepat pada 07.15 WIB, dua ledakan dahsyat menghantam Gereja Santa Maria Tak Bercela. Aksi terorisme tersebut didalangi oleh Yusuf Fadil (18) dan FH (16), dua pemuda yang dianggap Wenny mengalami kerusakan motor. Mereka adalah putra dari Dita Oepriarto, pentolan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur.

Suasana menjadi tidak karuan. Kepulan asap hitam menaungi gereja. Seluruh jemaat panik mencari keluarganya yang terpisah. Bukan hanya cipratan darah yang berceceran, sebagian organ tubuh juga terpisah dari pemiliknya. Seluruh mobil yang terparkir membunyikan alarmnya.

Masih teringat dengan jelas bagaimana detik-detik bom menghujam Wenny dan kedua anaknya, “Saat bom meledak, badan aku terhempas ke depan. Suara-suara menjadi terdengar kecil sekali. Kaca mataku kotor karena darah. Yang terngiang di kepala cuma tangisan si kecil, berarti dia nangis kesakitan keras banget kan.”

2. Evan meninggal di tempat kejadian

Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke SurgaIDN Times/Vanny El Rahman

Ledakan pagi itu membuat Wenny terluka parah. Seluruh tubuh bagian kirinya terkena serbuk-serbuk kecil yang terkandung di dalam bahan peledak. “Mulutku juga robek,” katanya. Begitu pula dengan pergelangan kaki kanannya. Selain luka fisik, batin Wenny juga terpukul.

Dalam keadaan panik, ia hanya mampu mengingat wajah sang kakak. Sedangkan, pada saat itu Evan merasakan sakitnya serpihan bom di bagian kepala dan punggungnya. Walau darah tak banyak mengucur, Wenny harus rela kehilangan Evan saat itu juga.

“Dokter bilang serpihan kecil masuk ke bagian vital di otaknya, ada juga di pipinya, tembus gitu. Lukanya kecil, cuma darah terus mancur dari otaknya,” kata sang ibu seolah mengingat kejadian Mei 2018 silam. “Walau kata dokter Evan masih bernapas di rumah sakit, aku yakin dia sudah gak ada sejak ledakan,” ujarnya lirih.

3. Wenny dan anaknya dilarikan ke RS Bedah

Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke SurgaIDN Times/Faiz Nashrillah

Mereka semua dilarikan ke Rumah Sakit Bedah Surabaya untuk mendapat pertolongan pertama. Apa yang Wenny pikirkan hari itu adalah bagaimana anak-anaknya segera ditangani. Ia sama sekali tak merasakan sakit, kecuali setiap kaki kanannya melangkah. Kecintaannya terhadap buah hatinya menghilangkan seluruh keluh-kesah terhadap apa yang dia derita.

Wenny bahkan tak ingin dioperasi sebelum mengetahui kondisi anak-anaknya. “Aku ngotot mau nemenin anakku operasi. Tapi dokter bilang luka aku parah, jadi aku harus segera dioperasi,” tutur dia. Situasi rumah sakit juga dipenuhi oleh korban bom. Wenny menunggu giliran untuk memasuki ruang operasi. Rupanya, dia bersama Nathan berada di ruangan yang sama. Sadar akan keberadaan putranya, akhirnya dia kembali mengingat wajah si kecil.

“Nah, saya ternyata satu ruangan dengan Nathan. Saya minta siapa saja tolong jangan ninggalin dia. Aku bilang ‘aku gak perlu dijaga, bila perlu aku yang temenin si kecil’, tapi gak boleh,” cerita Wenny meniru kejadian di rumah sakit hari itu.

4. Nathan meninggal karena kehabisan darah

Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke SurgaIDN Times/Vanny El Rahman

Si bungsu menderita luka parah di kaki kanannya akibat pisau lipat di dalam bahan peledak. Mukanya juga bengkak. Setibanya ruang ICU, pihak keluarga dihadapkan dengan pilihan yang berat. Kaki kanan Nathan harus diamputasi agar bisa selamat.

Sepakat dengan saran dokter, rupanya Tuhan memiliki kehendak lain. Nathan tidak bisa ditolong karena pembuluh darahnya sudah terlanjur memimpih. Ia meninggal dalam kondisi kehabisan darah. “Setelah selesai operasi malam harinya, aku langsung ke ICU nemuin Nathan. Aku sadar kalau waktu itu dia sudah gak ada,” tambah dia.

