Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Kisah Para Perempuan Tangguh, MenggeraKkan Ekonomi dengan UMKM

Upik dan Irul, dua perempuan yang menjadi motor penggerak ekonomi di komunitas mereka. IDN Times/Faiz Nashrillah
Upik dan Irul, dua perempuan yang menjadi motor penggerak ekonomi di komunitas mereka. IDN Times/Faiz Nashrillah

Surabaya, IDN Times - Setelah belasan tahun aktif dalam pergerakan buruh, Choirul Mahpuduah (45) akhirnya memilih jalan lain. Ia menggelar lapak makanan di daerah Rungkut Surabaya pada 2001 lalu. Namun, layaknya pedagang kaki lima pada umumnya, Irul, begitu ia disapa, kerap menjadi sasaran gusur Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). “Sedikit-sedikit digusur,” ujarnya saat berbincang dengan IDN Times. 

Empat tahun menjadi PKL dirasanya cukup. Apalagi, bukannya untung, Irul malah kerap menanggung kerugian karena harus sering berhadapan dengan Satpol PP. Akhirnya pada tahun 2015 ia banting setir memproduksi kerajinan tangan. Selain lebih aman karena tak khawatir Satpol PP datang, produk ini juga lebih tahan lama karena tak basi. Ia pun  mengajak beberapa warga di daerah tempatnya tinggal di Rungkut Lor, Surabaya. Sayangnya, usaha ini juga berjalan tak lama karena perputaran uangnya dianggap terlalu lama. 

Tak habis akal, Irul kemudian pun menginisiasi berdirinya sebuah kelompok perajin kue. Dengan modal patungan sebesar Rp150 ribu, Irul dan dua rekan lainnya nekat memulai usaha ini. Meski sempat mendapat tentangan, inisiatif ini pun didukung oleh warga sekitar. Selain menjadi sumber penghasilan tambahan, adanya kelompok ini juga menghindarkan mereka dari para rentenir.

"Selama ini hidup mereka terjerat bunga rentenir," ujarnya. Anggota kelompok usaha kue ini adalah ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan. Mereka hanya mengandalkan gaji suami untuk hidup. Akibatnya, kebanyakan dari mereka bergantung pada rentenir.

Setelah berjalan hampir dua dekade, usaha Irul mulai menampakkan hasil. Jumlah perajin kue yang dibinanya kini sudah hampir mencapai 100 orang. Bahkan, modal bergulir yang awalnya hanya Rp150 ribu, kini lebih dari Rp25 juta. "Modal ini kami pinjamkan secara bergilir. Kelompok kami sekarang juga sudah berbadan hukum, berbentuk koperasi,” kata dia. Tempatnya tinggal saat ini bahkan sudah dikenal sebagai Kampung Kue Rungkut, Surabaya.

Sederet penghargaan pun sudah menjadi koleksi Irul saat ini. Yang terbaru, ia terpilih menjadi 1 dari 3 orang yang diganjar predikat #shemeansbusiness 2018 dari Facebook. Irul dianggap menjadi sosok perempuan yang mampu menjadi penggerak ekonomi bagi lingkungannya.

Usaha pemberdayaan yang dilakukan oleh Irul bukan berarti tanpa halangan. Pandemi COVID-19 kemarin misalanya. Wabah ini membuatnya nyaris gulung tikar, penjualannya turun hingga 90 persen. Bahkan, saat pemerintah mulai melonggarkan aturan pembatasan, kondisi tak juga berubah. Pembeli yang datang kepadanya tak seramai sebelum pandemi. Irul mengaku sempat pusing dan mencari berbagai cara untuk menarik pelanggan. Belakangan, ia sadar bahwa pandemi memang benar-benar menciptakan New Normal alias kebiasaan baru. “Selama pandemi kan banyak yang di rumah, banyak yang kreatif. Bahkan, banyak akhirnya bikin kue sendiri. Ibaratnya, gak perlu ke Kampung Kue, sudah bisa bikin sendiri,” ujarnya.

Tapi Irul tak ciut nyali. Ketimbang menyalahkan keadaan, Irul memilih memutar otak, mencari inovasi. “Ya ini salah satu tantangannya sebagai pengusaha. Justru ini momen untuk terus mengembangkan diri,” kata dia. Selain inovasi produk, Irul juga terus mencari cara memasarkan produk untuk menggaet konsumen baru.

Gayung pun bersambut, di tengah usahanya bangkit dari keterpurukan pandemi, Bank Rakyat Indonesia (BRI) datang ke kampungnya. Bank plat merah ini memberikan berbagai bantuan prasarana pada tahun 2021 kepada warga Kampung Kue. Tak hanya itu, para pelaku UMKM yang berada di sana juga mendapatkan pelatihan digital marketing. 

“Kami dilatih menggunakan penggunaan aplikasi localoka,” kata Irul. Aplikasi milik BRI ini menjadi wadah para UMKM binaan untuk memasarkan produknya. “Kami diajari gimana caranya memfoto yang baik, lalu memasarkan produk ke aplikasi itu,” Irul menambahkan. 

Cerita inspiratif penggerak motor perekonomian juga datang dari bernama Upik Zuraidah (37). Perempuan Surabaya ini menjadi motor dari para perempuan pengusaha ikan asap di daerah Kenjeran. Sempat berjuang keras lantaran ditinggal sang suami wafat, Upik kini justru menjadi inspirasi bagi orang sekitarnya. 

Inisiatif memberdayakan warga sekitar sebenarnya datang dari kisah yang ia alami sendiri. Sebagai seorang istri, kebanyakan perempuan di sana hanya mengandalkan hasil melaut para suami. Sayangnya, hasil dari pekerjaan nelayan kerap tak bisa menghidupi keluarga. Beberapa perempuan sebenarnya juga mencoba membantu perekonomian dengan menjadi produsen ikan asap. Lantaran hasil ikan juga tak seberapa, aktivitas usaha ini juga tak lancar. 

Upik kemudian mencari cara agar ia dan perempuan lain di sana bisa memproduksi ikan asap secara reguler setiap hari. “Akhirnya saya datangkan ikan air tawar dari luar kota,” kata Upik. Langkah ini pun direspons baik oleh warga setempat. Sejak saat itu Upik menjadi pemasok ikan utama bagi mereka. 

Upaya Upik pun mendapat apresiasi dari BRI. Ia mendapatkan bantuan permodalan, dan didapuk menjadi ketua saat BRI membentuk klaster usaha di sana. Klaster ini juga diberikan pelatihan dan sarana usaha. “Setelah ada klaster ini kami jadi tahu banyak hal, seperti bagaimana cara packing ikan yang bagus,” ujarnya.

Upik pun kini tinggal menuai hasilnya. Dalam sebulan ia bisa meraup omzet hingga Rp30 juta. Meski berstatus orangtua tunggal, ia tetap bisa mandiri, bahkan menjadi motor pemberdayaan warga sekitar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us