Inkubasi Bisnis UMKM, Berjejaring Dulu Go Digital Kemudian

Sidoarjo, IDN Times - Merintis usaha ternyata tak melulu soal modal dan keberanian. Jejaring dan pendampingan juga menjadi hal wajib, terutama bagi para pengusaha yang bisnisnya masih berskala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Itu pula yang dirasakan oleh Titin Nur Faizah.
Pengusaha keripik tempe asal Sidoarjo ini mengakui pentingnya pendampingan untuk pengusaha kecil macam dirinya. Terlebih, produsen keripik tempe tidak bisa dibilang sedikit. Ia harus berebut konsumen dengan pelaku bisnis lain. "Jika tidak punya inovasi tentu akan tertinggal," kata Titin, kepada IDN Times, Selasa (23/5/2023).
Titin pun kemudian bergabung dengan komunitas UMKM di Sidoarjo yang dibina oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI). Di sana ia mendapat berbagai pembinaan melalui program inkubasi bisnis UMKM, BRIncubator. Salah satu hal penting yang ia dapatkan dari pelatihan itu adalah soal branding. "Dulunya kan cuma pakai bungkus plastik, di BRIncubator diajari soal cara membuat kemasan yang menarik," ujarnya.
Tak cuma memoles kemasan, Titin mengaku mendapat ilmu tentang cara mengelola media sosial yang tepat. "Sekarang usaha makin lancar setelah ada perubahan branding. Kami juga diajarin bagaimana menghitung margin yang benar," dia melanjutkan.
Titin pun kini makin percaya diri. Keripik tempe yang terlihat sederhana, di tangannya menjadi kudapan yang lebih mewah. Ia berinovasi dengan menciptakan keripik tempe rasa udang dan bandeng. Ia ingin mengangkat dua komoditas tersebut karena merupakan ciri khas Sidoarjo. Dengan bibir tersungging, Titin pun membeberkan hasil kerja kerasnya selama ini. “Lumayan, kini sebulan rata-rata omzetnya Rp3 jutaan dapatlah.”
Cerita Titin diamini oleh Sarifatus Sa'diyah. Perempuan yang biasa disapa Sari ini juga merasa bahwa keberadaan pendampingan yang dilakukan oleh BRI melalui BRIncubator membawa banyak manfaat untuk kelangsungan bisnis kue kering dan browniesnya.
Mulanya, kata Sari, ia buta soal platform digital. Seperti UMKM lain, ia hanya mengandalkan pemasaran melalui WhatsaApp. Namun, berbagai pelatihan yang ikuti di BRIncubator membuka cara berpikirnya, termasuk bagaimana caranya bersaing di tengah zaman yang serba canggih. “Jawabannya adalah digitalisasi,” ujar perempuan 50 tahun ini.
Meski begitu, Sari tak mau asal dalam menerapkan digitalisasi pada usahanya. Ketimbang memaksakan mengelola media sosialnya sendiri, Sari memilih menggandeng content creator untuk mengurusi pemasaran digital produknya. “Saya ditawari sebulan delapan konten. Soalnya kalau gak dipasarkan kaya gitu banyak yang gak tahu, Sedangkan seumuran saya kan udah gak bisa,” ujarnya.
Senaliknya, dari pelatihan itu Sari juga mendapat pesan penting soal digitalisasi. "Digitalisasi juga bikin saingan makin banyak. Banyak saingan yang menurunkan harga tapi mengesampingkan kualitas," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Cabang BRI Sidoarjo, Luthi Reza Hartawan mengatakan bahwa BRIncubator menjadi salah satu dukungan BRI terhadap para pengusaha, terutama mereka yang baru memulai bisnis saat pandemi COVID-19 datang. "Kan pada saat bermunculan pelaku usaha baru. Biasanya mereka memulai usaha karena dipecat saat pendemi. Nah itu kita bantu permodalan dan pelatihan," ujarnya.
Tak cuma saat merintis usaha, BRI juga membantu mereka saat memasarkan produk. "Begitu mereka sudah punya link, kita lepas. Butuh modal, kita kasih," kata Luthfi.