Tiga hari pertama di rumah sakit adalah masa-masa tersulit bagi Wenny. Perawakan Yusuf dan FH masih terbayang jelas di alam sadarnya. “Aku sampai ingat dia itu pakai baju apa, kalau dikasih gambarnya aku pasti tahu,”. Rasa jengkel, sedih, dan heran semuanya bercampur aduk.

Kehilangan dua anak dalam satu waktu adalah ketakutan bagi setiap ibu. Lambat laun ia sadar bila merelakan kepergian Evan dan Nathan adalah suatu keharusan. Dalam hatinya, Wenny menaruh kekhawatiran akan rasa dendam sebagai penghalang kedua putranya menuju surga. Kerinduan yang tak tertahankan akhirnya membawa Wenny berkunjung ke ruang pendingan pada Selasa (15/5).

“Aku mangkel bukan ingin balas dendam, tapi heran kenapa kok mereka jahat banget. Dalam hati aku ingin banget bertemu anak-anak. Sampai akhirnya aku bertemu anak-anak hari Selasa. Melihat mereka di ruang pendingin sebelum dimasukkan ke peti membuat semua rasa marahku hilang,” kata Wenny.

Baca Juga: Bom GKI dan Car Free Day yang Urung di Jalan Diponegoro

5. Wenny mulai ikhlas namun sang suami sangat terpukul

Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke SurgaIDN Times/Stella Azasya

Dalam sekejap, ia lupa dengan tampilan para pelaku. Kondisi psikis Wenny semakin membaik. Sebelumnya, Ratna Handayani menyampaikan bila kakak iparnya itu sering memimpikan kedua anaknya dan menjerit ketika sadar bahwa itu hanyalah bunga tidur belaka. “Naluri seorang ibu wajar ya. Perkembangannya bagus setelah mengampuni pelaku,” ungkap Ratna.

Erry sepertinya jauh lebih terpukul. Ia menyesal karena tidak ikut mengantarkan istri dan anaknya ke gereja saat itu. Dengan kaos dan celana hitamnya, tatapan matanya tampak kosong saat tiba di rumah sakit pada hari pertama.

Sulit baginya untuk percaya bahwa keluarganya menjadi korban dari aksi terorisme. Sebagai seorang ibu dan istri, Wenny adalah perempuan yang kuat. Bangkit dari keterpurukan, ia menjadi sosok yang memberikan semangat kepada sang suami untuk merelakan kepergian putranya.

“Suamiku terpukul karena dia sakit Sabtu-Minggu itu. Dia sampai bilang ‘Kalau sama aku biasanya kita parkir di belakang gereja, jadi gak akan kena bom,” ujar Wenny meniru percakapan dengan suaminya. “Yang namanya ada bom, kalau sudah waktunya di mana aja bisa kena,” jawab Wenny.

6. "Tuhan pasti punya maksud baik"

Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke SurgaIDN Times/Stella Azasya

Ia selalu mengatakan bila ini adalah rencana Tuhan. “Aku gak mau lebih banyak nangis. Aku harus menghilangkan rasa bersalah suamiku. Aku selalu bilang, Tuhan memang gak mungkin berniat buruk kepada hamba-Nya. Tapi kalau begini takdirnya, pasti Dia memiliki maksud baik."

Di samping itu, Wenny tidak bisa menapik penyesalan Erry yang amat mendalam. Sebagai kepala keluarga, ia bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.

Kesibukan Erry setiap harinya mengurangi waktu bermain bersama dua anaknya. Kadang kala, ketika sang ayah pulang ke rumah, ia mendapati kedua anaknya tertidur pulas di pelukan sang ibu. Saat ia bangun keesokan harinya, Evan dan Nathan telah berangkat sekolah.

Nathan dan Evan Sudah Dijemput Tuhan ke SurgaIDN Times/Deby Amaliasari
https://www.youtube.com/embed/ZpQRvMCoOyM

Baca Juga: Bom Gereja Pantekosta, Perenggut Nyawa Si Tukang Parkir Cilik

Topic:

  • Faiz Nashrillah

Just For You