Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Ia mengatakan kalau mendapatkan kepastian nasib anaknya ada Agum Gumelar pada 2019 lalu. Agum Gumelar mengatakan melakukan video yang beredar bahwa para aktivis 98 sudah tewas. Video tersebut beredar saat menjelang Pemilihan Presiden yang dimenangkan kembali oleh Joko Widodo.
"Justru ada video Agum Gumelar, dia (Bima) sudah dihabiskan, sudah dibantai. Kasar sekali itu, tapi ini yang ngomong jenderal, enggak mungkin jenderal ini ngomong asal-asal, kita percaya," ucapnya.
Pada 2020 ia juga sempat bertemu Agum Gumelar di Kantor Staff Presiden. Tapi ia tidak mengatakan apapun soal nasib anaknya.
Kini ia menegaskan telah lelah orang-orang yang menjanjikan akan mencari keberadaan Bima. Ia mengatakan teman-teman Bima di Surabaya pernah membawa satu bendel surat-surat Bima untuk disusun, tapi nasib surat-surat itu tidak jelas seperti keberadaan Bima juga saat ini.
Namun, sedikit kepedihan Utomo sempat terobati ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengucapkan permintaan maaf terhadap keluarga korban 1998. Jokowi juga mengeluarkan Perpres Nomor 17 tahun 2022 tentang pengadilan non yudisial.
"Dalam hal ini pemerintah dalam berbagai kasus, seperti kasus Semanggi 1 dan 2, Tragedi 65. Korban dan keluarga korban akan diberi jaminan dana pemulihan," bebernya.
Terakhir, Utomo menyampaikan sangat bangga kepada Bima di manapun kini ia berada. Menurutnya Bima telah memberikan kontribusi bagi perjuangan demokrasi di Indonesia.
"Kalau tahu pidatonya di Surabaya luar biasa betul-betul pemicu pergerakan demokrasi. Di PRD dia sebagai penghubung atau kurir, konsisten dia makanya diminta ke Jakarta karena argumentasinya juga kuat," pungkas pensiunan pegawai RSJ Lawang ini.