Sidoarjo, IDN Times - Usia pensiun memang identik dengan beristirahat. Di usia ini, banyak orang berpikir untuk mengurangi aktivitas mereka. Namun, hal ini tak berlaku bagi Nurul Aida Ketimbang menyudahi kegiatan produktif, ia justru memulai usaha dan menata hal baru.
Aida yang dulunya merupakan karyawan perusahaan asuransi jiwa memilih mundur saat usianya menjelang setengah abad. Aida pun menjatuhkan pilihannya pada bisnis kue kering. Ia merintis usahanya sejak tahun 2021. Alasannya sederhana, sebagai penghobi baking ia ingin kegemarannya itu bisa menghasilkan uang.
Tapi, misi sebenarnya tak cuma cuan. Aida ingin bisnisnya bisa menjadi investasi masa depan. “Kalau cuma jualan kan mudah. Saya mau jadi investasi ke depan dan bisa diturunkan. Harus dikelola dengan benar,“ ujarnya, Jumat (13/5/2023).
Namun, Aida sadar bahwa mewujudkan cita-citanya itu bukan perkara mudah. Hobi dan keterampilan membuat kue kering saja tak cukup. Ia pun mengembangkan jejaring dengan mengikuti berbagai komunitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Bertemulah dia dengan komunitas UMKM Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Sidoarjo. Ia bahkan kemudian terpilih menjadi salah satu peserta BRIncubator, sebuah program inkubasi bisnis untuk UMKM yang digagas oleh bank plat merah itu.
Di sana, Aida mengaku mendapatkan berbagai pengetahuan, terutama soal pemasaran digital. Ilmu itu ia terapkan betul untuk menjaring pembeli yang kebanyakan adalah generasi muda. Usahanya pun kian hari semakin lancar. “Yang penting usaha saja dulu. Saya percaya rezeki sudah ada yang ngatur,” ujarnya. Kegigihannya banyak mendapat apresiasi, terutama dari para pelanggan. Namun, bagi Aida, yang paling penting adalah tetap bisa mandiri di usia pensiun.
Cerita sama juga datang dari Sunarmi. Perempuan yang juga berasal dari Sidoarjo ini juga memilih tetap berwirausaha di usianya yang sudah tak lagi muda. Perempuan berkepala enam ini memilih memproduksi stik ikan untuk mengisi hari senjanya. Tak sekadar berbisnis, Sunarmi adalah penggerak UMKM di desanya.
Ia menginisiasi terbentuknya kelompok usaha olahan ikan yang terdiri dari ibu rumah tanggak di sekitar rumahnya. Inisiatif itu, kata dia, muncul usai ia melihat banyak ibu rumah tangga yang menganggur. Bersama sembilan orang lain ia kemudian mendirikan sebuah kelompok usaha. Dari beberapa kali percobaan, akhirnya stik ikanlah yang paling menguntungkan.
Keberhasilan Sunarmi ini sampai di telinga Dinas Perikanan Sidoarjo. Kelompok ini pun mendapatkan bantuan alat produksi. “Setelah itu masuk ke komunitas UMKM BRI. Bisa pamer produk di berbagai bazar,” kata dia. Kemudian, lewat BRIncubator pula, ia mendapat berbagai pelatihan dan jejaring baru. “Sekarang sudah ada izin PIRT, SNI, sudah lengkap pokoknya,” kata dia.
Bagi Sunarmi, berbagai keberhasilan pemasaran itu cuma bonus. Yang terpenting menurut dia adalah bisa bermanfaat bagi banyak orang. “Pokoknya bagaimana caranya sisa usia saya ini bisa bermanfaat,” ujar Sunarmi menutup perbincangan.
Ditemui terpisah, Pimpinan Cabang BRI Sidoarjo, Luthi Riza Hartawan mengapresiasi kegigihan UMKM yang tergabung dalam BRIncubator. Menurut dia, BRI membuka pintu lebar bagi siapa saja, tak terbatas usia untuk menjadi pengusaha. “Segala macam pelatihan yang diinginkan ada semua. Kita datangkan pakarnya. Siapapun boleh memanfaatkan,” ujar Luthfi