Malang, IDN Times - Makin banyaknya referensi terkait Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) membuat orangtua semakin memiliki kesadaran pada perkembangan anak. Namun di saat yang sama membuat orang tua mudah melakukan self diagnose pada anak. Tentu ini menyebabkan resiko salah diagnosa dan salah penanganan.
Psikolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Maliki Ibrahim (Maliki) Malang, Fuji Astutik menjelaskan kalau ADHD adalah defisit perhatian yang membuat seseorang sulit sekali memusatkan perhatian, atau dia tidak bisa duduk dengan tenang. Pada anak-anak, mereka biasanya memiliki tanda tidak bisa memusatkan perhatian dan tidak bisa mengendalikan perilakunya.
"Tapi itu di usia tertentu seperti pra sekolah, sampai pada usia 7 tahun biasanya mereka belum bisa memusatkan memperhatikan. Biasanya terlihat saat usia 3-5 tahun dia suka berpindah-pindah. Tapi kalau sudah dalam tahap mengganggu sekitarnya, itu yang perlu diwaspadai," terangnya saat dikonfirmasi pada Minggu (12/03/2023).